Mudahnya Ucapkan Maaf

“Ibu, maafin Bumi, ya…”

Kalimat ini sering sekali Bumi lontarkan saat ia tahu kalau saya sedang kesal dan marah dengannya. Seringnya, sih, persoalannya karena Bumi sekali dua kali masih tidak bisa menahan buang air kecil di sembarang tempat.

Hal lain yang sering membuat jengkel adalah saat Bumi dengan seenaknya membanting badan ke tubuh saya, sambil bilang, “Smackdown ibu, ah…” Eeerrrrr, mungkin, beberapa bulan lalu, saya masih anteng-anteng saja kalau Bumi mau main Smack Down. Ya, tapiiiiii …. sekarang Bumi, kan, beratnya sudah 20 kg! Sepertinya, bobot tubuhnya sudah nggak bisa saya ditolerir, deh.

Nyebelinnya, setiap saya tanya, “Bumi kenapa nggak Smack Down bapak, saja, sih?” dengan enteng, dia jawab, “Nggak ah, badan bapak nggak empuk kayak ibu.” Hahahhaha, yang ada saya malah jadi cekikikan mendengar jawabannya.

Sejak dini, saya memang sudah membiasakan Bumi untuk mengatakan kata maaf kalau memang dia salah. Alhamdulillah, setiap kali dia tahu telah melakukan kesalahan, dia pun nggak sungkan untuk minta maaf. Dan ini berlaku tidak hanya untuk saya, tapi juga dengan penghuni rumah yang lain seperti  bapaknya, enin, aki dan mbak di rumah.

Tapi, saya juga nggak mau jika Bumi hanya sekedar minta maaf, tanpa dia tahu makna di balik kata maaf itu sendiri. Apalagi kalau setelah minta maaf, dia kembali mengulangi kesalahnnya. Jadi, sebisanya setelah Bumi meminta maaf, saya akan mengajaknya ngobrol dan memberitahukannya mengapa saya tidak suka dengan sikapnya.

Lagipula, bukankah kata maaf merupakan salah satu kata ajaib yang harus diingat dan sering dipraktikkan? Pelajaran ini juga saya dapatkan dari kedua orangtua saya. “Jadi orang itu nggak boleh pelit ngomong maaf, terima kasih, dan tolong,” begitu nasihat mama saya dulu.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat berbincang dengan Adisti F. Soegoto, M. Psi. Salah satu psikolog dari Kancil ini mengatakan bahwa jangan sampai kata maaf ini dijadikan sebagai lips service semata. “Maksudnya, murah mengucapkannya, sedikit-sedikit minta maaf, namun tidak ada ada perubahan atau aksi selanjutnya untuk melakukan perubahan,” ujarnya.

Psikolog yang kerap disapa Disti ini juga mengutarakan bahwa, memang tidak semua orang mudah mengatakan kata maaf. Penyebabnya bukan hanya sekedar karena gengsi, tapi lebih luas dari itu. Menurutnya sulit mengucapkan kata maaf tidak berkaitan dengan masalah gander, baik laki-laki atau perempuan banyak yang susah mengucapkan kata maaf.

“Namun untuk laki-laki, karena sejak kecil sudah dididik dengan pola asuh dan pandangan bahwa laki-laki itu harus kuat, laki-laki itu sebagai pemimpin, tidak boleh cengeng, atau yang lainnya, hal inilah yang bisa menyebabkan laki-laki susah mengucapkan kata maaf. Tapi, bukan berarti tidak ada wanita yang sulit mengucapkan kata maaf, lho” ujarnya.

Jika kata maaf telah diucapkan namun tidak diiringi dengan perubahan, ya, percuma.  Alhasil, kata maaf akhirnya terdengar sia-sia. Karena nggak mau Bumi hanya menjadikan kata maaf sebatas lips service, akhirnya saya mencoba mengajarkan Bumi supaya bisa melanjutkan sebuah aksi setelah mengucapkan kata maaf.

Caranya,seperti yang saya bilang di atas, saya akan mengajak ngobrol Bumi setelah ia meminta maaf. Saya mencoba menjelaskan dan mengutarakan mengapa ia tidak salah dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Dengan begitu, saya berharap Bumi dapat paham dan mengerti bahwa kekesalan saya ini berdasarkan rasa sayang dan perduli.

O, ya … meskipun saya ibunya, saya pun nggak sungkan, kok, mengaku salah dan bilang maaf ke Bumi. Dan saya rasa Mommies yang lain juga begitu, kan?

 

 


Post Comment