Belajar Investasi di New Parent Academy

Beruntung sekali, saya berkesempatan menghadiri kelas New Parent Academy (NPA) hari ke dua yang digelar di Jakarta Design Center beberapa waktu lalu. Soalnya, materi yang diulas kali ini benar-benar saya perlukan,  soal investasi dana pendidikan untuk si kecil. Apalagi tahun ini, Bumi memang rencananya sudah mau masuk Kelompok Bermain. Dengan materi yang akan dibeberkan secara detail oleh QM Financial, tentu saya bisa mendapatkan gambaran dana yang perlu dipersiapkan. Sedangkan materi lainnya, adalah mengenai bagaimana merawat bayi baru lahir yang diberikan oleh RSIA Tambak.  Nah, kalau untuk materi yang satu ini memang sudah pernah saya lewati.

Karena materi pertama soal memandikan bayi yang baru lahir, kali ini seluruh peserta langsung langsung praktik. Tapi, tentunya, menggunakan boneka, yah, hehe. Meskipun rata-rata peserta baru mau memiliki anak, tapi ternyata mereka cukup terlihat piawai, loh. Dan, yang lebih membuat saya kagum, peserta calon ayah-lah juga terlihat nggak kalah antusias saat praktik bagaimana merawat bayi yang baru lahir, mulai dari memandikan sampai merawat tali pusar.

Saya jadi ingat, dulu, waktu Bumi baru lahir, saya baru berani memandikannya setelah Bumi berusia dua minggu. Di minggu pertama, saya masih ‘berguru’ dulu melihat nyokap memandikan Bumi, hehehe. Ya, maklum aja, ya, dulu, kelas semacam NPA ini kan belum ada…. jadi, beruntung sekali para calon orangtua yang banyak belajar dari NPA. Biar bagaimana, memandikan bayi baru lahir yang terlihat begitu rapuh dan ringkih, memang deg deg-an. Sedangkan Doni, suami saya, memilih untuk nggak campur tangan dalam urusan memandikan Bumi hingga usai Bumi hampir 3 bulan :D

Setelah beberapa jam seluruh peserta diajak seru-seruan praktik, yang hampir selalu diselingi dengan gelak tawa, kami pun akhirnya menyimak materi kedua, investasi pendidikan untuk anak. Dan saya pun berhasil dibuat pusing dengan simulasi pendidikan Bumi 10 tahun mendatang, haha!

*gambar dari sini

Setelah memiliki Bumi, saya dan suami memang gencar menabung. Tapi ternyata menabung saja nggak cukup karena akan tergerus dengan inflasi. Investasi ini sendiri sebenarnya jauh lebih baik dilakukan setelah menikah dan sebelum memiliki buah hati. Dengan begitu, saat si kecil sudah ada di tengah-tengah kita, tujuan finansial seperti membeli rumah, mobil, liburan keluarga, sudah bisa terencana dengan baik.

Setelah kita sudah mengetahui tujuan finansial sebelum berinvestasi, jumlah dana yang kita butuhkan jadi sudah bisa diprediksi. Yang jelas, semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin tinggi risiko dan hasil investasi yang akan dihadapi. Semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin tinggi target hasil rata-rata, semakin rendah kebutuhan investasi yang diperlukan.

Sebelum memulainya, untuk mengetahui sehat tidaknya keuangan keluarga, langkah awal yang perlu dicek adalah menentukan kondisi keuangan. Sudah sehat atau belum? Untuk mengetahui ada beberapa dokumen yang diperlukan  yaitu cek neraca= net worth statement dan cek arus kas = cashflow statement.

Memeriksa kondisi kesehatan keuangan keluarga bisa dimulai dengan mengetahi secarai detail apa saja pendapatan keluarga, mulai dari gaji, hasil bisnis, sewa properti, deviden saham, kupon  obligasi, bunga deposito dan sebagainya. Setelah itu, yang wajib diperhatikan adalah pengeluaran apa saja yang harus keluar bulannya. Misalnya, nih, membayar asuransi, kebutuhan rumah tangga, transportasi, dana kesehatan, gaji untuk ART, dan masih banyak lagi.

Yang jelas, ternyata pengeluaran untuk membayar cicilan hutang maksimal 30% dari pendapatan, dana rutin untuk kebutuhan rumah tangga sebesar 20% hingga 40% , dan kebutuhan pribadi maksimal 20% dari jumlah total pendapatan. Sedangkan untuk tabungan atau investasi sebesar 10% hingga 30%.

Setelah itu, untuk dana pendidikan, kita juga harus mengetahui terlebih dahulu besarnya biaya pendidikan yang akan kita pilih untuk si kecil. Hal ini tentu nggak terlepas dari visi kita sebagai orangtua saat memilih sekolah.

Untuk mengetahui dana pendidikan, QM Planner mempunyai beberapa asumsi dalam perhitungannya. Untuk kalkulator Dana Pendidikan ini, asumsi yang digunakan adalah rata-rata kenaikan biaya TK – SMA swasta di Jakarta bisa naik 20% per tahun. Sedangkan untuk kenaikan biaya Perguruan Tinggi (Program S1) swasta di Jakarta rata-rata akan 15% per tahun.

Nah, nah, nah….. kebayang dong, berapa besarnya dana yang dibutuhkan anak kita yang masih balita saat mereka mau kuliah? *lap keringet*. Yang pasti, menabung saja ternyata nggak cukup karena hasil yang didapatkan nggak sebanding dengan kenaikan inflasi. Mungkin, bisa dibilang, investasi merupakan salah satu jalan bijak yang bisa kita tempuh untuk menyiapkan bekal pendidkan anak-anak kita.

Untuk masalah keuangan lainnya, Mommies bisa mengecek artikel di kategori Money Talks, di mana Reliza Arifiani, salah satu planner QM banyak menulis mengenai keuangan di sana. Yuk, belajar keuangan!

 


Post Comment