Mikropenis Pada Anak

Setiap orang pasti akan merasa sebal jika dibanding-bandingkan. Demikian dengan saya. Termasuk saat nyokap komentar kalau penis Bumi ukurannya lebih kecil dibandingkan ukuran keponakan saya. Sudah dibandingin, masalah ukuran organ vital, pula!

Memang, sih, waktu itu ibu saya komentarnya hanya selewat saja, tapi tetap saja membuat saya sedikit kesal dan akhirnya bertaya-tanya. Apa iya, ‘aset’ anak saya ini kecil? Mengingat bobot tubuh Bumi yang memang terbilang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan keponakan waktu kecil, rasanya wajar saja, ya, kalau memang penis Bumi terlihat lebih kecil.

Biar bagaimanpun, menurut saya, kelainan pada genital eksternal ini tentu akan sangat mengganggu. Baik untuk pihak orangtua, dan khususnya bagi  penderita. Secara tak sadar hal ini tentu dapat mengganggu emosional mereka, baik dari segi struktur alat reproduksi ini dan mungkin juga akibat yang akan ditimbulkan pada generasi masa depan mereka.

*gambar dari sini

Rasanya hampir di seluruh dunia masih mempercayai mitos yang mengatakan bahwa pria yang mempunyai penis yang besar dapat lebih memuaskan lawan jenisnya. Makin besar penisnya, makin besar pula sifat “macho” seseorang pria. Padahal kenyataannya,secara fisik, sebenarnya ukuran penis tidak menentukan bagi fungsi ereksi dan fungsi seksual pada umumnya, asal perkembangannya sudah mencapai tahap perkembangan yang normal.

Akibatnya, secara psikologis nggak sedikit pria yang merasa ukuran penisnya kecil atau tidak sesuai dengan harapan, lantas mengalami hambatan psikis yang mengakibatkan disfungsi ereksi. Hambatan psikis dapat berupa rasa rendah diri, rasa malu atau tidak percaya diri.

Berdasarkan rasa penasaran, saya pun akhirnya bertanya pada dr. Mulyadi Tedjapranata, MD. Dari beliau, saya mengetahui kalau seorang pria dikatakan memiliki mikropenis apabila panjang penisnya kurang dari 2,5 standar deviasi rata-rata ukuran penis pria normal pada usia tertentu. Acuan ukuran yang dapat dipakai adalah apabila ukuran penis kurang dari 2 cm saat kelahiran, 2,5 cm saat berusia satu tahun, 4 cm pada masa pubertas, dan 10 cm di akhir masa pubertas atau saat dewasa tanpa disertai kelainan struktural penis lain, misalnya hipospadia.

“Mikropenis berarti kelainan dalam panjang penis saja. Definisi tersebut juga mengisyaratkan bahwa definisi mikropenis merupakan suatu definisi statistik sehingga insidennya diperkirakan sebesar 0,6% paada setiap populasi,” terangnya lagi.

Lebih lanjut, dr. Mulyadi Tedjapranata, MD mengungkapkan bahwa ada beberapa alasan mengapa mikropenis bisa terjadi. Antara lain akibat kelainan susunan saraf pusat, akibat kelainan pada gonad, genetik, idiopatik.

Ia menuturkan bahwa pada janin laki-laki, tubercle memperbesar untuk membentuk penis; lipatan genital menjadi batang dari penis; dan lipatan labioscrotal memadukan untuk membentuk skrotum. Pembentukan terjadi selama 12-16 minggu kehamilan dan testikular hormon yang berperan besar dalam keadaan ini.

Testosteron dan metabolite aktifnya, dihydrotestosterone, menentukan stabilisasi dan pembentukan penuh genitalia internal dan eksternal.

Kelainan pada fase inilah yang dapat menyebabkan kelainan kongenital yang dapat berpengaruh besar pada perkembangan fisik maupun psikologis dari si anak sendiri ataupun orang tua mereka. Salah satu kelainan kongenital pada alat kelamin  pria, ya, soal mikropenis ini.

“Umumnya mikropenis dapat disebabkan  karena faktor hormonal sejak seorang anak masih dikandung, salah satunya adalah kekurangan hormon androgen  pada kehamilan dini. Mikropenis juga dapat diakibatkan oleh zat kimia yang disebut endocrine disrupter chemicals (EDC) yang dapat mengganggu atau mengubah fungsi endokrin sehingga terjadi penghambatan kerja androgen, terutama menggangu substansi yang bertanggung jawab dalam pembentukan organ seksual dan perkembangan karakteristik sekunder laki-laki,” paparnya.

Nah, ternyata salah satu contoh EDC adalah zat yang terdapat dalam pestisida  kimia seperti diklorodifenil-trikloroetan (DDT) . Zat pengganggu tersebut dapat bereaksi dengan estrogen atau reseptor androgen serta sebagai senyawa antagonis yang melawan hormon androgen.

Dokter berkacamata ini juga mengatakan pada saya, bahwa adakalanya, anak-anak dewasa dibawa ke dokter untuk evaluasi  karena genitalia yang kecil. Umumnya, sih, anak-anak lelaki ini prepubertal dan gemuk sekali. Hampir semua individu ini mempunyai ukuran penis normal, yaitu  5-7 cm. Dan kenyataan adalah penis mereka “terkubur” di lemak prepubic yang besar karena kebiasan makan yang tidak terkontrol.

“Bagaimanapun, jika penis diukur dan kurang dari 4 cm, maka evaluasi lebih lanjut mungkin diperlukan. Mikropenis seringkali ditemukan pada anak yang menderita hipospadia ini mungkin disebabkan karena mikropenis merupakan kelainan yang menyertai hipospadia.”

Lebih lanjut, anggota Indonesian Association for Ozone Therapy ini menjelaskan bahwa mikropenis bisa disembuhkan. Caranya, dapat ditempuh dengan melakukan terapi hormon sejak dini, bahkan sejak bayi menggunakan intramuskular testoteron atau gel dihidrotestoteron topikal.

“Terapi yang dilakukan ini sebaiknya dilakukan sebelum masa pubertas atau sebelum berusia 14 tahun. Terapi diberikan 4 kali setiap 3 sampai 4 minggu dengan total sebanyak 4 suntikan. Namun terapi harus dilakukkan dengan cara dan dosis yang tepat, apabila terapi diberikan secara berlebihan dapat memacu pubertas. Selain itu, apabila terapi hormon tidak berhasil dilakukan, pengobatan yang dapat ditempuh adalah dengan bedah orchiopexy.”

Nah, Mommies yang punya anak laki-laki, semoga berguna, ya!



One Comment - Write a Comment

  1. wah…saya juga py masalah yg sama nih, tp anak saya Dede sekarang sudah usia 9 tahun. dulu waktu balita, saya sering perhatikan, dibanding dengan ponakan2 saya, memang ukurannya paling kecil. khawatir juga (sekarang masih), trus saya pernah baca di halaman rubrik kesehatan sebuah tabloid yg diasuh oleh Dr. Naek L. Tobing, dibahas ttg mikropenis. Disana dijelaskan, hal ini bisa diobati dgn minum obat + pemakaian salep, dan sebaiknya pengobatan dilakukan sebelum anak disunat. Saya dan suami berniat untuk mencoba, dan menghubungi tempat prakteknya. Ternyata biaya obat+konsul via telponnya (kami domisili di luar pulau) mahal juga…akhirnya kami pending deh..hiks :( Sampai sekarang kami belum mencoba pengobatannya, tapi Dede sudah disunat coz dia ada fimosis juga. Ada saran mom’s??

Post Comment