It Takes a Village…

To raise a child.

Menurut saya pepatah Afrika ini sangat sesuai dengan program Tango Peduli Gizi 2013.
Jika di tahun pertama Tango hanya fokus pada pemulihan kondisi 572 anak yang kurang gizi, tahun 2011 Tango mengasuh 25 keluarga yang berkomitmen untuk mengikuti program pemberdayaan keluarga, maka tahun ini nggak tanggung-tanggung mereka mengadopsi satu desa sekaligus!

Sebelum kunjungan saya ke Nias pertengahan Mei kemarin, Yuna Eka Krustina, Head of Corporate and Marketing Communications OT Group, sudah bercerita sekilas mengenai program Tango Peduli Gizi ini. Reaksi saya? Terharu karena Tango konsisten ingin mendidik masyarakat di Nias dan gembira karena masyarakat Nias berkesempatan untuk memperbaiki taraf hidup mereka.

Desa yang diadopsi namanya Desa Banuagea terletak di Nias Utara, atau sekitar 1 jam dari pusat kota Nias, Gunung Sitoli. Desa ini terdiri dari 6 dusun berpenduduk 2.938 jiwa dari 647 kepala keluarga. Mata pencaharian penduduknya kebanyakan adalah petani karet dengan penghasilan tak menentu.

Inilah yang menyebabkan walaupun hanya 1 jam jaraknya, tapi kondisinya menyedihkan dan jauh berbeda dengan pusat kota. Selain itu, lokasi dusun-dusun ini memang cukup mencengangkan. Kami perlu berjalan minimal 2km untuk mencapai lokasi yang dimaksud. 2km-nya jangan dibayangkan seperti jalan di Jakarta, ya, Mommies. Tapi kami harus naik turun bukit, pokoknya lokasi yang nggak kebayang ada dusun di situ lah. Salah satu rekan bilang, “Saya rasa mereka belum pernah merasakan kehidupan yang merdeka itu seperti apa..”

Rumah pertama yang kami kunjungi adalah milik keluarga Fotani Gea.
Saat pertama tiba di lokasi, saya sama sekali tak menyangka bahwa bangunan tersebut adalah rumah tinggal. Beberapa teman yang ikut perjalanan ini malah mengira ini adalah proyek MCK yang sedang dibangun oleh Tango. Bagaimana tidak, ‘rumah’ tersebut luasnya hanya 2x2m! Bahkan kamar mungil anak saya jauh lebih lega daripada bangunan ini :'(
Yang mengejutkan lagi, rumah itu dihuni oleh keluarga dengan 5 anak! Kebayang nggak, gimana mereka tidur? :'(

Permasalahan gizi di Nias, hingga saat ini memang masih menjadi fokus utama dari kegiatan Tango Peduli Gizi. Kendati dikelilingi lahan yang subur, Nias masih menjadi salah satu provinsi yang menghadapi masalah gizi buruk.

Tapi, selain gizi, Tango Peduli Gizi tak hanya menitikberatkan programnya ke sini. Ada juga program lain seperti:

  • Pendampingan. Yaitu penyuluhan gizi serta pola hidup sehat. Tak hanya program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), tapi Tango juga mengadakan penyuluhan bagi keluarga di desa yang diadopsi bagaimana mengolah bahan makanan yang tersedia di sekeliling mereka secara baik dan benar.

*ibu-ibu di dusun 1 Banua Gea sedang mendengarkan penyuluhan. Hari itu materinya mengenai kebersihan mulut dan gigi

  • Renovasi rumah. Ada beberapa rumah di desa Banua Gea yang direnovasi rumahnya. O, ya, sebagai catatan, renovasi rumah ini nggak seperti di tayangan televisi Bedah Rumah, ya, di mana si penghuni duduk manis kemudian rumahnya jadi layak tinggal. Melainkan, si penghuni ditanya mau apa saja yang diperbaiki, kemudian Tango melalui OBI (Obor Berkat Indonesia- LSM partner Tango dalam pelaksanaan Tango Peduli Gizi) yang menyediakan bahan-bahan untuk renovasi rumah. Cara ini menurut saya sangat mendidik, karena si keluarga juga harus berusaha melakukan pembenahan dan belajar mengatur sanitasi serta ventilasi di rumahnya.
  • Pemberdayaan ekonomi. Jika tahun lalu hanya diberikan pada 25 keluarga, maka tahun ini, per dusun diberikan bantuan bibit ternak ayam dan sayuran. Warga diajari bercocok tanam yang baik dan benar sehingga mereka bisa melakukannya di pekarangan rumah. Hasilnya, bisa dimakan sendiri atau dijual.

  • Perbaikan prasarana kesehatan. Ada 5 puskesmas pembantu yang diberikan alat kesehatan agar mereka bisa membantu warganya lebih cepat. Kondisi lokasi yang berjauhan menyebabkan warga yang sakit/ akan melahirkan tak tertolong :(. Saya jadi ingat cerita di sebuah desa di Nias, ada ibu yang ingin melahirkan di tengah malam, tapi karena letak rumahnya yang jauh di atas bukit, ia tak mungkin memanggil bidan desa. Ia pun pergi memangggil dukun beranak. Tapi ketika ia sampai di rumah, sang istri sudah melahirkan anaknya dengan selamat dibantu oleh si sulung yang duduk di kelas 2 SD.

    Saya akui, program adopsi desa ini brilliant. Apalagi dengan adanya program pendampingan terhadap warga Nias, yang menurut saya masih sangat minim pengetahuannya mengenai gizi, pola hidup sehat, dan lain sebagainya.Program ini tak lain agar anak-anak di Nias bisa mendapat kualitas hidup yang lebih baik lagi. Aduh, kalau saja saya bisa mengungkapkan perasaan saya dengan kata-kata saat menatap mata bening anak-anak ini, menggendong atau mengobrol dengan mereka ke Mommies semua, ya… *dada tiba-tiba sesak*

    Yang saya harapkan, sih, setelah program adopsi desa ini penduduk desa Banua Gea jadi lebih cerdas dan meningkat taraf hidupnya. Semoga hal ini kemudian bisa menular ke desa-desa lain supaya kasus gizi buruk nggak lagi banyak ditemui di Nias. Dan hopefully, di Indonesia. Amin.

    Merujuk pada judul, kita yang di kota besar saja paham, bahwa membesarkan seorang anak nggak bisa sendirian. Anak, pasti akan bersosialisasi dan keluar dari kotak kenyamanannya. Di sinilah pepatah tua itu berbicara, “it takes a village to raise a child..”