Pahit Manis Asisten Rumah Tangga

Kalau ibu-ibu muda ibukota masa kini ditanya mana yang lebih sulit: menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan atau dengan asisten rumah tangga, rasanya akhir-akhir ini banyak sekali yang akan menjawab: asisten rumah tangga.  Bagaimana tidak, beberapa teman saya bahkan sampai patah hati, stres dan mengorbankan jatah cuti demi pontang-panting mengurus anak dan rumah saat ditinggalkan si asisten dengan begitu tiba-tiba hanya disertai penjelasan singkat melalui SMS:

“Bu, aq ga balik lg. Muuph.”

Salah seorang teman saya berkata dengan wajah pilu, “Bahkan baju-bajunya aja nggak dia bawa pulang ke kampungnya, Und.  Gue jadi mikir, salah gue apa sampai ditinggal sepihak begini.”

Mengapa teman saya sedemikian sedihnya?  Bayangkan saja: rumahnya jauh di pinggir kota, jauh dari orangtua atau mertua, anak masih balita dan karena kompleks perumahannya baru, agak tak mungkin menitipkan anak pada tetangga.  Bukan tak percaya, tapi rumah mereka masih kosong semua. Lalu piye?  Solusi sementara: nomaden tak terencana di rumah kakek neneknya, yang berarti perlu biaya tambahan untuk transportasi.  Rumah pun tak terurus karena pemiliknya pergi subuh pulang malam.

ART oh ART, tak dinyana tanpamu hidup di ibukota sungguh terasa kejamnya.

Banyak pula pendapat yang mulai sinis berkata, “Ah manja.  Tanpa ART juga bisa, kok.  Kenapa mesti apa-apa dilayani, sih?”  Masuk akal juga.  So what kalau kita meninggalkan rumah dalam keadaan kosong?  Anak pun dengan mudah dapat kita titipkan di daycare dekat kantor.  Anak yang sudah sekolah pun gampang, kok, naik jemputan saja, dijemput dan diantar sampai di depan rumah.  Nyaman, cepat dan orang tuanya jadi bisa konsen bekerja di kantor.

Tapi apakah kenyataannya seideal itu?

Sayangnya tidak sama sekali.  Kaum urban khususnya di Jakarta sering dihadapkan pada kenyataan hidup bahwa: rumah yang ditinggal dalam keadaan kosong berisiko jauh lebih tinggi untuk dirampok ketimbang ditunggui oleh orang yang dipercaya.  Belum semua gedung perkantoran pun telah memiliki daycare atau penitipan anak yang mumpuni.  Lagipula, bagi mereka yang bekerja di bidang kreatif yang sering terjerembab di ranah lembur mungkin juga masih bertanya-tanya apakah ada daycare yang buka sampai sekitar pukul … 10 malam?  Nampaknya belum.  Jika anak sudah sekolah, benarkah melepasnya naik jemputan kini menumbuhkan rasa aman?  Bisa ya, bisa juga tidak.  Serba dilematis, itulah judulnya.

Support system khususnya bagi orangtua yang sibuk di luar rumah rasanya memang harus diakui masih amat sangat penting demi membantu kelancaran operasi rumah tangga.  Memang selalu ada Nenek atau Kakek bahkan Tante yang bisa dimintai tolong untuk mengawasi si kecil atau sekadar memasakkan makan siang, tetapi haruskah mereka direpotkan walau mungkin mereka melakukannya dengan senang hati?

Jangan dikira hanya orangtua yang keduanya bekerja saja yang tergantung dengan ART.  Teman saya seorang ibu yang tinggal di rumah pun masih memerlukan kehadiran ART.  Mohon jangan cepat-cepat di-judge karena kemampuan mengurus rumah tangga tak hanya ditentukan dari lancar-tidaknya dia membersihkan rumah, bukan?

Mari kita terima dengan lapang dada bahwa budaya Indonesia, khususnya di pulau Jawa, memang budaya yang tidak memandang miring pada keberadaan sistem pendukung ini.  Mau yang tinggal bersama atau pun yang mampir hanya untuk mencuci atau masak dengan sistem harian, ART sudah sedemikian biasanya ada di dalam sistem rumah tangga Indonesia di mana pun daerahnya.

