Traffic Talk

Saya pernah membaca artikel tentang relationship dan pernikahan yang ditulis seorang pakar. Menurutnya, pillow talk itu amat penting karena membuat pasangan bisa berkomunikasi dengan baik. Terutama bagi mereka yang hidup di perkotaan, dan sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing.

Berbeda dengan Adis yang rajin pillow talk dengan suaminya, buat saya dan suami, pillow talk itu sulit sekali dilakukan. Kenapa? Hingga saat ini, anak kami, Nadira (4 tahun), masih tidur dengan saya. Lalu, karena kami sama-sama bekerja dan tiba di rumah sudah malam, amat sulit bagi kami untuk mengobrol berdua sesaat sebelum tidur. Nadira pasti ingin bermanja dan ikutan ngobrol juga dengan kami. Kami juga nggak tega nyuekkin Nadira yang masih haus perhatian orang tuanya.

Jadi, alih-alih bisa ngobrol soal kerjaan atau peristiwa yang terjadi hari ini, waktu kami di malam hari pun lebih banyak didominasi oleh Nadira. Untuk menunggu hingga Nadira tidur lalu mengobrol, wah nggak mungkin deh. Bisa-bisa kami kesiangan bangun di esok harinya.

Untunglah, kami berangkat kerja bersama-sama. Di sinilah celah yang kami ambil untuk berkomunikasi. Kemacetan Jakarta setiap hari pun menjadi semacam blessing in disguise bagi kami berdua. Selama mengarungi jalanan yang macet tiap hari, saya dan suami bisa berbincang-bincang berbagai macam hal. Dari urusan anak, hubungan kami berdua, orang tua, teman hingga isu-isu politik, sosial dan ekonomi. Komplet deh!

*gambar dari sini

Tak sedikit saya mendapatkan ide tulisan untuk di Mommies Daily atau di blog pribadi dari percakapan kami saat terjebak macet. Saya pun merasa lebih bisa memahami suami, begitu pula sebaliknya.

Oleh karena itulah, saya agak kurang sreg saat kami sempat menggunakan jasa supir pribadi. Enak sih, saya dan suami bisa tidur sepanjang jalan. Namun, kami jadi tidak bisa berbincang-bincang dengan bebas. Meski Pak Supir sedang berkonsentrasi menyupir, ia tetap manusia yang punya telinga, kan? Jadi, saat ia minta resign, dengan senang hati kami meluluskannya. Lumayan, jadi ada waktu ngobrol-ngobrol di pagi hari lagi, deh :D

Sayangnya, sebentar lagi kantor suami akan pindah ke lokasi yang membuat kami sulit berangkat kerja bersama-sama seperti sekarang. Alhasil “traffic talk” kami pun terancam bubar jalan. Saya pun jadi bingung, solusi apa ya yang harus dilakukan supaya komunikasi kita lancar terus. Soalnya, sama seperti Lita yang menerapkan tradisi satu kuci, meski teknologi memungkinkan komunikasi lancar dimana pun dan kapan pun, ngobrol face to face dan berhadapan tetaplah cara yang terbaik.

Ternyata, suami juga kurang sreg dengan kepindahannya ini. Meski dia nggak paham dengan pillow talk etc, dia tetap merasa acara ngobrol di mobil pada pagi hari itu penting untuk memelihara hubungan kami berdua. Alhamdulillah ternyata kami sehati, hehehe…

Jadi, saat ini, solusi sementaranya mungkin adalah, seminggu sekali suami akan berangkat kerja lebih siang supaya bisa bersama-sama dengan saya lagi. Selain itu, komunikasi via gadget juga harus dipersering kayaknya, ya. Mudah-mudahan sukses, ah :)

Gimana dengan Mommies? Ada kah yang sering ber-“traffic talk” ria seperti saya atau justru punya pengalaman berkomunikasi lain yang tak kalah menarik?


12 Comments - Write a Comment

  1. Samaa…aku juga melihat kemacetan Jkt sebagai blessings in disguise. Karena Alhamduliilah, kantor kami searah, jadi bisa rumah kantor PP bareng, dan ini mungkin suatu priviledge sekali ya mungkin ga semua pasangan punya. Kita bisa ngobrolin apa aja, bahkan kalo lagi seru, jarak dari Sudirman ke bintaro di tengah kemacetan jam pulang kerja, jadi ngga berasa…tau2 udh sampai aja (ga tau juga sih, kalau buat dia mungkin tetep kaki pegel, hihi). At the end, Jkt traffic enables us to have proper conversations as couples
    :)))

  2. Ah memang orang Indonesia itu ahlinya nrimo keadaan, apapun disyukuri huahaha. Diriku pun dua tahun ini macet jadi quality time ga cuma sama suami tapi sama anak juga bow soalnya anak beangkat/pulang sama-sama ke daycare deket kantor. Kalo pacarannya kami pake bahasa Jepun jadi tokcer hehe *pasang kimono*. Bagaimana kalau ngomong pake bahasa kilab didepan driver? *kaki ga capek tapi otak capek…* Tapi terkadang tetep aja macetnya terlalu cetar membahana dan bukan remix, Akhirnyapun sop nya traffic talk sering kali dimulai dari “enaknya lewat mana ya yang ga macet”

    1. Indonesia, especially Jawa Mak. Semua hal adaaa untungnya hihihi :D

      Nah anak gue tiap emak bapaknya ngobrol pastiiii mau tau aje. Jadi susah deh ngobrol serius-serius, karena selalu ada suara kecil ngomong “Ibu itu maksudnya apa sih?” -___-

  3. buat gue traffic talk jauh lebih berkualitas ketimbang dirumah, di mal, dimanapun.
    di rumah yg ada gue ngider mulu, suami mancep depan tipi, gadget, ato laptop. ngga nyalahin jg krn guenya jg ngga luang.
    pillow talk juga jarang efektif karena bau bantal langsung ngorok, sementara eke masi ditagih setoran ASI.

    makanya ngemal sabtu ato minggu itu sebenernya gw tunggu2 banget karena selain bakalan cuci mata dan cuci mulut alias jajan, waktu talking2 bisa jadi lebih lama daripada seminggu penuh sebelumnya..-_-

  4. Selain suka ber-pillow talk di rumah, gue sama suami juga suka memanfaatkan ngobrol di jalan. Tp, kalau berangkat kerja kita naik kendaraan roda dua, paling obrolannya yang ringan. Nggak bisa serius2 karena suaranya suka keganggu dengan suara kendaraan lain :D
    Kalau urusan sengaja mampir makan seperti kaya Lita, sama juga, nih. Kalau ini, sih, seringnya jadi dalih gue aja buat bisa makan :))

  5. ikut nimbrung disini…as a newbie.. saya termasuk motorcycle talk kok.. walau memang jd tantangan sendiri memahami kata2 yang terpotong2 krn ga kedengeran, ato suami kepotong konsentrasinya krn mengemudi.. tapi setelah dijalani, saya menikmatinya… saya jadi lebih paham kenapa suami saya berinisiatif untuk melakukan motorcycle talk. selain kita berdua sama-sama bekerja,, suami saya tidak ingin ketinggalan informasi sedikitpun mengenai kita berdua, anak, dll. jadi dia memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk ngobrol..awalnya saya keberatan, ngomong serius kok dijalan alias di motor, tapi lama-lama saya menikmatinya.. klo lagi marahan, malah kangen obrolannya itu.. selain itu, jadi jalan saya untuk memahami dia kok :D

Post Comment