Belajar Mengejar Zaman

Waktu itu saya menghadiri pertemuan pertama orang tua murid saat Dellynn masuk kelas satu. Obrolan bergulir, dari mulai membahas sistem belajar-mengajar dan relasi sekolah-murid-orang tua, topik pun bergeser ke ‘pintarnya anak sekarang main internet’. Saat di Semarang, jarang sekali Darris (yang saat itu kelas dua SD) bisa mengobrol tentang game dan komputer dengan teman sebayanya. Tapi begitu pindah ke Jakarta, ternyata beberapa teman sekelasnya pun sudah punya Facebook sendiri.

Dari pembicaraan guru dan beberapa wali murid kelas satu, saya mendapat kesan bahwa mereka merasa anak atau keponakannya sudah ‘sangat pintar’ mengoperasikan komputer dan menjelajahi internet di usia TK dan SD. Ibu guru menceritakan pengalaman salah satu wali murid dari tahun-tahun sebelumnya yang mendapati bahwa anaknya ternyata browsing konten yang bukan untuk anak seusianya padahal komputer sudah dikunci. Komputer dikondisikan hanya boleh dioperasikan anak ketika orang tua ada di rumah untuk mengawasi. Ternyata anak tersebut bisa log in dengan menggunakan akun omnya yang tidak terkunci dan sisa hasil Googling masih terbuka.

Lalu yang lain menyambung cerita bahwa anaknya sudah pintar Googling sendiri dan khawatir karena hasil pencarian bisa meleset konteksnya dari kata kunci yang ditulis. Kata kunci yang nampaknya sederhana, tidak ada konotasi negatif pun hasil pencariannya bisa ‘nyangkut’ ke yang ‘enggak-enggak’.

Terus terang saya agak bertanya-tanya mendengar ‘komplain’ ini. Lho;

  1. Memberi akses, kok, nggak memberi batas.
  2. Kok, nampaknya orang tua terkaget-kaget atas apa yang bisa diakses anak.

Jadi saya nyeletuk saja,”Kan, aksesnya bisa dibatasi, Bu. Hasil pencarian bisa di’kunci’ supaya yang keluar hanya konten-konten yang ‘aman'”. Kemudian saya menyadari kalau keadaan jadi terbalik, saya yang dipandang dengan wajah bertanya-tanya *sigh*.

Begitulah, saya baru ‘ngeh’ bahwa kebanyakan orang tua, atau pengasuh anak, walau paham atas apa yang bisa ditampilkan oleh perangkat online, apa yang bisa diakses anak, tetapi mereka tidak tahu bahwa apa yang tampil dapat dibatasi dan dikontrol. Jangan cuma tahu gadget paling baru, paling keren, bisa beli dan sekedar bisa mengoperasikan, lalu saat anak pinjam (lha, wong, memang diisi aplikasi dan games untuk anak juga) dan anak bisa menjelajah sampai kemana-mana, barulah pasang muka kaget-tapi-nggak-tahu-harus-gimana.

Saya beruntung mendapatkan akses komputer di usia dini. Sempat ada masa saya menganggap diri saya kecanduan online karena saya bergantung pada informasi dan komunikasi online (padahal ternyata sekarang ‘semua’ orang begitu, ya :D). Lalu menyadari bahwa saya gadget freak walau modal cekak *sigh*. Sampai saya kemudian bekerja di bidang yang tidak jauh dari IT yang memaksa saya terus mempelajari informasi dan tren IT. Kalau ada informasi yang saya tidak tahu, pun, setidaknya saya tahu kemana harus mencarinya. Sayang tidak semua orang tua memunyai kemewahan ini. Atau lebih tepatnya, tidak semua orang tua mempelajari ini. Baik karena tidak tahu, maupun tidak mau.

Bagi saya, sebelum saya memberikan gadget atau alat/mainan apapun kepada anak, saya harus terlebih dahulu menguasainya. Sama seperti Puan di artikel ini, yang menonton dahulu film yang akan ditonton bersama anak-anaknya. Jadi saya tidak akan ‘kalah pintar’ sama anak. Saya akan bisa one step ahead saat anak mulai out of track, seperti Puan mungkin jadi tahu sebelumnya kapan waktunya harus menutup mata anak saat film berjalan :D. Misal anak mulai ‘nyandu’ satu game, atau tidak berhenti main di depan komputer, saya bisa mengeset mengurangi waktu akses komputernya, atau sekalian saja saya hapus game-nya sampai anak bisa belajar mengatur waktu.

Saya membuatkan akun Facebook anak untuk bermain game online. Karena sejauh yang saya tahu, game online di Facebook lebih terkontrol rating-nya ketimbang di situs-situs game online. Tetapi tidak sekedar membuatkan akun, akun anak-anak saya kunci dan amankan. Sehingga orang asing tidak bisa dengan mudah meng-add tanpa mengetahui emailnya. Akun tidak akan muncul di mesin pencari Facebook bila hanya memasukkan namanya saja. Saya senang ketika hendak meng-add teman sekelasnya untuk partner nge-game, ternyata akun temannya sama susahnya di-search dan add seperti akun Darris. Saya sampai harus menghubungi mama teman Darris untuk minta ijin sekaligus minta email akunnya supaya bisa di-add. Saya senang ternyata yang concern atas keamanan akun anak dan berusaha mencari tahu cara mengamankannya tidak hanya saya saja.

Mulai agak berat memang mengejar perkembangan teknologi belakangan ini. Tapi kalau kita nggak mulai belajar dan menguasainya, lalu siapa yang akan mengontrol aktivitas online anak-anak kita sampai setidaknya mereka berusia 17-18 tahun. Menyerahkan pada warnet? I don’t think so. Melarang anak online, menghilangkan aksesnya ke informasi yang bisa mendukung proses belajar, dan ilmu terbaru? Are you sure?

Saya sendiripun sedang belajar mengejar zaman. Saya yang sering typo, kepeleset melulu kalau harus mengetik di gadget touchscreen, harus belajar. Saya nggak mau kalau nanti (siapa tau) datang saatnya ketika semua device hanya punya touchscreen untuk mengaksesnya dan saya tidak bisa. Iya, kedengarannya lebay, ya, but it might happen. Sekarang pun sudah ada kulkas yang bisa online, lho!
Kalau nggak bisa-bisa juga, saya loncat ke Google Glass saja, deh! *ngimpi*.

Yuk, belajar. Demi anak, lho. Bahkan mungkin demi cucu juga suatu saat nanti.

 

* gambar dan thumbnail dari sini dan sini.


4 Comments - Write a Comment

  1. Setuju, Mak Kir!
    Kita nggak bisa memutus begitu saja akses anak ke dunia maya, tapi kita BISA BANGET untuk membatasi aksesnya. Serem juga lho klo membiarkan anak mengeksplorasi dunia maya tanpa dipandu….apalagi usia kenal gadget sekarang makin dini, ya gara2 kita juga sih yang sering ber-gadget depan anak :p
    jadi kalau mau bercanggih-canggih dengan gadget, maka ada tanggung jawab yang harus diemban ya: selalu update tentang hal baru dalam teknologi :)

Post Comment