Money Talks: Ketika Si Kecil Hadir

Memiliki anak adalah salah satu hal yang paling membahagiakan, membanggakan, dan mengharukan bagi semua orang. Rasa cinta, kasih sayang semua ditumpahkan pada mereka. Buat saya, salah satu bentuk cinta dan kasih sayang itu adalah menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Bentuk tanggung jawab ini tidak bisa dipungkiri adalah menjadi orang tua yang memiliki perencanaan keuangan yang baik untuk anak-anaknya.

*gambar dari sini

Mengapa memiliki/berencana memiliki anak perlu perencanaan keuangan yang baik?

Ingat, bahwa kewajiban orang tua tidak hanya ‘menghadirkan’ anak ke muka bumi ini, ya. Tapi lebih dari itu, anak harus dibesarkan dan dididik untuk menjadi manusia yang mandiri, sehat, dan berkarakter. Menjadi mandiri, artinya kita mengharapkan anak-anak ini supaya nantinya anak-anak ini juga menjadi orang dewasa yang  bertanggung jawab terhadap keluarganya nanti. Untuk menjadi manusia yang yang mandiri, siapa lagi kalau bukan orang tua yang menjadi contoh awalnya? Menjadi sehat dan berkarakter, artinya anak-anak ini butuh diberikan nutrisi yang baik dan diberikan pendidikan baik dari sisi akademik maupun non-akademik yang baik.

Hubungannya dengan perencanaan keuangan? Memberikan nutrisi yang baik, memberikan pendidikan dengan baik, atau lingkungan (rumah) yang juga mendukung value kita, tentunya membutuhkan persiapan keuangan yang matang. Apakah pendidikan/lingkungan yang baik sama dengan biaya yang besar? Not necessarily, tapi seringnya ya. Oleh karena itu, penting untuk menjabarkan mimpi-mimpi tersebut dalam bentuk angka, sehingga kita tahu untuk mengejarnya bagaimana dan berapa lama.

Lebih dari itu, sebagai orang tua, dengan membuat perencanaan keuangan yang baik bagi anak-anak kita, kita memberikan contoh dan benchmark buat mereka. Being financially secured adalah bentuk kemandirian, dan dengan memberikan contoh ini kepada mereka, tentunya harapan kita adalah mereka juga akan melakukan hal yang sama.

Kapan memulainya?

Idealnya adalah ketika sudah menikah dan berencana memiliki anak. Tapi, memulai ketika masih single juga gak masalah, kok. Secara psikologis, menyiapkan dana untuk anak jauh sebelum anak itu lahir akan memberikan ketenangan yang luar biasa. Belum lagi ‘cicilan’ investasi yang jauh lebih rendah dibandingkan jika memulai investasinya pada saat anak sudah lahir.

Dan untuk memulai menyiapkan dana untuk anak ini tidak pernah ada kata terlambat, ya. Jika anak sudah masuk SD, pe-er kita masih banyak lho, dari SMP sampai Kuliah. Pastikan pos-pos tersebut sudah kita siapkan dengan baik?

Dana apa saja yang musti disiapkan?

Yang pertama kali kita lakukan adalah melakukan disuksi dengan pasangan kita mimpi apa saja yang ingin kita capai ketika si anak ini lahir. Mulai dari memilih rumah sakit tempat melahirkan, sekolah di mana, bahkan sampai rencana menikahkan mereka di mana juga boleh.

Tujuannya bukan mendikte anak ini nantinya untuk masuk ke sekolah yang Mommies pilih, ya. Tapi ketika pilihan itu dibuat, maka konsekuesinya adalah menyiapkan dananya. Angkanya harus terukur, dan waktu pencapaiannya juga jelas. Oleh karena itu dengan merealisasikan semua ini dalam bentuk angka, maka akan jelas apakah pilihan-pilihan tadi feasible atau tidak.

Ketika semua feasible, maka semua tenang. Tapi kalau tidak? Set your priorities. Tidak apa-apa kok, kalau dana nikahnya belum siap, tapi dana pendidikannya sampai SMP sudah bisa dikerjakan.

Menjadi orang tua memiliki tanggung jawab yang besar itu benar adanya. Sisi finansial menurut saya adalah sisi yang ‘mudah’ karena semuanya bisa terukur secara kuantitatif. Perencanaan keuangan yang baik untuk anak harus dimulai dari awal, sehingga rasa takut  tidak mampu membesarkan anak dapat kita kurangi – atau lebih bagus lagi, kita hilangkan. So, segera buat tujuan finansialnya dan yang paling penting jalankan implementasinya!

*Penulis, Reliza Arfiani (Icha- @relizakodri) adalah Planer di QM Financial. Icha menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia. Kemudian meneruskan S2 di International University of Japan di Niigata, Jepang.


Post Comment