(Terpaksa) Sectio Caesaria

Tak pernah ada dalam pikiran saya dan mungkin hampir semua ibu hamil untuk mengakhiri kehamilannya secara Sectio Caesaria (SC). Bagaimana mungkin sempat terpikir untuk mengakhirinya dengan jalan seperti itu kalau ini adalah kehamilan pertama.

Terlebih lagi, ada ‘mitos’ kalau anak pertama melahirkan secara caesar, anak kedua dan seterusnya harus caesar kembali, meskipun pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Toh, banyak juga ibu-ibu yang saat melahirkan anak pertama dengan jalan caesar, saat anak kedua bisa melahirkan secara normal.

“Ah.. gak enak lahir caesar, sembuhnya lama!” ucap seorang kawan

“Ah.. kalau caesar gak ngerasain jadi ibu dong.. perjuangan menjadi ibu kan saat kita merasakan sakit luar biasanya persalinan!” pukulan telak seorang kawan ini membuat hati ibu seperti saya sedih :(.

“Nanti gak bisa punya banyak anak dong.. banyak anak banyak rezeki loh… soalnya kan kalau pernah caesar gak boleh hamil lagi hamil lagi..” tambah seorang kawan yang membuat hati saya makin menciut (sejak awal menikah saya ingin punya banyak anak.. hiks..)

Komentar kawan yang pertama saya aminkan, karena memang luka caesar pastilah lebih lama untuk sembuh dibanding luka robek di jalan lahir. Meskipun post caesar (pascacaesar) 1 hari saya sudah bisa jalan ke kamar mandi, mandi dan melihat bayi saya yang sedang dimandikan di ruang bayi. Seminggu post partum (nifas 1 minggu) saya sudah bisa masak di dapur, membuat sarapan dan bekal makan siang untuk suami dan mencukur rambut bayi saya.

Komentar kawan yang kedua saya interupsi habis-habisan! Siapa bilang saya tidak merasakan perjuangan seorang ibu saat melahirkan seorang bayi, meskipun ya, saya memang tidak merasakan bagaimana sakit luar biasanya persalinan (dari pembukaan 1 sampai lengkap yang memakan waktu berjam-jam dan durasi mulas yang semakin sering dan lama), bagaimana rasanya mengedan dan rasa lega serta plongnya tubuh setelah kepala bayi lahir. Saya memang tidak merasakan itu, karena saya melahirkan dia (Haekal) saat usianya masih 35 minggu 3 hari dalam kandungan. Prematur. Haekal lahir prematur, dokter menyarankan pada saya untuk segera mengakhiri kehamilan (terminasi) karena preeklampsia berat (PEB), bahasa awamnya keracunan kehamilan yang saya derita. Penyakit ini ditandai dengan tekanan darah yang meningkat, ditemukannya senyawa protein dalam urine dan retensi (penumpukan) cairan dalam sel tubuh. Biasanya ibu-ibu hamil yang menderita PEB ini mengalami bengkak di kaki, tangan bahkan wajah. itulah yang terjadi pada saya. Hiks… sedih? Sangat sedih..

Meskipun sampai saat ini para peneliti belum menemukan penyebab keracunan kehamilan, tetapi risiko bisa meningkat pada kehamilan pertama (karena ini penyakit kelainan trofoblast-placenta-) dan diperparah dengan beban kerja dan tingkat stres berlebih. Hal inilah yang saya langgar, tidak mengurangi aktivitas selama hamil karena merasa sok kuat, ditambah pakai acara pindahan rumah segala, jadilah tekanan darah saya yang sebelum hamil hanya 110/80 mmHg meningkat drastis menjadi 180/120 mmHg saat masuk rumah sakit. Bengkak di kaki dan tangan pun semakin menjadi, nomor sepatu yang semula 39 menjadi 41 pun tidak muat.

