Memori di Hari Kartini

21 April, sejak saya bisa mengingat, hari ini selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Gimana enggak? Waktu sekolah dulu, sudah bisa dipastikan, saya akan memakai pakaian daerah lengkap dengan aksesori dan menggunakan make up Mama!

Ya, bagi saya, menggunakan make up Mama merupakan kebahagiaan tersendiri. Makanya, begitu punya anak dan melihat anak-anak di sekolah menggunakan make up komplet saat ‘Kartinian’, saya, sih, nggak mencibir orang tuanya. Siapa tahu memang anaknya yang pengen, seperti saya waktu kecil dulu.

Ini adalah foto ‘Kartinian’ perdana saya, waktu usia saya masih 5 tahun. Antara senang dan sedih, senang karena bisa ‘tampil’, sedih karena Mama saya memutuskan supaya saya pake Baju Bodo asal Makasar, padahal saya pengennya yang rambutnya kondean :D

Saya pun menanyakan tim Female  Daily HQ mengenai memori ‘Kartinian’ mereka, ternyata seru-seru banget!

Hari Kartini masa kecil yang saya ingat adalah saat Taman Kanak-Kanak. Hanya 2 tahun, artinya hanya 2 kali, kami biasanya pawai keliling kota dengan kostum yang boleh kami pilih sendiri. Saya lupa atas dasar apa kami boleh memilih kostum kami? Cita-cita? Mungkin.. Ada yang jadi Dokter, Polisi, Guru, Suster, pilihan umum ya?

Dan, kostum yang saya pilih adalah sebagai Mbok Tukang Sayur Keliling! :)

Saya besar di kota kecil Tasikmalaya – Jawa Barat. Saat saya kecil setiap hari selalu ada Mbok Tukang Sayur yang datang ke rumah menawarkan berbagai macam sayuran segar. Saya selalu senang ikut melihat dan memilih sayuran di sebelah Mama saya. Mbok-nya pun ramah-ramah, selalu mengajak saya bercakap-cakap dan bercanda. Mungkin gara-gara momen manis ini saya memilih jadi Mbok Tukang Sayur saat Hari Kartini :).

Pawai keliling kota biasanya berlangsung dari pagi sampai cukup siang dan panas. Kami berkumpul di sekolah, berbaris dan mulai jalan perlahan mengelilingi beberapa ruas jalan di kota kecil kami. Saya membawa tampah di kepala saya seperti Mbok Tukang Sayur yang sesungguhnya, tapi selain ada sayuran, Mama saya juga menyelipkan makanan kecil, permen, dan minuman untuk bekal selama saya di perjalanan mengelilingi kota. Seingat saya, kami semua menikmati acara pawai ini walau kepanasan dalam kostum kami. – Nopai, Operational Director

Selama sekolah, rasanya cuma 1-2 kali ikut pakai baju daerah saat Hari Kartini. Satu saat TK (jadi sudah tak ingat) dan sekali saat kelas 5 SD. Nah, menjelang Hari Kartini, kebetulan saya bertengkar dengan sahabat waktu itu. Jadi, kami lagi diam-diaman, tuh. Tapi memang sebelum bertengkar kami sempat bahas baju adat daerah mana yang akan dipakai. Dia berencana pakai baju Aceh, dengan alasan sudah pernah pakai dan setelannya berupa celana panjang yang membuat lebih bebas bergerak. Saat Hari Kartini, saya juga pakai baju Aceh dengan alasan yang sama, karena bisa pakai celana dan bukan jarik yang bikin repot. :D Saat bertemu dengan sahabat yang sama-sama pakai baju Aceh, kami berdua otomatis baikan, karena nggak tahan mau ngobrol soal baju kami. Hihihi…. Namanya juga anak SD…

Oiya, lucunya, dulu suami saya (yang orang Aceh) waktu hari Kartini pakai baju adat Jawa. Sedang saya yang orang Jawa, pakainya baju Aceh. Hal ini masih suka jadi bahan cerita lucu. Namanya juga takdir. :). – Anggi, Digital Account Executive

“Kartinian” pas kecil itu artinya mengunjungi Salon Wati yang lumayan terkenal di Matraman. Coba-coba baju, ribet membayangkan hari H, dan sudah pasti cranky pas hari perayaannya datang karena kepanasan. Oh, yang diingat juga adalah betapa ibu itu demen banget anaknya bergincu merah menyala -___- Nggak pernah ikut lomba, sih, seingat saya, paling parade baju daerah saja. – Manda, Event and Partnership Coordinator

