Belajar Jujur

Saat membaca artikel “Cerita dari Cerita Orang lain..” entah kenapa, memori saya seakan me-rewind saat masa kuliah dulu.

Ceritanya, sih, bukan masalah hamil di luar nikah, tapi lebih bagaimana ayah saya bisa menerima kesalahan saya perbuat saat dulu. Jadi waktu itu, saat kuliah dan menjalani KKL, saya terpaksa banyak bolos beberapa mata kuliah. Soalnya saya mengambil kuliah praktik di salah satu stasiun TV yang mengharuskan saya datang ke kantor dan liputan hampir setiap hari.

Ujung-ujungnya, saya nggak bisa mengikuti final test dua mata kuliah. Karena memang saat ujian nilai saya cukup bagus, kok, ya nggak rela ya kalau saya akhirnya nggak bisa ikutan ujian akhir?

Setelah mendapatkan informasi dari sana sini, saya pun akhirnya memutuskan untuk membeli kartu ujian palsu. Konon kabarnya, setiap semester ada saja yang melakukan hal ini, dan semuanya lolos tanpa diketahui pihak kampus. Seakan mendapat hawa segar, saya pun akhirnya ikut-ikutan membuat kartu palsu tersebut hingga akhirnya saya bisa ikut ujian akhir.

Tapi, yang namanya nggak jujur emang pasti jalannya nggak akan mulus ya? Saya pun apes. Pas lagi bikin kartu ujian palsu, pas di semester itu juga pihak kampus mengetahuinya! Seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang bandel ini pun akhirnya dipanggil ke kampus, termasuk saya! Aaaah, ternyata ganjaran bener-bener bikin nyesek.  Semua mata kuliah yang saya ambil semester itu mendapatkan nilai E. *mewek*

Setelah dapat sidang di kampus, saya pun pulang dengan mata merah dan bengkak. Ya, pastilah waktu itu mama saya tanya, “Kamu kenapa?” sambil mewek, saya pun menceritakan apa yang terjadi. Untung saja, mama saya nggak marah, waktu itu beliau cuma bilang, “ya, sudah bilang sama ayah, ya…. lebih baik ayah tahu dari mulut kamu sendiri.

Waaah, ini bagian yang paling berat buat saya. Bisa dibilang hubungan saya dengan ayah nggak  terlalu dekat.  Bisa dibilang Ayah saya termasuk tipe lelaki yang sedikit kaku. Saya jarang sekali bersenda gurau sambil tertawa terbahak-bahak bersama beliau. Ya, kalaupun ngobrol, paling hanya selewat saja. Nggak sampai pada tahap proses curhat, hahahaha. Mungkin karena memang dari sananya, anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ibunya kali, ya?

Waktu mau cerita, deg-degannya minta ampun. Mungkin lebih deg-degan saat saya saya ingin menikah. Yang ada di bayangan, saya pasti akan kena  damprat habis-habisan. Ya, orang tua mana sih yang nggak akan kesal kalau ternyata biaya satu semester yang sudah dikeluarkan untuk anaknya akan sia-sia. Belum lagi kalau mengingat waktu itu saya membutuhkan uang tambahan untuk biaya KKL.

Intinya, waktu itu saya sudah menyiapkan kuping saya dan kata-kata maaf. Tapi, ternyata apa tanggapan ayah saya waktu itu? Beliau justru akhirnya memeluk saya yang sedang sesenggukan, dan bilang “Ya sudah, ini kan semua sudah terjadi. Dengan peristiwa ini justru akhirnya kamu jadi belajar kalau sesuatu yang dilandasi dari kebohongan itu ujung-ujungnya akan buruk,”

Pengalaman itu pun membuat saya jadi lebih banyak belajar. Biar bagaimanapun juga, lebih baik berkata jujur, dan menanggung risikonya.  Daripada terus berbohong yang membuat hati jadi nggak  tenang. Lagipula, bohong itu kan capek, yah? Biasanya, kalau awalnya sudah bohong pasti akan ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lainnnya.

Meskipun rasanya mengajarkan untuk bersikap jujur jauh lebih sulit ketimbang mengajarkan pelajaran matematika, tapi saya berusaha mulai menerapkannya pada Bumi sejak dini. Ya, sebagai orang tua, tentu harus dimulai dari kita lebih dulu. Saya yakin, dalam hal sekecil apapun, anak yang biasa berkata jujur bisa bertanggung jawab dalam hal-hal kecil  dan akan dipercaya untuk melakukan hal-hal yang besar.

Aaaah, saya jadi benar-benar terharu kalau mengingat kejadian ini…. :’)


4 Comments - Write a Comment

  1. gimana yaa bikin anak berani jujur?
    mungkin kita udah contohin, tapi karena kadang kita suka lebay nanggepin anak, jadi suka bikin “mending gak bilang ah ketimbang dikomentarin/diledek/dimarahin dll” -_- *PRnya banyak

  2. @ Lita : iya, Lit….. waktu itu bener2 deh bikin gue jantungan. Udh mati2an kerjain tugas KKL di tv, malah nggak taunya jd sia2. Ketauan 2 mata kuliah aja yg gugur…. sebagai orang tua, emang harus bisa berbesar hati ya. Meskipun anak dosanya gedeee bgt, pasti pintu maaf dibukain.

Post Comment