Jangan Remehkan Anemia!

Anemia merupakan gangguan kesehatan yang familiar di telinga perempuan. Sampai-sampai saya pernah berpikiran yang bisa kena anemia cuma perempuan dan anak-anak saja *tepok jidat*. Ternyata (tentu saja) nggak, lho. Walau perempuan resikonya lebih tinggi karena secara biologis memang sering kehilangan darah seperti saat menstruasi atau persalinan, 1 dari 4 pria juga mengalami anemia. Perbandingannya, 1 dari 2 wanita bekerja, dan 40% wanita usia subur mengalaminya.

Walau nampak remeh, gangguan anemia dapat mengakibatkan masalah kesehatan dalam jangka panjang yang pada kasus tertentu dapat berakibat fatal. Sangat disayangkan kalau sampai terjadi, karena anemia bisa dicegah dan gejalanya cukup mudah dikenali.

Menurut dr. Nadia Ayu Mulansari, anemia terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah kurang dari normal, yaitu <12 untuk wanita dan <13,5 gr/dL untuk pria. Karena tugas hemoglobin sebagai alat transportasi oksigen, maka berkurangnya kadar hemoglobin berakibat kurangnya kadar oksigen dalam darah. Dalam jangka panjang, anemia dapat merusak sistem kekebalan tubuh, mengganggu kerja organ vital dan memicu penyakit berbahaya. Contohnya anemia menyebabkan jantung meningkatkan kinerjanya untuk menambah jumlah darah yang beredar. Jika ini terus menerus terjadi, jantung akan mengalami perubahan bentuk berupa pembesaran otot jantung yang dapat memicu terjadinya gagal jantung.

Gejala umum anemia adalah:

  • Kulit dan kelopak mata yang pucat. Dapat dilihat dari telapak tangan yang pucat tanpa rona kemerah-merahan, dan kelopak mata bagian bawah.
  • Rambut rontok.
  • Mulut dan kerongkongan kering.
  • Tubuh lemah, mudah lelah, mudah sakit.
  • Pusing kliyengan saat berubah posisi dari jongkok ke berdiri.
  • Napas pendek, jantung berdebar/deg-degan.
  • Sulit konsentrasi.

Sayangnya gejala-gejala ini biasanya baru dirasakan pada stadium lanjut walau kekurangan zat besi sudah terjadi sebelumnya.
Dokter juga menyebutkan banyak pasien yang datang mengeluhkan penyakit lain baru ketahuan kalau anemia setelah dilakukan tes darah. Gejalanya tidak nampak, bahkan pasien masih nampak segar bugar sehat walafiat, tapi kadar hemoglobinnya hanya 6 gr/dL.

Perempuan lebih rentan terkena anemia karena selain mengalami kondisi-kondisi yang membutuhkan asupan zat besi dalam jumlah besar seperti kehamilan, menyusui, dan menstruasi, diet yang berakibat mengurangi asupan makanan kaya zat besi juga berpengaruh.

Untuk mencegah anemia, paling bagus adalah menyeimbangkan pola makan dengan selalu mengkonsumsi sumber zat besi seperti hati, daging merah, daging unggas, ikan, dan sayuran hijau. Konsumsi ini perlu dibantu dengan:

  • Gaya hidup yang sehat seperti tidur cukup, dan olahraga teratur.
  • Konsumsi makanan yang membantu penyerapan zat besi, seperti sumber vitamin C.
  • Membatasi konsumsi makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi, seperti makanan/minuman yang mengandung kafein.

Saya sendiri sempat mengalami anemia saat kehamilan ke-4 dan baru ketahuan seminggu sebelum jadwal persalinan sesar, dengan nilai Hb 8,4 gr/dL. Dokter Obgyn saya menekankan Hb harus naik sampai diatas 10 gr/dL, kalau tidak saya harus menyiapkan ekstra darah untuk transfusi setelah operasi caesar. Sebagaimana operasi besar lainnya, operasi caesar akan menurunkan secara drastis nilai Hb karena kehilangan banyak darah. Selain itu, anemia saat kehamilan juga membuat bayi saya rentan ADB (anemia defisiensi besi), sehingga perkembangan berat badannya tidak begitu bagus.

Sebagai produsen salah satu suplemen zat besi Sangobion, Merck berkomitmen untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai anemia melalui Tanya Anemia Centre. Melalui Tanya Anemia Centre masyarakat dapat memperoleh edukasi mengenai anemia, sekaligus melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi gejala anemia dan memberikan rekomendasi awal penanganannya.
Tanya Anemia Centre dapat diakses secara online melalui www.sangobion.co.id dan media sosial twitter @sangobion4life serta Facebook Sangobion.

*thumbnail dari sini


One Comment - Write a Comment

Post Comment