Waktu kecil saya punya love/hate relationship sama hari Kartini. Senang karena pasti banyak acara di sekolah, biasanya pentas dan pawai (yang buat banci tampil seperti saya sungguh menyenangkan), tapi sebel juga, karena harus pake baju daerah yang artinya saya musti bangun lebih pagi untuk pergi ke salon tempat menyewa kostum. Ditambah lagi karena biasanya saya didandani, dan seingat saya, Tante yang punya salon selalu memaksa saya untuk memakai eye liner dan mascara yang mengganggu di mata (little did I know mascara would me my most favorite makeup years later :p)

Tentu saja waktu kecil saya cuma mengenal Kartini sebagai nama pahlawan yang membela wanita, tanpa tau arti kalimat tersebut. Tapi saya tetap menganggap Kartini hebat banget karena menjadi satu-satunya Pahlawan yang punya ‘hari yang dirayakan’. Dan karena di gambar-gambar Kartini selalu memakai kebaya, saya suka marah-marah ke mama saya karena saya jarang sekali dikasih kostum kebaya, jadi rasanya agak kurang kartini. Mama saya selalu menjawab, kalau pasti banyak sekali teman-teman yang akan pakai kebaya (dan bener sih), jadi sebaiknya pilih yang berbeda. Dan mama saya menambahkan kalau perempuan indonesia hebat itu ada di daerah-daerah lain juga. Saat itu, sekali lagi saya tidak mengerti artinya. Tapi semakin besar semakin sadar kalau Mama saya bener banget. Dan senang juga karena saya punya foto dengan berbagai macam kostum daerah di Indonesia :). – Vanya, Account Manager

Kalau menjelang Hari Kartini, memori yang paling diingat ya sewaktu masih di TK nol kecil.
Jadi waktu itu pagi – pagi sekali saya sudah siap didandani mamah di rumah. Berhubung keluarga dari Jawa Barat, jadilah Mamah  memakaikan saya baju kebaya Sunda & kain batik, plus konde cepol & make up. Semuanya Mamah yang mendandani, termasuk kebaya Sunda warna hijau yang dijahitnya sendiri. Hmm.. di mata saya beliau betul-betul Ibu ideal :)

Sampai di sekolah TK Al-Ikhlas ( sekolah saya dulu ), seperti umumnya acara Hari Kartini, sudah ramai dengan anak-anak berpakaian daerah, ada juga sih yang berpakaian dokter, pilot, dll. Mereka umumnya diantar Ibu masing – masing. Waktu itu kebetulan Mamah tidak bisa antar saya ke sekolah dan aku cuma diantar kakak perempuanku. Melihat anak lain kebanyakan diantar Ibunya, lucunya saya malah menangis karena sedih tidak diantar Mamah :D, make up di wajah mulai luntur deh. Tapi kakak mencoba menenangkan dan akhirnya tangisan itu berakhir juga, mungkin karena malu dilihat teman-teman lain :D. – Irma, Accounting

Seru-seru, ya? Bagaimana dengan Mommies, ada momen lucu atau memorable saat ‘Kartinian?

 


10 Comments - Write a Comment

    1. Ahh, jadi inget zaman TK. Paling seneng kalo mau ikutan karnaval keliling2 derah TK, nggak cukup cuma di TK aja, kalo di perumahan gue juga dulu suka bikin acara karnaval kl hari Kartini gue juga pasti ikutan. Kalau nyokap bilang nggak usah, ngambeeek :D mau eksiiisss terus, hehehehee

      Sama kaya Lita, emak gue juga senengnya pakein gue baju Bodo. Kl, nggak, paling baju Bali, deh…. kebetulan kakak tertua gue emang jago nari Bali, jadi memang nyokap punya beberapa bajunya. Gue pribadi, sih, lebih seneng kalau pakai baju Bali. Soalnya lebih “meriah” :D

  1. Nopai itu lucu amaatt sih jadi Mbok Sayur :D

    Eh iya lho, nyokap gue dan Lita itu paling demen makein anak2nya baju bodo. Bahkan sampe gue SMP pun, teteep aja Kartinian pake baju bodo. Padahal gue iri sama temen-temen yang pada ayu-ayu dan singset pake kebaya, kain dan kondean.

    Pas ditanya ke nyokap, kenapa sih demen amat sama baju bodo, jawabnya: “Baju bodo itu simple, gak perlu banyak sasakan, konde dll. Lagian mama kan tau anak mama kayak gimana. Kamu kira kamu bisa jalan dan lari-larian kalo pake kain? Pake baju bodo kan fleksibel.” Hihihi..

Post Comment