Kembali ke hubungan harmonis yang harus dibina dengan ART, saya termasuk orang yang amat beruntung di bidang ini.  Sejak kecil saya dibesarkan di rumah yang menganut paham bahwa ART itu penting, dan karenanya harus dihargai.  Karena prinsip ini mungkin, ART di rumah saya tahan sampai puluhan tahun.  Yang sekarang sudah 20 tahun lebih ikut orangtua saya, dan karena saya tinggal seatap dengan orang tua, maka sejak bekerja saya sudah turut berkontribusi membayar gajinya.

Saya tak urung bertanya pada ibu saya, apa yang membuat para ART kami ini bertahan lumayan lama, dan mungkin bisa saya bagi di sini beberapa kiat dari ibu saya untuk membina hubungan yang baik dan harmonis dengan para ART.

  • Gaji yang pantas … dan on-time!

Berapa jumlah gaji yang pantas bagi para ART memang bervariasi bagi tiap keluarga.  Tapi satu prinsip ibu saya yang juga saya terapkan saat ini pada pengasuh anak yang baru saya pekerjakan: mereka harus bisa mengirimkan setidaknya 50% gajinya ke kampung untuk keluarganya, dan tetap bisa menabung.  Selain itu yang terpenting: bayarlah gaji mereka sesuai tanggal yang disepakati.  Jangan pernah berpikir untuk menahan bayaran mereka sebagai ‘asuransi’ agar mereka selalu kembali bekerja saban mereka cuti pulang kampung.  Lagipula, jika kita bekerja, tentunya akan bete, ya, kalau gaji dibayarnya terlambat?  Sama, mereka juga, lho.

  • Penuhi kebutuhan dasar

Keluarga kami selalu memenuhi kebutuhan dasar para ART mulai dari sabun, sampo dan sikat gigi (dan zaman sekarang harus ada jatah pulsa).  Makanan mereka tak berbeda dengan makanan kami jadi semuanya memang sekali masak.  Ibaratnya, kami makan oseng kangkung, mereka juga.  Kami makan semur daging, mereka juga.  Jika mereka sesekali ingin jajan di luar atau masak makanan mereka sendiri, silakan.  Tapi kami tak pernah memotong gaji mereka untuk ‘uang makan’.  Prinsip kami, ketika mereka tinggal bersama kami, mereka tanggung jawab kami dan sudah kami anggap keluarga sendiri.  Ayah saya punya satu kiat yang ingin ditambahkannya: jangan pernah memerintahkan pada ART untuk makan setelah kita selesai makan.  Berikan kebebasan pada mereka untuk makan jam berapa saja saat mereka merasa lapar.  Jangan pernah kunci pintu lemari makanan atau kulkas untuk meminimalisir rasa penasaran yang bisa berujung negatif.  Bahkan, tawarkan pada mereka untuk mencicipi setiap kita membeli makanan.  Ayah saya yang dahulu juga lahir dan besar di kampung percaya bahwa ‘people think clearer with a full stomach’.  Orang bisa berpikir lebih jernih saat kenyang.  Kalau pikirannya jernih, pekerjaannya juga akan dilakukan lebih baik.

  • Percaya

Berpuluh tahun dengan asisten rumah tangga yang sama, tentunya ada rasa percaya yang ditanamkan di sana.  Ini benar dan sudah terbukti.  Ibu saya selalu memberi wejangan awal yang sama pada semua ART yang dipekerjakannya, dan ini saya tiru sekarang.  Isi wejangannya kurang lebih seperti ini: “Kami menghormati barang-barangmu, dan kamu harus menghormati barang-barang kami. Jika kamu dari kecil diajarkan untuk jujur, di sinilah tempat untuk membuktikannya.”  Bukan berarti keluarga kami nggak pernah kena tipu juga, sih, tapi dari kurang lebih 6 ART yang pernah bekerja untuk kami, hanya 1 yang berani menggasak kalung dan cincin orangtua saya.  Ya sudahlah, mungkin memang belum jodoh dan saat itu sedang diingatkan untuk banyak beramal :)

  • Treat them as human beings

Namanya manusia saat bekerja pasti ada juga naik turunnya.  ART pun begitu, karena bukan berarti mereka tak boleh merasa sedih atau bete.  Jika keadaan sedang begini, tunggu waktu yang tepat untuk mengajak mereka bicara, menanyakan masalahnya apa.  Jika mereka butuh cuti untuk pulang kampung, perhatikan urgensinya dan kita harus pandai bernegosiasi.  Jika masalahnya finansial, bantu semampu kita. Namun bila berulang kali, ya, stop saja.  Ada juga oknum ART nakal yang gemar bersandiwara soal ini.  Pesan ibu saya, sih, jeli dan percayailah insting kita.

