Indra Noveldy, “Target Saya Menurunkan Angka Perceraian”

Sudah pernah membaca artikel Lita yang mangulas buku ‘Menikah Untuk Bahagia’? Saya rasa jika Mommies sudah membaca bukunya, pasti akan setuju dengan kalimat Lita yang mengatakan, “Membaca buku karya Indra Noveldy ini membuat saya merenung. Banyak sekali kalimat yang menurut saya #jleb dan diam-diam ngebatin, gue banget, nih”.

Dan ternyata benar, loh, saya juga merasakan banyak kalimat yang bikin saya #jleb dalam buku tersebut. Sebelum membaca buku Menikah Untuk bahagia, saya juga pernah datang ke seminar pernikahan Indra Noveldy tentang bagaimana menciptakan soulmate. Di sana, banyak fakta yang membuat saya membuka mata lebar-lebar.

Waktu itu, Indra Noveldy bilang bahwa untuk mencapai pernikahan bahagia  tidak hanya butuh perjuangan, kedua belah pihak baik istri ataupun suami harus selalu tingkatkan skill dan knowledge dalam kehidupan pernikahan.

Sabtu 30 Maret besok, Mommies Daily didukung oleh Commonwealth Bank mengadakan seminar Keys to Happy Marriage: Living Rich With Your Loved Ones dengan pembicara Indra Noveldy. Sebelumnya, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan beliau. Berikut kutipan wawancaranya:

Sejak kapan Anda memutuskan menjadi konsultan pernikahan?

Awal praktik bisa dibilang karena kejeduk, baca buku kurang lebih 7 tahun lebih dan akhirnya menemukan pola. Sebelumnya juga karena saya telah 9 tahun berproses, 7 tahun merasakan babak belur, dan 2 tahun konsolidasi. Dan akhirnya, kurang lebih sudah 4 tahun saya menjadi konsultan pernikahan.

Apa yang membuat Anda tergerak menjadi konsultan pernikahan?

Awalnya concern akan kehidupan rumah tangga sendiri dan ingin  berbagi dengan yang lain. Tapi setelah bertemu banyak sahabat yang kebetulan salah satunya adalah Pemimpin Redaksi media Parents Guide, akhirnya men-declare untuk serius di profesi ini.

Menjadi konsultan pernikahan tentu tidak mudah, ditambah latar belakang Anda bukan psikologi. Bagaimana cara Anda memahami dan masuk pada masalah yang dialami klien?

Pendekatan yang saya lakukan berbeda, dengan  membuat suasana konseling seperti curhat. Bukan seperti seseorang yang sedang mengidap penyakit. Saya juga harus mempelajari dangan cepat karakter orang yang sedang konsultasi. Konsultasi one on one, tidak langsung berpasangan.

Pernikahan Anda pernah di ujung tanduk, sehingga sempat mengorbankan karir yang sudah terbilang bagus. Apakah ada hal lain yang Anda korbankan demi mencapai pernikahan bahagia?

Untuk menuju pernikahan yang bahagia butuh banyak perjuangan. Karir hanya salah satu saja. Mungkin di sini saya tidak bisa menyebutkan satu per satu.

Wah, saya jadi penasaran dan nggak sabar menunggu seminar tanggal 30 Maret besok, kira-kira apa saja yang Mas Indra korbankan demi pernikahan bahagia, ya?

Apakah hikmah yang Anda dapatkan setelah melewati banyaknya persoalan dalam rumah tangga?

Alhamdulilah saling tumbuh satu sama lain. Kami dapat share kepada semua orang, dan kembali lagi ke dreams bisa menyentuh 1 juta pasangan di Indonesia, salah satu jalannya dengan adanya buku Menikah Untuk Bahagia, semoga bisa membantu.

Sejauh ini, masalah apa saja yang kerap memperuncing dalam ikatan rumah tangga?

Salah satu konsep yang sering saya temui dalam kehidupan pernikahan adalah konsep mengalah. Banyak orang merasa konsep mengalah itu mempunyai peran penting dalam kehidupan pernikahan. Tapi ternyata justru sebaliknya, karena mengalah itu ibarat per yang terus ditekan. Suatu saat akan menendang balik. Saya lebih menyarankan untuk coba untuk mengerti, agar satu sama lain dapat saling memahami apa yang jadi kebutuhan masing-masing.

Kondisi seperti apa yang harus diwaspadai pasangan sehingga membutuhkan konseling untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya?

Saya membagi dalam 4 stadium, dimulai dari stadium 1. Jika ada pertanyaan, loh, kenapa bukan dimulai dari sebelum stadium pertama? Jawabannya  sederhana saja, karena tidak ada pernikahan yang sempurna. Tidak ada kehidupan pernikahan yang bebas friksi, perbedaan pendapat dan konflik. Stadium digunakan untuk mengukur kadar permasalahan yang ada. Di stadium  3 dan 4 sudah butuh konseling pernikahan. Tapi balik lagi mencegah lebih baik daripada mengobati. Jika merasa lebih dini ingin datang ke konseling pernikahan, silahkan saja.

Sistem konseling apa yang Anda tawarkan?

Di awal lebih ke arah mengubah mindset hal-hal yang umumnya orang ketahui di kehidupan pernikahan. Dan saya masuk dari sudut pandang yang berbeda untuk membantu perubahan mindset itu sendiri.

Apa enaknya menjadi konsultan pernikahan yang bisa dikatakan “tempat sampah” dari klien?

Nggak enak, hahahaha. Tapi saya balik lagi ke dreams saya, yang ingin menurunkan tingkat perceraian di Indonesia, dan ingin menyentuh 1 juta pasangan.

Ada kiat yang mudah diaplikasikan untuk mendapatkan keluarga yang bahagia yang patut diingat kedua belah pihak, istri dan suami?

Selalu tingkatkan skill dan knowledge dalam kehidupan pernikahan. Contohnya bisa dengan membaca buku, datang ke seminar dan workshop.

Usia pernikahan saya baru 4 tahun, saya yakin masih panjang dan banyak sekali hal yang akan saya dan suami hadapi. Karena sejak kecil nggak pernah diajari untuk menjadi istri yang baik, makanya saya sangat antusias menanti saatnya seminar Keys to Happy Marriage Sabtu besok. Dan syukurlah, suami saya juga bersedia untuk datang.

Mommies bagaimana? Sudah mendaftar? Jangan sampai kehabisan tempat, lho!

 

 

 


3 Comments - Write a Comment

Post Comment