Picky Eater Dan Kesulitan Belajar

Masalah perilaku pada anak dan hubungannya dengan kesulitan belajar ternyata kompleks sekali, ya. Setidaknya, hal ini saya ketahui saat mengikuti seminar yang digagas Klinik Pela 9 dan dilangsungkan di fX Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.

Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dari tiga nara sumber yang hadir. Mulai dari Dr Gitayanti Hadisukanto selaku Psikiater Anak, Rini Budi Setyowati  sebagai Terapis Sensorik Integrasi, dan Wiwin Wulandari sebagai Orthopaedagog.

Dari sekian banyaknya masalah yang dijabarkan di seminar ini, saya baru mengetahui bahwa anak yang picky eater bisa menimbulkan dampak kesulitan belajar. Kok, bisa , ya?

 

Jadi menurut Rini Budi Setyowati, anak yang picky eater sangat sensitif dengan area pengecap mereka. Mereka lebih sensitif dan mempersepsikan makanan dengan suhu dan tekstur secara berlebihan.

Akibatnya, jika terus dipaksaan untuk tetap memakan makanan tersebut, anak yang picky eater ini bisa tantrum dan bahkan mengalami trauma. Agar tidak berujung pada sesuatu yang buruk, Terapis Sensorik Integrasi ini memang menyarankan agar anak yang picky eater untuk dilakukan terapi sensori integrasi.

Pada dasarnya, sensori integrasi  ini memang sangat berkaitan dengan 7 indera. Mulai dari kesigapan tubuh, telinga, mata, hidung, kulit, dan indera  pengecap. Nah, ternyata jika si kecil sejak usia belia telah mengalami masalah dengan salah satu indera, akan memengaruhi proses tumbuh kembangnya, salah satunya dengan kesulitan belajar.

Bahkan bisa dibilang sensori integrasi ini merupakan fondasi untuk si kecil bisa berkomunikasi dengan baik dan lancar. Kebayang, dong, bagaimana jika fondasinya saja tidak kuat, tentu ke depannya akan banyak sekali menimbulkan masalah.

“Untuk itu, lewat terapi sensori integrasi, penyebab mengapa dirinya terlalu peka dengan indera pengecap bisa diketahui,” ujar Rini Budi Setyowati.

Saya jadi ingat dengan salah satu keponakan saya. Saat masih kecil, ia sangat pemilih dalam hal makanan, bahkan saat minum susu, jika suhu airnya dirasa tidak pas, dia bisa tantrum. Dan, benar saja, loh, ternyata saat ini keponakan saya yang sudah duduk di bangku sekolah dasar juga sangat pilah-pilih dengan mata pelajaran di sekolah.

Jika giliran ada mata pelajaran yang dia tidak suka, tiba-tiba bisa langsung lemas, bahkan nggak jarang mencari-cari alasan untuk tidak masuk sekolah. Sakit perutlah, pusinglah, dan segudang alasan lainnya. Kakak saya sampai pusing :D

Ternyata banyak sekali, ya, perilaku anak-anak yang sebelumnya kita anggap wajar justru bisa memicu terjadinya kesulitan belajar. Dan jika tidak segera ditangani tentu akan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari. Sebagai orangtua, observasi tingkah dan perilaku anak kita memang penting, asalkan jangan sampai menimbulkan kecemasan berlebih saja, ya, Mommies :)


Post Comment