Tidur Sendiri, Siapa Yang Takut? Ibunya!

“Tidur Sendiri” dalam kasus Shera nggak benar-benar berarti tidur tanpa ada siapa-siapa di dalam kamarnya, ya.  Ada si Mbak yang menemani di ranjang terpisah.  Fungsi si Mbak selain menemani Shera, juga membawa si bayi jika menangis atau haus, ke kamar saya untuk disusui.  Saya dan suami berpikir ini penting untuk transisi.  Mungkin nanti saat Shera umur dua tahun dia baru akan kami biasakan untuk benar-benar tidur sendiri tanpa teman agar dia punya sense of independence and privacy sejak dini.

Lalu, bermasalahkah Shera dalam pergantian suasana ini?  Yang biasanya tidur di tengah-tengah Ibu dan Ayah lalu tidur di ranjangnya sendiri?  Ternyata… tidak sama sekali.  Bisa dibilang, pergantian suasana ini hampir tak ada pengaruhnya bagi si bayi.  Yang bermasalah siapa dong?

*tunjuk tangan*

Seumur hidup saya tak pernah menyangka akan sedemikian sulitnya ‘berpisah’ dengan anak masalah kamar tidur.  Sejak bayi saya sudah tidur terpisah dengan ibu saya, dan hal ini selalu membuat saya yakin bahwa saya pun bisa melakukannya dengan Shera.  Tapi ternyata saya ya saya, bukan ibu saya.  Jadi malam pertama berpisah dengan Shera diwarnai dengan derai air mata ibunya, yang tak bisa tidur lalu pindah ke kamar anaknya untuk ikut tidur sambil memeluknya di boksnya yang berukuran ‘raksasa’ itu sampai pagi.

Photo by @tissarahman

Entahlah, sebenarnya saat itu tak ada alasan yang membuat saya sampai sedemikian takutnya.  Yang ada hanya perasaan sentimentil sedih ‘ngelangut’ melihat tempat tidur saya dan suami yang biasanya di bagian tengahnya ada bayi dan saat itu kembali kosong.  Memang nggak boleh melodramatis, tapi bagaimana dong, itu yang saya rasakan.

Malam kedua, saya menguatkan hati untuk tetap pada prinsip saya memindahkan Shera ke kamarnya.  Caranya adalah menidurkannya di kamarnya, lalu keluar kamar saat ia tertidur.  Works like a charm.  Lalu saya?  Masih sedih, masih menangis, tapi sukses bertahan di kamar dan tak merasa perlu mengendap-endap masuk ke kamar Shera lagi.

Malam ketiga masih sama, tapi saya udah nggak pakai acara nangis lagi.  Yay!

Teman-teman dekat yang punya bayi dan balita pun banyak bertanya pada saya soal tidur terpisah ini.  Pertanyaan paling banyak yang saya dapat adalah: Shera nangis nggak?  Masih minta nyusu tengah malam nggak?

Saya bersyukur sejak lahir Shera termasuk ‘easy baby’ yang nggak hobi bikin ibu ayahnya begadang.  Kalau pun dulu saya selalu bangun sekitar jam 3 pagi, itu karena Shera masih saya susui 3 jam sekali.  Setelah melalui usia 3 bulan, frekuensi menyusu Shera menurun di malam hari dan mulai banyak di siang hari.  Di usia yang keenam bulan ini, Shera tidur jam 9 malam dan baru bangun minta susu sekitar jam 4.30 pagi, tepat waktunya saya memang harus bangun untuk bersiap-siap siaran jam 6 pagi.

Rewelkah saat pertama tidur di kamarnya sendiri?  Tidak, karena sejak pulang dari rumah sakit, Shera selalu dibiasakan mandi di kamarnya ini walau tidur siang dan malam masih di kamar saya.  Jadi sepertinya dia sudah familiar dengan suasana kamarnya.

Bagaimana dengan separation anxiety? Mungkin bedanya di negara barat sana dengan di sini adalah support system. Di sana, bayi lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibunya sehingga bisa histeris jika terpisah sekejap saja.  Sementara dalam kasus Shera dan mungkin sebagian anak lain, support system selain ibu di rumah ada pengasuh, Eyang dan lain sebagainya.  Jadi anak biasa terekspos ke beberapa orang dekat yang bukan ibunya, sehingga separation anxiety tak terlalu terasa.

