The Good Old Days of High School

Jika saya punya laci meja dengan mesin waktu seperti milik Doraemon, keinginan saya cuma satu, kembali ke masa-masa di mana saya mengenakan seragam putih biru atau putih abu-abu. Alias waktu remaja!

Setelah menikah 4 tahun dan memiliki putera yang kini berusia 3 tahun, khayalan kembali ke periode masa remaja, bukan berarti saya nggak menikmati menjalani motherhood ini.  Kehidupan saya justru jadi semakin berwarna karena sudah membentuk keluarga, punya Bumi yang bisa membuat saya tertawa setiap hari.

Tapi, biar bagaimanapun masa remaja merupakan salah satu momen yang paling  ngangenin. Dan rasanya, ini juga berlaku untuk siapapun, deh. Soalnya, pada periode inilah kita bisa mulai banyak belajar soal kehidupan.

Remaja adalah momen di mana kita merasakan kebebasan, dengan hidup yang sepertinya sama sekali tanpa beban, hehehehe. Termasuk mulai merasakan cinta monyet, bisa ketawa-ketiwi bersama teman-teman dekat, atau cabut sekolah bareng-bareng. Kalau dipikir-pikir, yang membuat masa SMP dan SMA kita terasa hebat sesungguhnya adalah, ya,  karena keberadaan teman-teman.

Nah, di zaman itu, buat saya pribadi, teman adalah nomor satu. Bahkan mengalahkan pelajaran-pelajaran di dalam kelas :D . Teman menjadi seperti segalanya; tempat berbagi cerita mulai soal cowok idaman, guru killer, betapa orang tua kadang terasa sangat menyebalkan dan banyak hal lainnya.

*Bersama beberapa sahabat semasa SMP dan SMA  saat pernikahan saya :)

Teman bukan cuma tempat berbagi karena mereka seperti cheerleaders yang seperti tak berhenti dan tak lelah memberikan dukungan. Alhamdulillah, hingga saat ini saya masih menjaga hubungan baik dengan teman-teman masa remaja saya. Bahkan, kami selalu memiliki agenda rutin untuk berkumpul. Kebetulan, kami memang memiliki anak yang usianya tidak berbeda jauh.

Di rumah, Ibu saya juga selalu mengajarkan satu hal, cari teman nggak boleh pilih-pilih. Selebihnya, ya, bagaimana kita bisa menyortir dan membawa diri saja.

Pengalaman masa remaja saya ini tampaknya sejalan dengan apa yang dikatakan psikolog Roslina Verauli, bahwa remaja merupakan periode di mana di usia belia ini mereka menghadapi beragam tantangan, sehingga membutuhkan teman yang bisa mendukung perkembangannya. Teman yang bisa mengerti, menginspirasi, dan memberikan dukungan agar bisa menjalani setiap proses dalam kehidupan.

Hal ini diungkapkan perempuan yang masih tercatat sebagai dosen di Universitas Tarumanegara dalam jumpa pers perkenalan logo baru es krim Cornetto sekaligus memperkenalkan kampanye untuk remaja ‘Nikmati Rasa Serunya, Suka Banget Akhirnya’, di fX Sudirman, Jakarta, Kamis (21/3/2013).

Sejak awal diluncurkan, Cornetto  memang merupakan merek es krim yang membidik pasar kaum remaja. Sebagai salah satu teman setia menjadi teman remaja dalam menjalani kehidupan mereka. Jadi, nggak heran kalau saat ini Cornetto semakin mengukuhkan diri untuk terus berkomitmen untuk bisa dekat dengan para remaja. Walaupun, saya yang notabene sudah nggak remaja lagi juga suka, sih, hihi.

Bernando Tampubolon, selaku Assistant Brand Manager Cornetto, juga mengungkapkan bahwa Cornetto ingin terus berkembang sesuai dengan dinamika para remaja.”Cornetto sadar bahwa masa remaja merupakan saat yang paling menyenangkan. Dalam tiap fase kehidupan, baik senang maupun sedih, remaja pasti membutuhkan teman. Sebagai teman yang baik, kami ingin membuat kehidupan remaja jadi lebih seru dengan melakukan beragam kegiatan positif dan menyenangkan bersama Cornetto.”

Walaupun masa-masa remaja itu kini sudah terlewati, tapi akan jadi lembaran yang akan terus saya ingat entah sampai kapan nanti. Dunia dan pergaulan remaja dalam beberapa tahun ke depan mungkin sudah banyak berubah, tapi buat anak saya Bumi, ada nilai-nilai yang pasti akan saya tanamkan padanya. Nilai-nilai soal menjadi seorang teman, menjadi seorang sahabat. Mungkin, jika diibaratkan ya, seperti Cornetto ini, siap menjadi teman dekat dalam keadaan apapun :)

*Dengan sahabat-sahabat saat remaja beserta pasangan masing-masing

Mudah-mudahan Bumi dan anak-anak-nya sahabat saya bisa meneruskan persahabatan para orangtuanya. Malah, kami suka saling guyon untuk menjodohkan anak-anak kami. Jadi persabahatan bisa naik kelas jadi besan, hahahaha.

Soalnya, truly great friends are hard to find, difficult to leave, and impossible to forget…


4 Comments - Write a Comment

Post Comment