Saat masuk rumah sakit, saya langsung mendapat penanganan intensif, karena kasus saya ini sudah masuk ranah gawat darurat! Segala belalai (selang) dihubungkan ke tubuh saya, tangan kanan dipasang manset sphygnomanometer (tensimeter), tangan kiri dipasang infus, perut saya dipasang CTG (monitoring kesejahteraan janin) dan, hiks, ini yang paling saya tidak suka, dipasang kateter urine (selang saluran kencing). Argh… kalau ada yang bilang saya nggak merasakan perjuangan seorang ibu? Kok, teganya?

Belum lagi, untuk menurunkan tekanan darah, saya harus diinfus drip (pemberian obat lewat infus) obat penurun tekanan darah (agar saya tidak kejang) yang ternyata menimbulkan efek panas yang luar biasa, sekujur tubuh sampai aliran darah saya rasakan panas! Dua hari berturut-turut rasa panas itulah yang saya rasakan.

Setelah 2 hari terapi obat yang panas itu, dokter memutuskan untuk segera terminasi (pengakhiran) kehamilan, mengingat kondisi janin saya bagus dan kondisi tubuh saya pun membaik. Masuk kamar transit di ruang operasi ditemani suami tercinta, hati saya entah kenapa sedikit lega, mungkin pasrah. Yang saya pikirkan saat itu adalah semoga saya bisa melihat wajah bayi saya, sehingga bius spinal (separuh badan) yang saya minta, masalah nanti saya bisa bangun lagi atau tidak, saya pasrah. Perjuangan hidup dan mati bukan?

Di ruang operasi, saya sempat kaget. ternyata asisten DSOG saya ternyata laki-laki, saya pikir DSOG akan diasisteni oleh dokter yang perempuan juga. Perjuangan lagi, kan -menahan malu- di meja operasi. Tapi sudahlah, saya sudah pasrah. Saya masih sadar waktu itu, dan seolah kaki saya terasa hilang kemudian disusul perut saya yang dikoyak-koyak, bahkan saya sempat melihatnya di pantulan lampu operasi. Saya masih sadar!

Beberapa menit kemudian, saya dengar tangisan keras seorang bayi lalu mendapatkan bayi mungil berkulit pink di dada saya. Alhamdulillah.. ia menangis kuat! Seorang bayi prematur yang mungil menangis kuat tanpa harus “dipaksa” menangis oleh dokter anak. Setelah itu, melihatnya menggapai-gapai kedua payudara saya, saya mengantuk dan tertidur.

Saat berada di kamar transit ruang operasi saya terbangun. Sendirian. Sepertinya seluruh keluarga saya termasuk suami saya lebih fokus memikirkan bayi saya dari pada saya. :(. Beberapa saat kemudian, DUAR! Bekas sayatan bisturi ini luar biasa sakitnya. Rasa sakit ini terus berlanjut, keesokan harinya saya memaksakan diri untuk ke kamar mandi (alasan utamanya, saya nggak nyaman dengan selang kateter ini, sakit dan linu!). Setelah DSOG visit, beliau menyetujui keinginan saya untuk mencoba turun dan melepas selang “menyebalkan” itu.

Dan…. voila! Saya berhasil turun dari tempat tidur, mandi dan buang air secara normal kembali, meski sambil meringis menahan sakit bekas sayatan bisturi itu. Perjuangan berat, kan, Mommies? :)

Kembali ke komentar yang ketiga, nggak bisa punya banyak anak? Jawabannya, iya. Kalau persalinan kedua nanti secara caesar juga, berarti 2 kali caesar, anak ketiga harus caesar juga, setelah itu, biasanya dokter menganjurkan untuk mengikuti “kontap” (kontrasepsi mantap). Namun, doa saya pada Allah SWT, agar kehamilan saya yang kedua nanti berjalan lancar, sehat dan persalinan bisa normal. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? Maka dari itu, persiapan kehamilan dan persalinan yang kedua nanti akan saya persiapkan sebaik-baiknya. Mohon doa, ya, Mommies!

