Tubektomi Permanen? Tidak Lagi

Selama ini kita punya persepsi bahwa menjalani steril, baik tubektomi atau vasektomi berujung permanen dan tidak bisa di-undo. Ternyata nggak, lho. Dari informasi yang saya dapat saat mempertimbangkan untuk menjalani steril seperti yang saya ceritakan di artikel Steril, Psikologis dan Agama, memang kebanyakan dokter kandungan mengatakan tidak reversible. Tapi pada kenyataannya di AS dan beberapa negara lain -kabarnya yang murah malah di Meksiko- ada banyak klinik yang melayani tubal ligation reversal atau rekanalisasi saluran tuba dan vasectomy reversal dengan klaim tingkat kesuksesan 85% untuk eks tubektomi dan 40-50% untuk eks vasektomi.

Tubektomi secara umum ada beberapa cara:

  1. Diikat: saluran tuba dibuat semacam simpul lalu diikat atau diberi penjepit.

     

  2. Diputus, ada beberapa cara yaitu:

    – diikat dulu lalu dipotong ujungnya (metode Pomeroy, metode yang paling banyak dipakai).
    – dipotong dulu lalu ujung-ujungnya diikat masing-masing.
    – dipotong lalu ujungnya di-cauter atau istilah lain, dilaser, untuk membuntu saluran.

  3. Disisip semacam spiral (metode Essure-Adiana): dengan disisip spiral logam, jaringan akan terluka dan membentuk jaringan baru yang akan membuntu saluran tuba.

     

  4. Fimbriectomy: pemotongan bagian fimbria, yaitu bagian berumbai di ujung saluran tuba.

Dari cara-cara di atas, yang tingkat keberhasilannya paling tinggi untuk direkanalisasi adalah yang diikat atau dijepit. Untuk yang dipotong, metode Pomeroy juga masih cukup tinggi keberhasilannya. Baca-baca di forum Babycentre.com, banyak juga yang sukses hamil lagi dalam waktu kurang dari setahun setelah menjalani rekanalisasi terutama eks tubektomi dengan metode Pomeroy.

Dengan majunya ilmu kedokteran sekarang ini, saluran tuba yang diikat bisa dilepas lagi, dan yang dipotong bisa disambung lagi melalui microsurgery. Bahkan pada saat saya googling tentang penyambungan kembali saluran tuba setelah tubektomi (tubal ligation reversal) saya temukan beberapa klinik di USA ternyata telah sukses memperbaiki saluran yang telah buntu karena menjalani metode Essure-Adiana. Berapa ongkos microsurgery untuk  tubal ligation reversal di USA? Masih lebih murah ketimbang menjalani bayi tabung di sana.

Saya coba telpon ke beberapa rumah sakit di Jakarta, tapi nampaknya tindakan ini masih kurang familiar. Jangankan nanya harga, nanya tindakan saja perawat bahkan nggak bisa jawab. Yang menyatakan bisa malah satu rumah sakit di Yogyakarta, dengan biaya 12 juta rupiah. Sementara RS lain rata-rata menyarankan konsultasi terlebih dahulu untuk menentukan tingkat kesulitan dan keberhasilan tindakan.

Secara umum, sih, dari literatur yang saya baca, kontraindikasi rekanalisasi adalah:

  • Umur pasien >37 tahun
  • Tidak ada ovulasi (atau ada masalah dari faktor ovarium)
  • Suami oligospermi atau azoospermia
  • Keadaan kesehatan yang tidak baik, dimana kehamilan akan memperburuk kesehatannya
  • Tuberculosis genitalia interna
  • Perlekatan organ-organ pelvis yang luas dan berat
  • Tuba yang sehat terlalu pendek (kurang dari 4 cm)
  • Infeks pelvis yang masih aktif

Sedangkan tingkat keberhasilan rekanalisasi tergantung dari:

  • Luasnya kerusakan karena penggumpalan atau perlengketan jaringan.
  • Panjangnya tuba yang tersisa setelah rekanalisasi (segmen proksimal dan distal), jika panjang tuba total < 4 cm kemungkinan keberhasilan ± 4%, jika panjang > 8cm keberhasilan ± 83,33% (Jain, dkk).
  • Tersedianya alat dan kemampuan untuk melakukan rekonstruksi dengan teknik bedah mikro.
  • Jenis sterilisasi yang dilakukan.
  • Selang waktu antara steril dan rekanalisasi juga berpengaruh terhadap keberhasilan rekanalisasi, ± 69,5% jika selang waktu 5 tahun, dan hanya 16% jika selang waktu lebih dari 5 tahun.
  • Kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik semakin meningkat, karena terdapat perbedaan luas saluran yang disambung kembali.

Dari yang saya alami, sama sekali tidak terasa adanya efek samping secara fisik maupun psikis. Walau ketika googling tentang tubektomi saya menemukan pembahasan tentang risiko tindakan yang kurang lebih sama dengan risiko operasi-operasi lain. Malahan menurut penelitian, tubektomi menurunkan risiko kanker indung telur. Mungkin karena jalan ke sumber paparan sudah diputus, ya. Saya juga menemukan artikel tentang post tubectomy syndrome, di mana penderitanya kebanyakan menjalani tubektomi karena terpaksa atau dipaksa. Jadi mereka secara mental tidak siap.

Semoga tulisan ini bisa membantu Mommies yang sedang mempertimbangkan atau dihadapkan pada keputusan untuk steril. Tapi walau bagaimanapun, untuk menghindari masalah psikologis di kemudian hari, sebaiknya memantapkan hati terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk steril.

sumber:
http://community.babycenter.com/
http://najibspog.blogspot.com/2010/04/tubektomi-rekanalisasi-wanita.html

http://www.mayoclinic.com/health/tubal-ligation/MY01000

sumber foto dari sini, sini, dan sini


3 Comments - Write a Comment

  1. Halo mom,
    Duh waktu itu saya cuma riset singkat sambil googling walau memang RS/klinik ybs saya telpon langsung. Sayangnya saya nggal simpan nomor dan alamatnya. Saya googling jg sudah lupa apa keywordnya supaya sampai ke link yg dimaksud.

    Tapi sambil baca2 sepertinya belakangan makin banyak artikel dan dokter yang menulis tentang kemungkinan rekanalisasi. Saya googling dptnya dokter di RS Brawijaya Jakarta dan satunya di Pekanbaru.

    Mungkin mom bisa tanya sama dokter yg dulu menangani tubeknya?

Post Comment