Mommy’s Night Out: Pertunjukan Terakhir Air Supply

Bernostalgia dengan duo legendaris dari Aussie, Air Supply, saat mereka menutup konser Asia mereka di Bandung.

Sebetulnya keinginan saya menonton pertunjunkan duo Graham Russell dan Russell Hitchcock itu justru memuncak saat awal tahun 2000-an. Pasalnya saat itu mereka konser ke Singapura dan radio tempat saya dulu sempat bekerja, menawarkan pada para penyiarnya untuk meliput gratis ke sana. Sayangnya waktu itu nggak jodoh.

Fast forward ke awal Mei lalu, saat tidak berharap, undangan menikmati konser mereka justru datang dengan sendirinya, hihihi… Alhamdulillah, senang juga sambil bertanya-tanya dalam hati setua apa mereka sekarang.

Konsernya sendiri bertajuk Journey of The Legend with Amanda Brownies dan bertempat di The Grand Ballroom The Trans Luxury Hotel Bandung. Jadwalnya sih harusnya jam 7 malam tapi pintu baru dibuka jam 8.30 malam.

Yang kocak, gara-gara sebal terlalu lama menunggu, penonton mulai gelisah dan terdengar sebuah suara teriakan marah yang sepertinya, sih, dilontarkan dengan niat bercanda, “BUKA, SEBELUM ANARKIS!!!” LOL … lucu banget karena mengingat ini konser…Air Supply!

Teriakan itu sempat jadi hiburan sebelum akhirnya pintu dibuka. Sekitar 1200-an penonton masuk ke The Grand Ballroom The Trans Luxury Hotel yang didesain serba megah dan berkesan grand. Di dalam ballroom, sambil menunggu konser di mulai, mata saya jelalatan mengamati interiornya. Sebuah lampu yang desainnya mengingatkan saya akan bros, hanya saja dalam skala yang jauh lebih besar, menempel di langit-langitnya yang tinggi.  Menarik banget melihatnya karena penuh ukiran dan dengan bagian kaca lampu yang berwarna merah gelap dan putih mutiara. Glamor.

Akhirnya tidak lama kemudian MC mendaulat Air Supply ke atas panggung yang langsung membuka dengan lagu Even The Nights Are Better.  Penonton spontan ikutan bersenandung. Reaksi saya? OMG, they are OLD. Hahaha… maksudnya, saya tahu mereka memang sudah tua, tapi melihatnya langsung, tetap saja mengejutkan karena mereka sudah setua itu.

Setelahnya Just As I am, Every Woman in The World, dilantunkan dan reaksi saya berubah menjadi kagum oleh vokal Russell yang tetap prima. Setelah lagu ketiga ini mereka mulai menyapa kami para penonton. Russell Hitchcock tampil elegan dengan setelan jas serba hitam, dan Graham juga tampil serba hitam walau gayanya cenderung lebih ngerock dan sok asik hahaha…

Lalu mereka membawakan Here I am, Chances, Dance with Me, The Power of Love. Mereka berdua nggak segan-segan bikin “kerusuhan” dengan cara turun panggung dan menyambangi penonton. Terang saja aksi ini bikin heboh dan penonton pun berebutan salaman. Acara mereka turun panggung ini membuat penonton mengekor di belakang dan akhirnya berhenti di depan panggung sembari sibuk memotret dan merekam penampilan mereka.

Setelahnya Graham tampil sendirian memperkenalkan sebuah lagu baru yang belum pernah direkam berjudul Me and The River. Lagu balada ini kata Graham inspirasinya dari sebuah sungai di Santiago, bahwa hidup manusia itu mirip seperti sungai, ada yang jernih/kotor, deras/lambat.

Ketika Russell muncul lagi, setelannya sudah jauh berubah menjadi kemeja bermotif cerah  yang santai, membuat dia kelihatan betul-betul seperti turis Australia di Bali.  Two Less Lonely pun dibawakan, diikuti dengan hits The One That You Love yang bikin satu ballroom ikut bersenandung. Lost in Love, Sweet Dreams dibawakan setelahnya, lalu diikuti oleh lagu yang begitu mendengar intronya saja riuh dan histeria penonton tertuai: Making Love Out of Nothing At All.

Setelahnya mereka pamitan pura-pura. Lalu muncul lagi setelah seisi ballroom berteriak-teriak, “We Want More”… Ya iyalah we want more… Goodbye belum keluar! :)

Mereka berdua kembali muncul dengan intro Goodbye yang langsung bikin semua hadirin mellow terbawa nostalgia. Buat saya, lagu ini hits ketika saya masih SMP, mendengarkannya secara langsung dibawakan oleh mereka rasanya sensasional sekali. Ah ya, sebetulnya saya tidak terlalu nge-fans sama mereka. Tapi berdiri di bibir panggung dan tangan Russell nggak pernah berhenti menyalami penonton di bibir panggung, saya jadi ikutan latah kepingin salaman hahaha… kapan lagi kan ya? Eh, kena juga salaman sama kakek yang tangannya dipenuhi tato ini, hehe.

Setelahnya mereka menutup konser ini dengan All Out of Love dan menghilang di balik panggung dalam deru riuh tepuk tangan kami para penonton. Kejutan lainnya, karena berdiri di depan panggung, setelah bubaran, saya sengaja menunggu sampai ada teknisi yang beres-beres untuk meminta set list konser mereka dan… dapat! Yaaay…. sebagai konser junkie, mengumpulkan memorabilia seperti ini dari konser memang saya sengaja untuk kenang-kenangan buah hati tersayang nantinya. Saya pikir lucu juga nanti kalau dia besar, dia punya koleksi hasil pampasan ibunya nonton konser atau mewawancarai musisi  dalam ataupun luar negeri.

Mommy’s night out saya malam itu diakhiri dengan menyesap mocktail di The 18th Lounge and restaurant yang terletak di lantai 18 The Trans Luxury Hotel. Lounge ini keren banget, deh, Mommies karena walaupun ada di daerah Selatan Bandung, tapi bisa memberikan view citylights yang cantik dan romantis.  Rekomen banget buat disambangi kalau ke Bandung sekedar minum mocktail atau light bites-nya. Kalau sudah di The 18th, jangan lupa untuk foto-foto di balkon kaca khas mereka. Wah asli mommies, seru banget, berdiri di balkon kaca ini kita bisa melihat sampai jauh ke bawah dan sekalipun sangat aman, tetap memberikan banjir adrenalin dari ketakutan yang nggak rasional saat berjalan di atasnya. Saya merasa kayak peserta Amazing Race hahaha… tapi walau deg-degan, senang banget bisa foto di balkon terkenal ini. What a refreshing mommy’s night out!

 

 

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment