Pilates, Olahraga Tanpa Harus Heboh

Hampir 3 bulan ini beberapa dari kami di Female Daily Head Quarter, rutin pilates seminggu 2 kali. Instruktur kami nggak lain dan nggak bukan adalah Rani Panggabean (member forum dengan user name Pofelo) yang juga founder dari Pilates Jakarta.

Rani sudah menjalani pilates sejak 2003. Saat itu ia tinggal di Bangkok. Akibat bosan dengan rutinitas olahraga sendiri, ia mencari alternatif lain. FYI, Rani adalah perenang jadi ia rutin berenang, fitness, lari dan aneka olahraga yang menunjang seorang atlet.

Ia kemudian menemukan sebuah tempat latihan pilates, tapi karena saat itu pilates masih tergolong baru, jadi yang ia temukan malahan tempat untuk training untuk jadi instruktur. Setelah menjalani pilates, Rani malah jatuh cinta dengan olahraga ini.

Kenapa, sih?

Akhirnya jatuh cinta sama pilates, karena waktu itu selain pengen coba olahraga baru juga mau memperbaiki bentuk tubuh. Saya punya masalah tubuh bagian bawah besar nggak jelas, saya merasa olahraga ini nggak terlalu ngos-ngosan, tapi hasilnya bisa dilihat.

Perubahan yang paling saya rasakan, flexibility. Kaki saya dulu nggak bisa lurus. Kalau kaki pas naik ke atas, nggak bisa deh lurus. Setelah latihan terus, ya akhirnya bisa. Kedua, jadi lebih seimbang. Pikiran saya lebih fokus, kalau lagi kerja, mau ada orang ngapain, saya bisa tetap tenang melakukan pekerjaan saya.

Nah, Ran, prinsip-prinsip dasar pilates apa saja?

Pertama, centering. Centering artinya semua kekuatan untuk berolahraga  pilates itu istilahnya power house. Jadi otot perut, sampai bawah, dari bawah dada sampai ke bawah dan otot punggung, bokong, dan pinggul bawah. Jadi kaya bentuk kotak, gitu.

Kedua, control. Gerakan itu memang sesuai dengan apa yang dikasih tau instrukturnya. Gerakannya nggak bakal susah-susah banget. Dengan kontrol yang baik, bisa tepat otot yang dipakai.

Ketiga, konsentrasi. Prinsipnya karena pilates bukan olahraga yang harus mencontoh dari instruktur, tapi lebih ke mendengar instruksi dari si instruktur. Jadi butuh melatih yang namanya konsentrasi yaitu fokus selama latihan. Makanya jarang ada musik di pilates supaya lebih fokus pikirannya.

Keempat, precision. Artinya gerakan harus benar. Biasanya satu gerakan, dilakukan 8-10 kali saja. jadi nggak perlu banyak-banyak, yang penting kualitas daripada kuantitas.

Kalau untuk perempuan yang habis melahirkan, bisa nggak pilates?

Bisa, tapi harus menunggu setelah otot-otot perut menutup rapat. Kan kalau hamil, otot perut akan merenggang, nah, kalau ototnya belum rapat, lebih baik jangan. Itu biasanya sekitar 4-6 bulan, setelah melahirkan. Itu juga harus dicek dulu otot perutnya. Karena nggak baik melatih otot yang belum rapat.

Kalau yoga ada pre-natal yoga. Di pilates, ibu hamil bisa apa nggak?

Bisa, dong! Gerakan yang tidak dilakukan biasanya, gerakan yang pake otot perut, jadi lebih banyak gerakan pakai otot punggung, supaya otot punggungnya kuat, supaya kuat pas persalinan. Dan biasanya juga otot kaki, karena biasanya ibu hamil suka membesar kakinya. Nah, itu perlu dilatih, tangannya juga dilatih supaya lemaknya nggak numpuk di tangan.

Pertanyaan banyak orang, nih, pilates bisa untuk nurunin berat badan?

Tipe olahraga pilates lebih ke toning, daripada cardio. Buat yang mau secara efektif dan cepat nurunin berat badan, pilates memang bukan jawaban yang tepat. Karena pilates bukan cardio. Tapi dengan ikut pilates, otot dilatih, maka lemak akan kebakar dan ototnya juga lebih kuat.

Perubahan bentuk tubuh memang bisa dilihat secara jelas, tapi dari timbangan mungkin lebih cepat turun dengan 10 kali zumba, misalnya, daripada 10 kali pilates.

Ada juga yang berpendapat, “badan gue ga lentur, jadi ga bisa ikut pilates”?

Setiap orang punya flexibility yang berbeda. Kalau Lita, sudah jelas fleksibel (aduh, jadi pengen batuk-batuk, saya, haha), tulangnya lentur. Tapi bukan berarti yang tulangnya nggak lentur, nggak bisa melakukan. Awalnya pun saya nggak lentur, lho. Cuma dengan rutinitas, misalnya spine (tulang belakang) dibuat supaya nggak bengkok.

Idealnya, berapa kali pilates untuk bisa melihat perubahan badan?

Kalau kata Pak Joseph Pilates, yang menciptakan pilates, pilates itu bisa dirasakan oleh yang melakukan setelah 10 kali. Dan setelah 30 kali punya badan yang baru. Jadi, postur yang baru, cara berdiri yang baru, cara nengok yang baru, flexibility-nya juga bagus. Itu setelah 30 kali, ya. Makanya biasanya pilates yang benar itu dihitungnya per paket, satu paket 10 kali.

Pilates bisa dilakukan sendiri di rumah?

Kalau sama instruktur, akan ada yang ngasih tau dan mengingatkan hal-hal basic-nya. Seperti nafas, postur, kakinya diangkat sampai mana, dan seterusnya. Kalau sendiri di rumah, bisa. Di youtube gitu kan juga ada, ya.

Cuma memang, kalau lihat di youtube, carilah pilates for beginner. Di-ngerti-in banget dulu, baru bisa mulai cari video dengan level di atasnya. Dasarnya harus kuat. Nggak boleh salah nafas, salah postur, dan sebagainya. Tapi, bisa, kok!

Terakhir, nih. Prinsip saya, olahraga harus bikin happy, nggak semua orang juga kan suka pilates.  Tapi, tiap orang, menurut saya, harusnya memiliki hobi olahraga. Olahraga apapun, pilates hanya salah satu contoh. Pilates banyak disukai perempuan, mungkin karena nggak banyak gerakan lompat, terus nggak banyak momentum, nggak angkat beban yang berat seperti fitness. Tapi pilates sendiri, sebagai olahraga, tenang. Badan dilatih tanpa harus membuat suasana “saya lagi olahraga, lho!”. Hanya dengan mat, 2×1, bisa bikin keringat sama banyaknya atau lebih banyak daripada olahraga lain.

Jujur, awalnya saya sempat ‘meremehkan’ pilates. Benar kata Rani, “Olahraganya, kok, tidur-tiduran doang”, haha. Tapi setelah menjalani sesi kedua dan selanjutnya, wuih! Salah sama sekali! Saya mulai mencintai pilates dan merasakan perubahan dalam diri saya :)

Mau mencoba? Ikuti diskusi tentang Pilates di forum atau follow akun Twitter @PilatesJakarta, karena Rani selalu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai pilates, dan bahkan rajin memberikan trial secara gratis :)


10 Comments - Write a Comment

Post Comment