  • Kenali keluarganya

Ibu saya bilang, banyak keluarga modern yang hanya ‘kenal’ sama si ART tanpa tahu asal-usulnya.  Ini nggak pernah berlaku di rumah kami karena selama ini, seluruh ART yang pernah bekerja di rumah kami pasti keluarganya kami kenal.  Bagaimana caranya?  Ya, kenalan saja.  Saat liburan road trip ke Jawa Tengah, kami menyempatkan diri mampir ke kampung mereka.  Toh, menjaga silaturahmi selalu ada baiknya.  Kami jadi tahu si A ternyata anak seorang petani jagung, si B ternyata desanya amat tertinggal, si C ternyata diam-diam sedang membangun rumah di desa hasil tabungannya selama ini.  You’ll never know these things (and actually be proud of them) unless you treat your workers the way you want to be treated.

Nggak sempat jalan-jalan?  Mengundang orang tua mereka untuk datang menengok sesekali pun tak apa.  Beri para ART libur sehari untuk tamasya ke Ancol atau Taman Mini bersama keluarga mereka, karena mereka pun perlu refreshing sesekali.  Mengenal keluarga mereka ini penting karena jika ada sesuatu hal yang terjadi, apa pun itu, kita jadi tahu ke mana kita harus menghubungi keluarganya.

Mungkin sebagian dari kita masih memandang miring profesi ART, apalagi banyak berita soal tindak kriminal yang dilakukan para ART berseliweran di layar kaca hampir setiap hari.  Tapi, dengan niat yang baik dan perlakuan yang baik, niscaya hal-hal buruk takkan terjadi pada keluarga kita, dan SMS yang masuk ke HP kita saat ia pulang kampung menjadi:

“Bu, aq balik Senin y. Mo titip ap? Bls.”

:)

Image from here


12 Comments - Write a Comment

  1. Setujuuu bgt, gw pun berusaha menuhin kebutuhan ART gw dan kasih gaji yg pantas walaupun kerjanya blm 1 tahun, krn gw inget pesen suami : emg kamu mau dikasih gaji segitu untuk ngerjain kerjaan Rumah tangga selama sebulan?: jegeerrrrr :D dan kl weekend gw kadang suka pergi b4 aja sm anak2 dan suami supaya si mbak2 bs istirahat di rumah ;)

  2. Zaman single dulu, teman gue yang udah berkeluarga bilang “belum bisa disebut emak-emak kalo belum ribet masalah ART”. Dan sekarang juga pernah mengalaminya.

    Kiat2 di atas, sangat mirip yang dilakukan sama nyokap gue. ART di rumah gue saat ini adalah ‘warisan’ nyokap. Dia udah ikut sama nyokap dari masih kecil, masih belum bisa apa2, sampe sekarang jago bener masaknya. Saking udah lamanya, kalo gue jadi udah anggap dia keluarga. Jarang nyuruh2, lebih ke minta tolong, toh tanpa disuruh pun dia sudah tau apa yang harus dilakukan.

    Bicarain masalah ART/ BS/ apapun itu, selalu kepikiran bahwa “cari ART lebih susah daripada cari jodoh, ya” :D

  3. Kalau buat saya yang terpenting itu banyak-banyak toleransi.. jangan mengharapkan ART (atau karyawan rumah yg lain) bisa punya standar seperti kita.. asal orangnya mau kerja, mau diajarin, dan paling penting jujur ya sudah.. ada kekurangan-kekurangan dikit merem aja lah istilahnya :)
    Dan yang lucu, apa memang kebanyakan mereka kalau nulis SMS alay gitu ya? haha.. yang di rumah soalnya juga gitu semua :D

  4. sebenernya pengalaman gue punya ART ya baru sejak menikah.. nyokap dulu ngurus kita berempat sendiri :’)

    anyway, sejak punya anak 2 th lalu, gue punya ncus yang cukup loyal, 1.5 tahun. sisanya dia emang dr awal perpanjang kontrak udah bilang bahwa abis lebaran mau stay di kampung sampe 3 bulanan, kita setuju sampe dia dapet dulu penggantinya. khusus penggantinya kita ngga ambil dari yayasan lagi. si mba baru tampak ok seperti si ncus, akhirnya pas si ncus mau balik, kita bilang bahwa untuk sementara mau sama si mba baru ini aja dulu, si ncus ngga keberatan.

