Cerita dari Cerita Orang Lain…

by: - Friday, April 26th, 2013 at 7:30 am

In: Daddy Chatter 7 responses

0 share

Pada suatu siang menjelang sore, saya “terjebak” dalam perbincangan santai yang menarik di sebuah kedai kopi, bersama dua lelaki lain; keduanya seorang ayah. Pada awalnya, kami sedang bicara soal pekerjaan. Biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Hingga, di tengah obrolan salah satu dari kami melontarkan sebuah cerita. Tidak biasa, karena mengusik peran saya sebagai ayah dari dua orang anak perempuan. Begini ceritanya:

***

Ada seorang ayah, punya anak perempuan yang sudah remaja. Si anak punya pacar, dan (singkat cerita) hamil. Lalu si anak perempuan yang baru mengetahui keadaannya, pulang ke rumah dalam keadaan takut luar biasa, terutama pada sang ayah.

Setelah berdiskusi panjang dengan ibunya, akhirnya si anak bilang terus terang pada ayahnya. Si ayah kaget, terdiam, tubuhnya lemas, tak bisa berkata apa pun. Pada saat itu, si ayah masuk ke dalam kamar. Menolak keluar, menahan rasa lapar, hingga keesokan harinya.

Sang ayah pun memanggil si anak, dia menanyakan pada anak perempuannya, “Apakah pacarmu mau bertanggungjawab atas bayi di dalam kandunganmu?”

Si anak menjawab, “Tidak, Pa .…”

Ayahnya pun merespons, “Baiklah, kalau begitu kita rawat kandunganmu dengan baik hingga si bayi lahir dengan selamat, lalu kita sambut ia dengan cinta keluarga kita. Tapi ada syaratnya .…”

Si anak kaget dan masih dihinggapi rasa resah.

“Syaratnya adalah, kamu tidak boleh malu bahwa kamu hamil di luar nikah. Kamu harus jujur pada semua orang bahwa kamu hamil. Jangan ditutupi, karena kalau kamu menutup diri, kamu akan terbebani dan stres, itu tidak baik untuk bayi dalam kandunganmu. Bilang pada semua orang, teman-temanmu, keluarga, bahwa ada berita baik, bahwa kita menantikan bayi itu.”

Si anak meneteskan air matanya, lega dan memeluk ayahnya erat.

Sembilan bulan berlalu, dan si anak pun melahirkan bayinya dengan selamat. Bayi yang sehat, tanpa kekurangan apa pun. Keluarga itu sukacita menyambut si bayi. Dibawa pulang ke rumah dalam gendongan hangat kakeknya, belaian neneknya.

Di rumah, si bayi disediakan tempat istimewa, kamar ayah dari ibunya. Bayi itu dirawat dengan penuh kasih sayang penuh dari seluruh penghuni rumah. Keluarga dan teman-teman bergantian menengok si bayi, memberikan doa dan kado.

Sekitar dua bulan setelah si bayi lahir, pacar si ibu yang sebelumnya tidak mau tanggungjawab datang ke rumah itu, minta maaf pada pacar yang ditinggalkannya, pada orangtua pacarnya, dan minta kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, jika diizinkan. Ia masih mencintai pacarnya, dan ingin menikahinya; juga merawat dan membesarkan anak kandungnya.

Tanpa rasa marah dan dendam, si ayah menerima permintaan maafnya, dan menanyakan anak perempuannya, apakah bersedia kembali pada pacarnya itu. Si anak menjawab haru, “Aku bersedia .…”

Kabarnya, kini keluarga itu bahagia seperti keluarga kebanyakan. Anak perempuan dan pacar yang kini menjadi suaminya itu rukun dan mesra. Si bayi tadi pun tumbuh sehat dan ceria hingga balita.

***

Lepas menyimak cerita itu saya tertegun. Terlintas pertanyaan, “Apa yang akan saya lakukan jika saya ada dalam posisi ayah yang menerima kabar anaknya hamil dan diabaikan pacarnya itu?”

Jawabannya, saya belum tahu, karena saat ini kedua anak perempuan saya masih berusia 3 dan 2,5 tahun. Rasanya masih terlalu jauh memikirkan hal yang rumit itu. Tapi cerita tadi memberi ruang, bahwa peristiwa seperti itu mungkin saja terjadi pada saya, pada Anda, atau kita semua. Dan kita harus siap.

Cerita tadi juga menyiratkan pesan bahwa kemampuan mengelola emosi, dan menyelaraskannya dengan pikiran sehat saat mengambil keputusan, bisa berdampak besar pada banyak hal; termasuk soal menjalankan peran sebagai ayah.

Bagaimana pendapat Anda tentang cerita itu?

Share this story:

Recommended for you:

7 thoughts on “Cerita dari Cerita Orang Lain…

  1. Luar biasa! saya nggak bisa membayangkan proses yang dilalui si ayah sampai ia bisa berbesar hati menghadapi apa yang terjadi pada putrinya. butuh seorang ayah yang luar biasa untuk bisa berdiri, memeluk dan membantu anaknya yang tergelincir, dan menerima semuanya dengan lapang dada. sangat berbeda dari sikap ayah-ayah lain yang mungkin menghadapi permasalahan sama.

    hampir nangis pas baca ini :’)

  2. waaa baru kemarin sharing di twitter setelah baca materi Fathering Project, jadi inget almarhum Bapak, dulu pas gue mau pindah ke Bandung, beliau pesan:
    1. Jika kmu terjebak narkoba, pulang, kita ke rehabilitasi bersama-sama
    2. Jika kmu hamil, pulang, kita cari jalan keluar bersama-sama

    :’) walau gue, alhamdulillah tidak mengalami keduanya, tapi pas denger kalimat itu bener-bener berasa punya tempat berlindung yg pastinya terpercaya.

    Bapaakkk, kangen! *jadi curhat*

  3. Hebat… sebenernya menjadi orang tua yang “benar” adalah selalu ada setiap saat di kondisi apapun anak kita… dan… jika orang tua tidak bisa memahami anak, siapa lagi yang harus lebih paham dari orang tua :)

    tfs yaah…. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang “sempurna” untuk anak2 kita … :)

  4. Dari cerita ini yang gue ambil kesimpulan, jadi orangtua kita harus punya komitmen. Di awal kehidupan anak, kita berkomitmen untuk memberikan yang terbaik, menjaganya dan bertanggungjawab akan hidupnya, maka ketika kejadian ‘terburuk’ yang pastinya akan mengguncang, komitmen itu harus tetap kita pegang.

    Memang belum mengalaminya, tapi mudah2an gue dan suami bisa diberikan kebesaran hati untuk bisa legowo menerima kenyataan yang ‘terburuk’ sekalipun.

  5. Pingback: Belajar Jujur

Leave a Reply