Malam Hari

Working parents mean less time together? Tidak tahu, ya, karena saya dan suami bukan termasuk working parentseven preparing to become ones. Tetapi, walau tidak bekerja di luar rumah, kadang saya sudah lelah luar biasa saat suami pulang kerja, yang seringnya menjelang tengah malam. Atau misalnya, saat Sahara, anak kami, rewel seharian tidak mau ditinggal dan saya tidak memiliki waktu cukup untuk kerja freelance di siang hari, sehingga malam hari saat suami pulang, saya malah sibuk.

Yah, begitu, deh. Kelihatannya memang kami, pekerja freelance, dianggap bisa lebih banyak waktu bersama. Padahal, ada saja hal-hal di luar keinginan yang menyebabkan waktu saya dan suami malah berkurang. Kadang saya berpikir, waktu adalah hal yang mudah tapi sering kita persulit, ya?

Akhirnya, bagi saya, for the sake of the marriage, harus rela berkorban banget. Misalnya, saya harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk kejar target deadline harian sebagai prioritas utama kalau Sahara tidur walau sebentar. Karena terkadang, kalau bayi tidur, saya malah asyik mengerjakan yang lain dan melupakan prioritas utama. Jadi, di malam hari saya bisa fokus ke suami bukannya ke kerjaan.

Saya belajar bahwa: waktu tidur bayi adalah investasi waktu ibu.

Dengan begitu, di malam hari, kami bisa menghabiskan waktu bersama, entah hanya lima-belas menit saja karena terkadang mengantuk. Bisa nonton serial, film, ngobrol sampai ngantuk. Apa saja, karena waktu kami sangat berharga. Mau secapek apapun saya di siang hari, kalau bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan suami di malam hari itu worth it, lho! Bukannya jenuh, tapi karena biasanya selalu bersama bayi siang dan malam, kalau lepas itu lega dan berasa muda lagi. Haha! Sejenak, sih, karena setelah itu merasa kangen lagi sama bayi. Begitulah dilema ibu-ibu muda.

*gambar dari sini

Beberapa waktu lalu, saya sengaja titip Sahara pada asisten rumah Mama, yang biasa gendong dia, agar bisa keluar bersama suami. Asyik ya? It’s like decades we didn’t go out just by ourselves, walau sebentar. Apalagi, setelah punya anak, jadwal akhir pekan umumnya selalu kami habiskan bertiga di luar rumah- ini juga menyenangkan tapi pegal luar biasa karena gendong seharian.

Intinya, selalu pergunakan waktu sebaik mungkin. Walau sudah punya ‘buntut’ tapi harus selalu sediakan waktu berdua, karena memang we need that! Ngaku saja, deh. Saya juga masih kangen nonton bioskop dan makan berdua suami di luar. Ya, mungkin nanti nunggu Sahara agak besar supaya tidak merepotkan yang dititipkan.

Kalau bagi ibu bekerja, saya tidak ada bayangan, sih, ya. Tapi saya berharap semoga tetap bisa menghabiskan waktu bersama suami. After all, women are more multitasking-persons than menWe certainly could do it!


4 Comments - Write a Comment

  1. I feel you, deaarrr :’D

    makanya gue suka kesel kalo ada yg bilang “lo kan di rumah, ki? masih kurang waktunya?” Yasalaammm hahahaa.. Yang ada makin kurang aja rasanya karena anak ada di depan mata.

    TFS!

  2. salah satu nasehat nyokap yang gue inget sampe saat ini waktu gue baru nikah (atau baru mau nikah): kamu nanti walaupun udah punya anak harus tetep ada waktu berdua ya sama suami.. ntah makan di luar atau nonton film.. :)

  3. Beberapa waktu lalu, gue lagi nggerasa capeeek banget setiap malam. Yang ada, sampe rumah langsung tidur sambil nidurin anak. Suami gue protes, lah. Akhirnya sekarang, setidaknya 3-4 kali dalam seminggu, gue nahan ngantuk demi punya our time together :D kalo weekend, udah pasti kudu, deh!

Post Comment