BBM (Bincang Bincang Malam)

Chatting di dunia maya makin mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Itu sih pendapat saya berdasarkan pengalaman pribadi hehe. Dengan adanya sarana chatting online maupun mobile saat ini seperti YM, WhatsApp, BBM, Line dan sebagainya membuat kita dapat berkomunikasi dengan teman sewaktu sekolah, kuliah bahkan berkenalan dengan orang-orang baru. Begitu juga dengan saya dan suami. Setahun yang lalu kami, tepatnya saya, sempat benar-benar terbawa arus maniak chatting mobile, setiap beberapa detik rajin lihat recent updates profil teman chat saya, rajin broadcast massage info-info sale, dan bergosip ria di group chat mulai dari teman sekolah, kuliah sampai teman kantor.

*gambar dari sini

Nah, parahnya saya (jangan ditiru, ya), sering lebih fokus ke handphone ketimbang ke suami. Suami saya, sih, nggak pernah protes secara langsung. Tapi suatu hari ketika chat saya lagi sepi, saya lihat suami sibuk dengan handphone-nya yang selalu bunyi tang ting tung tiap beberapa detik sekali. Saya agak bete dan jealous karena suami fokus ke handphone terus. Saya bilang, “Bi, kamu kok dari tadi matanya ke HP terus?” Suami malah langsung ketawa sambil bilang, “Ya nih, lagi seru chatting group sama teman, kenapa? Bunda cemburu?” Terus suami lanjut bilang, “Baru saja Abi sebentar coba bunyikan notifikasi chat group, Bundanya sudah bete, gimana Abi yang tiap hari dengar tang ting tung dari HP-mu?” (Jleb,berasa ditampar eike). Hahaha, ternyata suami saya selama ini memperhatikan gerak gerik saya pas chatting dan merasa diabaikan. Maafkan daku suamiku.

Akhirnya saya dan suami memutuskan tidak menggunakan ponsel yang memiliki messenger tersebut lagi. Dan sekarang chat yang biasa saya lakukan dengan teman-teman saya dari pagi sampai pagi lagi saya tukar dengan BBM alias bincang-bincang malam dengan suami ketika dia pulang kerja, ya, pillow talk, gitu. BBM ini sangat berhasil meningkatkan kembali intensitas komunikasi saya dan suami. Ternyata seharian beraktivitas masing-masing, membuat kami saling ingin berbagi cerita keseharian yang dialami (dulu-dulu kemane aje, neng :p).

Mulai dari cerita kemacetan jalan saat suami berangkat kerja, kerjaan yang menumpuk, tingkah laku bos, presentasi pekerjaannya sampai cerita makan siang. Hal yang sepele, tapi jadi seru untuk bahan BBM. Saat ini ketika saya tidak bekerja karena sedang program bayi jadi sangat terasa sekali ketika suami pergi rasanya nggak ada teman berbagi. Ternyata waktu yang kita miliki dengan pasangan sangat berharga. Saya sangat menyesali kebiasaan jelek saya di masa lalu perihal chatting. Rasanya, kok, dulu cuek banget sampai suami dicuekin nggak tahu hehehe.

Sekarang setiap hari kami selalu melakukan BBM. Lamanya BBM tergantung kondisi suami lelah sekali atau tidak. Namun pasti setidaknya kami saling bercerita walau hanya sebentar. O, ya, BBM ini juga dapat meningkatkan kualitas hubungan dan romantisme, lho. Kita jadi semakin dekat dan kompak. Jadi kenapa tidak dicoba?


Post Comment