Peran Ibu dalam Menurunkan Kasus HIV/AIDS

Tujuan Millenium Development Goal (MDG) yang terkait dengan HIV adalah menekan laju penularan HIV/AIDS sampai berhenti di tahun 2015, dan menurunkan penyebarannya. Khusus untuk 2010, targetnya adalah akses yang luas terhadap layanan kesehatan dan pengobatan HIV/AIDS.

Data yang ditunjukkan oleh dr. Nia menunjukkan turunnya temuan kasus HIV pada anak di Indonesia dalam kurun waktu 2010-September 2012. Ini disebabkan oleh:

  • membaiknya fasilitas deteksi.
  • tenaga kesehatan yang terlatih menangani kasus HIV makin banyak.
  • meningkatnya fasilitas kesehatan yang mampu menangani kasus HIV.

Salah satu cara mengurangi penderita AIDS adalah dengan cara menemukan sedini mungkin pengidap HIV dan mengobatinya/memberi perawatan sehingga HIV tidak berkembang menjadi AIDS. Ini termasuk mendeteksi ibu-ibu hamil pengidap HIV. Ibu pengidap HIV, bila dirawat sedari dini, akan mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi. Prosentase terbesar (90%) penularan HIV pada anak adalah dari ibu via kehamilan. Bisa saat masih dalam kandungan, saat persalinan, maupun setelah persalinan.

Sehubungan dengan ini Menkes mengeluarkan Surat Edaran “Layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)”, dengan poin-poin sebagai berikut:

  • Menemukan kasus ibu hamil yang terinfeksi HIV. Ini bisa dideteksi melalui layanan pemeriksaan ibu hamil seperti di puskesmas atau posyandu. Setiap ibu hamil disarankan untuk menjalani tes HIV.
  • Bila terdeteksi positif, wajib diberikan pengobatan ARV (anti retroviral) dan menjalani perawatan lanjutan.
  • Pelaksanaan persalinan bergantung pada indikasi obstetrik, dengan rekomendasi SC untuk memperkecil prosentase penularan.
  • Pilihan nutrisi bayi dari ibu penderita HIV adalah ASI saja atau susu formula saja. Berdasarkan penelitian di Afrika, ternyata penggunaan salah satu saja sumber nutrisi, lebih kecil tingkat penularan ketimbang yang menggunakan dua sumber nutrisi secara bergantian. Masih diteliti lebih lanjut alasan medis untuk kondisi ini.

Rekomendasi tes HIV bagi ibu hamil rencananya akan diwajibkan mulai dari tingkat posyandu, puskesmas sampai ke rumah sakit. Tes HIV sedang diupayakan mendapat subsidi dari pemerintah sehingga biayanya bisa gratis, atau minimal lebih murah dari sekarang untuk memperluas cakupan tes. Pengobatan ARV sendiri sejak tahun 2004 telah tersedia gratis di Indonesia.
Untuk anak yang terdeteksi sudah tertular HIV, tatalaksana umum yang perlu dilakukan adalah:

  • penanganan nutrisi (nafsu makan, asupan harian, akses terhadap makanan, dan pola pengasuhan)
  • mengatasi infeksi yang sering menjangkiti pengidap HIV, misalnya TB, diare karena parasit, CMV, dll
  • pencegahan infeksi TB dan PCP (pneumonia).
  • nilai indikasi ARV.
  • KIE (komunikasi, informasi, edukasi).

Masalah yang timbul dalam pemberian ARV pada anak-anak adalah:

  • bentuk tablet/kapsul yang hanya tersedia dalam ‘ukuran’ dewasa. Anak-anak kesulitan menelan tablet ARV yang seukuran seruas jari dewasa. Ini menurunkan motivasi anak untuk minum obat, bahkan membuat mereka menolak pengobatan.
  • pengobatan ARV harus dilakukan seumur hidup. Ini sering menjadi pertanyaan bagi anak-anak yang sudah cukup besar, mengapa harus minum obat terus sementara temannya (yang tidak terkena HIV) tidak perlu minum obat, dan teman yang lain lagi (sakit biasa) hanya minum obat dalam jangka waktu tertentu saja. Dr. Nia menjelaskan, untuk anak yang sudah berusia 13 tahun akan dijelaskan mengenai HIV/AIDS dan keharusan pengobatan seumur hidup.
  • pemberian obat anak, jadwal pengobatan, jumlah dosis dan jenis obat yang harus diminum, masih tergantung pada pengasuh. Anak belum bisa mandiri dalam hal ini. Jadi kesinambungan pengobatan anak juga tergantung pengasuhnya.
  • situasi ‘non disclose’. Pembicaraan terkait dengan HIV cenderung masih sulit dilakukan secara terbuka. Stigma-stigma sosial tentang AIDS masih tertanam pada masyarakat awam.
  • efek jangka panjang.

Kasus AIDS pada usia 0-4 tahun di Thailand dalam kurun waktu 1984-Juni 2008 telah membuktikan bahwa laju perkembangan kasus HIV baru dapat ditekan bahkan dikurangi. Dari temuan 21 kasus sepanjang tahun 1984-1990 memuncak menjadi 1250 kasus pada tahun 1997, berhasil ditekan dan dikurangi hingga 9 kasus saja pada 2008.

Semoga hal yang sama berhasil dilakukan di Indonesia mengikuti keberhasilan penekanan laju pertambahan kasus AIDS baru dalam selang waktu 2010-2012. Partisipasi aktif dan kesadaran sosial masyarakat akan tumbuh seiring dengan makin meluasnya informasi tentang HIV/AIDS.

 

sumber: print out presentasi
sumber foto dari sini

 


Post Comment