    trus awal tahun dia bilang mau pulkam bulan maret awal mau sembahyang utk anaknya yang udah meninggal pas lahir karna katanya sering mimpi, kita setuju. karna dia bilang cuman 10 hari, akhirnya titip anak di daycare karna kita ngga mau ngerepotin orangtua. ehhh, mendekati 10 hari, feelin gue udah ngga enak, di telfon ngga bisa, di sms ngga bales2. akhirnya sempet beberapa minggu ini kelabakan nyari ncus yang bener, anak juga tampak ngga nyaman di daycare yang berujung titip ke orangtua padahal udah ngga enak banget (yg untungnya mereka sama sekali ngga keberatan, malah mereka yg minta).. si ncus yang lama kepengen kerja sama kita lagi karna katanya dia emang belum bisa lupain anak gue, tapi ngga enak terikat kontrak. gue juga ngga mau hijack dia, karna gue bakalan sedih jg kalo ada di posisi si majikan.

    baru aja semalem dapet ncus baru dari yayasan yang moga2 baik, paling ngga nunggu sampe si ncus lama balik sampe abis lebaran :D (yes, she promise will be back to us after lebaran).

    seperti yang miunds tulis, semuanya kita udah coba lakuin. kalo kata suami malah gue terlalu baik sama mereka. gue suka ajak ngobrol layaknya temen karna emang usianya masih muda2. apa yg kita makan, itu yg mereka makan. gue selalu usahain stok lauk dan cemilan mereka, pulsa pun gue selalu beliin.

    tapi yahhh, emang ngga seru yah jadi emak2 kalo keenakan dapet ART/ncus yang selalu OK *itu hipnoterapi gue aja sih yang udah sutris tiap hari hahahah..*

    jadi curhat panjaaaaaaaanggggg bener :D :D

  5. Prinsip orangtua mbak Miunds sama seperti orang tua gw, apalagi masalah gaji dan berbagi makanan, perlu kita maklum kalau mungkin di kampung belum tentu mereka merasakan coklat KitKat Green Tea atau biskuit yg enak. Ortu gw juga menekankan supaya selain memperkerjakan para ART juga mengutamakan anak-anak atau keluarga mereka jika kita ingin beramal, misalnya masalah biaya sekolah keluarganya sebisanya kita bantu., masa kita jauh-jauh cari yayasan amal tp yg di sebelah kita gak dipikirkan. Mereka pun berpesan boleh menasehati atau menegur ART tapi tidak perlu marah untuk hal yg sebenarnya tidak penting atau tidak membahayakan anak-anak kami.

  6. pengen komen satu-satu boleh ya…ini soalnya dilema banget buat emak-emak.
    gaji yang pantas : ini kan relatif ya. banyak ramai berkomentar kalau gaji art di bawah satu juta itu tidak pantas. tapi kenyataannya : sekarang banyak art minta gaji satu juta tapi gak punya kemampuan apa-apa. yang lebih parahnya lagi kalau sudah gak punya kemampuan, gak ada kemauan pula.
    penuhi kebutuhan dasar : pasti dibeliin toiletries, dan dikasih makan yang sama dengan yang kita makan. tapi jujur gw gak setuju kalau art/other domestic workers bebas ambil apa pun di kulkas/lemari makan. kalau kita potong kue tart pas ada yang ultah misalnya, mereka pasti dikasih kok. tapi bagian mereka ya itu. mau lagi ? boleh, tapi diambilin, bukan ambil sendiri. kadang ada aja, udah di rumah dikasih makan, pengennya jajan bakso lewat. maaf, kalau itu silakan tanggung sendiri, bukannya gak disediain kan. juga gak suka kalau nemu art yang picky, ah saya gak suka ikan/gak suka daging sapi/gak suka ini itu dll. lha ? terus ? adanya ini kok, saya juga makan ini, kok kamu milih2. mending kalau dia bisa masak, kalau gak bisa ? jadi kita yang harus ketiban kerjaan tambahan buat masakin dia karena gak doyan ?
    pulsa ? tergantung, apakah dia punya hp itu penting bagi kita ? atau masih bisa lewat telfon rumah ? beda situasi beda cara.
    percaya : pasti (kalau enggak masa mau ninggalin dia jaga rumah) tapi waspada itu harus.
    treat them as human beings : pasti lah, tapi kita pengen profesionalisme juga dong. bs adik, tiap dua hari sekali sakit, pusing, gak keluar2 sampai siang. ternyata setelah diusut malemnya telfon2an sampe malem, alesannya kangen sama ibunya. ini namanya cari masalah. saya bilang, saya kalau malemnya tidur malem, atau bahkan begadang ngurusin anak, besok paginya juga tetep udah harus ada di kantor lagi, gak jadi alasan terlambat. disini kamu kerja, silakan kalau kamu mau telfon2an sampai malem, tapi jangan itu dijadikan alasan untuk penurunan kualitas kerja kamu.
    paling susah point terakhir : kenali keluarganya. secara keluargaku gak pernah tour de java on the road gitu, kecil banget kemungkinan kenal keluarga, tau kampung dan rumahnya, etc. paling ketemu ibu/bapak/anak/saudara yang pas lagi berkunjung aja. itu pun sekarang lagi mikir mau ngikutin gayanya arienda : dilarang memberitahu alamat majikan, jadi kalau mau ketemuan kudu di tempat lain.
    sounds kejam ? kalau saya bilangnya : tegas/saklek. tapi ngeliat betapa tidak beresnya supply art/domestic worker sekarang ini, rasanya memang harus lebih tegas deh.
    cuma ya memang mungkin bagi saya terbuka pilihan no maid/bs, secara kerjanya juga gak full day, dan anak2 udah mulai besar, yang kecil di tk nya ada daycare juga, jadi memang memungkinkan (walaupun gak bohong, kalau ada yang bisa dipercaya bantu di rumah mau banget). kalau emak emak yang full day di kantor tentunya susah ya.