Yang anxious dalam kasus Shera ya ibunya.  Hahaha.  Sungguh tak terduga, ya?  Kesimpulan sederhana saya adalah, mungkin yang membuat kita sulit tidur terpisah dengan anak bukanlah anaknya, tapi kita sendiri yang belum tega. Tenang, ibu-ibu, lama-lama biasa kok.  I should know :D

Ada yang juga lagi mikir-mikir mau misah tidur dengan anak?  Share yuk cerita-ceritanya :)

 


10 Comments - Write a Comment

  1. Bener banget mbak, yg berat berpisah justru ibunya, makanya sampai saat ini aq blm misahin tidur anakku, pdhal umurnya dah 2 taun.. Kayaknya kalo udah ngerti gitu malah lbh susah yaa.. Mungkin alternatifnya aq mau buat connecting door aja, biar pisahannya gak berasa bgt ;)

  2. jadi dulu sejak Leia usia 1 tahun, sempet tuh “pisah kamar”. Leia bobok di box-nya sendiri ditemani si mbak di kasur sendiri. dan karena sejak usia setahun Leia udah ngga asi, jadi saya minta sekitar jam 3-4an pagi saat dia suka bangun utk minum susu, Leia dipindah ke kamar saya.

    beberapa bulan berhasil walo diawal2 ya sedih karena udahlah saya kerja seharian, eehhh tidur terpisah pulak.. tapi kekeuh karena demi kebaikan anak dan semuanya. dan semuanya berjalan lancar..

    etapiiiiii, karena pemikiran “udahlah saya kerja seharian, masak tidur juga harus pisah juga?” itu kembali lagi di bulan ke 5 atau 6, akhirnya sampe sekarang Leia 2 tahun 5 bulan kembali dan masih tidur sama kita dan sekarang lagi kebingungan karna untuk ngajarin tidur sendiri lagi buat dia nanti bakal usaha keras nih hahahaha..

    my bad :p

  3. hhihi jd inget pas malem pertama lahiran chacha. chacha demam karena dehidrasi, trus dbawa ke ruang perawatan.. malem itu kita tidur kepisah, chacha di ruang perawatan dan saya tetep di kamar. sedihnya g ketulungan.. rasanya pengen buru – buru jemput…

  4. Ya, ini masih bayi. Gue yang anaknya udah 5 tahun aja, masih lebayatun. Haha. PR dari usia 4 tahun, nih!
    Semalam, Langit udah mau tidur pisah kamar. Pas dianya udah mau, guenya yang, engg… hahaha!
    Tapi mungkin gue menganut paham yang “nanti akan ada saatnya malah kita yang nggak boleh masuk ke kamarnya” :'((

  5. Allow me to correct. In Europe it’s quite usual to have babies sleep in their own room after two weeks or even less. Even newborns would be placed in a crib NEXT to the parents’ bed, not sharing the same bed with the parents.

    Why? Because babies have to become independent ASAP.

    1. Kita kan bicarain pengalaman pribadi sebagai ibu di Indonesia, yang umumnya memang masih tidur satu ranjang bersama anak bukan mengenai kultural disini dan disana

      IMHO, jangan samakan kultural di Eropa dan disini, parenting ditiap negara unik, karena budayanya berbeda2. Bukan masalah yang ini benar atau yang itu salah

  6. Kalo tidur di tempatnya sendiri, Menik udah belajar bobok di box-nya sejak lahir, sih, pas jam tidur siang hehehehe.. Tapi kalo malem, ya, balik ke kamar gue+suami, karena gak ada asisten yang bisa bantu jaga di kamarnya. Lagian gue gak punya simpanan ASIP hahahhaa (pemalas) jadi nyusuin sambil tidur adalah salah satu trik untuk menjaga kewarasan tubuh demi kualitas tidur yang maksimal. Capek soalnya, gak ada yang bantu jagain, gak ada yang bantu bersih-bersih, belum mampu rasanya kalau harus tidur tapi sambil pasang kuping apakah si anak bangun atau tidak :p Alhamdulillah, sama kayak Shera, Menik kalo udah tidur ya bablas sampe jam 4 atau 5 pagi, bangun sekali (itupun jarang) hanya untuk minta susu, abis gitu lanjut tidur lagi.

    Rencananya, Menik mau diajarin tidur malam sendiri kalau mulai masuk TK. Rencananya, ya :)) Karena rasanya, gue menganut paham yang mirip sama Lita “nanti tiba saatnya, si anak punya kehidupan sendiri” kan bisa kangen bgt rasanya kruntelan sambil nyusuin :”)

  7. Selarut malam ini masih googling ttg pisah tidur sama anak. Buat Haniya 3,5 th msh sekamar sama kami. Tp ya kdg di atas kadg di bwh. (bed nya yg 2 tumpuk gt), Klo pisah kamar belum bisa, walau kamar udh di siapin buat haniya, tp msh di ikhlaskan utk tantenya. Jd bersabar smp tante nya menikah dan akhirnya kmr kembali ke pemiliknya. Jd aku sama suami menyiasati buat sekat, pemisahan antara ruang tidur Haniya dan ruang tidur kami. Suami g setuju ttg hal ini, katanya buat sempit aja. Hmmm….akhirnya di ksh pilihan, buat desainnya dulu. Klo oke lanjut, klo gak tgg smp kamarnya ready, Ada yg bisa bantu ga?

Post Comment