*thumbnail dari sini


6 Comments - Write a Comment

  1. *izinberpelukan* :’) saya 4x sc dan sdh steril, khamilan tarakhir juga prematur krn plasenta previa, plasenta menempel pd jaringan parut bekas operasi sebelumnya..dulu sik iya sempet ngerasa ga PD jd ibu krn ngelahirin SC, makin kesini yasudahlah, SC/normal itu cara melahirkan bayi dalam rahim ibu..yg penting adl bagaimana selanjutnya, mendidik dan membesarkan mereka :)

  2. Toss dulu ahh :D
    Saya jg paling sebel klo ada yg bilang nglahirin sc tu ga ngrasain jadi ibu krn ga krasa sakitnya..Hhhh..*gmn kaga sakit, wong dibuat ketawa + batuk + nyusui skaligus mompa asi aja langsung nyut-nyutan tu jaitan, blm lg kateter sialan itu bikin males mo pipis krn bayangin ngilunya*….
    Mo normal mo sc tetap seorang Ibu, krn jadi Ibu ga cuman pas nglahirin aja…krn disebut Ibu tu dari mulai hamil, nglahirin, nyusui smp ndidik anak jd makhluk yg berguna, smp nafas yg terakhir pun tugas Ibu kagak pernah selesai…ceilee..

  3. duh…meringis sambil bacanya, emang ya perjuangan sc tuh kayaknya lebih berat daripada normal. alhamdulillah saya bisa normal, paling masa2 paling berat tuh pas lagi kontraksinya aja, ngerasain 2 hari ga bisa tidur gara2 kontraksi. tapi setelah lahir, blasss……..leganya…..semua sakit saat konraksi hilang pas anak udah keluar :D
    Setuju sama mommies diatas, pada dasarnya mau sc ataupun normal + bisa ASI ataupun sufor yang terpenting bagaimana cara kita bertanggung jawab sama anak kita kedepannya dan kita tetaplah IBU buat anak kita.

  4. iewww.. brasa lagi ngilu2nya..
    saya caesar 4 bulan yg lalu. selama hamil saya prepare benar2 demi bisa lahiran normal, scara kata DSOGnya posisi janin saya udh engaged di panggul tinggal nunggu waktu. ternyata sampai 41 minggu sma sekali belum ada kontraksi, padahal persediaan ketuban saya sudah menipis. jadilah akhirnya tanggal 23 januari 2013 saya masuk ruang operasi. saya bengong di atas meja operasi. ga kepikiran bila akhirnya saya ada disini..
    siapa bilang ga ngerasain sakit? baru masuk ruang operasi saja udah diserang dingin luar biasa, nyaris saya pikir saya akan hipotermia dsana (lebay..), belum lagi suntikan sana sini,kateter, nyeri post caesar…
    samaaa ibu…ibu….setuju sama Mommy Lina, yg terpenting bagaimana kedepannya kita merawat dan membesarkan anak kita..

  5. Saya jg trpaksa SC krn PEB,ktauannya pas udah ke RS mau induksi krn kandungan lewat waktu, ternyata hasil lab menunjukkan PEB&langsung operasi hari itu jg. Jd agak trauma malah sm operasi. Skrg lg hamil anak kedua, planning VBAC,doakan bisa normal yah!

  6. Sy juga terpaksa SC dan bete banget sy komen2 speerti yg mbak tulis,, heuuhhh brasa yg normal paling bener sedunia jagat raya! -,-”
    kita juga gak semena2 minta SC, bukan kehendak kitapun utk SC, dan yg SC juga kan tetep seorang ibu,, setelah bayi itu lahir, penderitaan qta pun sama dengan ibu2 yg lahiran normal (puting lecet, baby blues)… gregetan ih klo ada yg ngomong kaya gitu.. errrrr…..

Post Comment