  7. setuju sama Muti, setelah berganti beberapa ART emang mst tegas namun tetap penuhi kebutuhan dasarnya, ART jaman skrg udah beda dgn yg dulu, akhirnya aku juga ngga bergantung sepenuhnya pada ART ada syukur, engga ya udah :)

    1. Prinsipnya sama udh sama banget yang diterapin di rumah nyokap gue. Kebetulan saat ini gue juga masih nebeng sama nyokap.

      Tapi, tak dinyana tak diduga, meskipun udh dianggep seperti keluarga sendiri, ART dan pengasuhnya Bumi belum lama ini memutuskan pulang kampung. Duh, patah hati, deh. Apalagi mengingat Bumi sudah diasuh sama si Mbak Sofi dari Bumi 5 bulan, dan sekarang Bumi sudah 2 tahun 11 bulan. Sudah 2,5 tahun mereka bantu2in gue di rumah. Jadi memang sudah klop banget.

      Mungkin karena juga si ART dan pengasuh Bumi sdh cukup lama kali, ya, jadi mereka bosen. Kebetulan ART dan pengasuh Bumi ini memang sepupuan. Jadi, satu cabut, yang lain juga ikut-ikutan.

      Yang bikin #jleb , kemarin Bumi masih tanya, “Ibu, mbak Sofi mana?” pas gue jawab dan coba terangin ke Bumi kalau sekarang mbak Sofi sudah pulang kampung dan nggak akan balik lagi karena sedang jaga ibunya yang sakit, Bumi bilang lagi, “Oh, iya, nanti kalau mba Sofi nggak jaga ibunya, pasti ibunya sedih, ya. Tapi, nanti kalau ibunya sudah sembuh, mbak Sofi balik lagikan, bu?” *miris*

      Tapi, dengan nggak ada ART dan pengasuh Bumi di rumah, gue sama suami jadi banyak belajar juga, nih. Salah satunya, kemampuan masak gue jadi kembali terasah dengan setiap pagi harus siapin makanan untuk Bumi dan suami. Kalau dulu, seringnya cuma “nitip” minta tolong dimasakin ini dan itu. Sekarang, semua harus dikerjain sendiri :D

      1. Klo saya si, pake 2 ART, gaji ART sesuai peraturan menteri, yg diterbitkan barusan hehehhe trus untuk masakan, berhubung jarang makan di rumah, biasanya sy kasi jatah uang belanja klo ke pasar terserah deh dia mau bli apa n masak apa. Klo weekend diajak jalan k mall n makan siang sama” keluarga. klo kebutuhan sehari” ak ga sediain, tp sebagai gantinya ongkos PP klo pulkam selalu sy yg tanggung (kampungnya d luar pulau, hrs naik kapal laut dgn tiket 1jt PP). dan yg ga blh lupa THR klo mrk pulkam. Dan yang plg penting menurutku, kt sebagai majikan ttp hrs mau turun tangan kdg”, mau bantu kerjaan mrk sekali”, jgn sll maunya disediain n dikerjakan ama ART. Alhasil, ARTku udh kerja 4,5thn

Post Comment