Ibu, Tanggung Jawab Siapa?

Pagi kemarin saya sudah tiba di kantor sebelum jam masuk, dan kebetulan si bos yang pria umur kepala 5 juga sudah duduk di ruangannya. Melihat saya datang, beliau tiba-tiba saja cerita kalau istrinya pagi ini menangis karena anak laki-lakinya sekarang lebih memilih untuk tinggal di rumah orangtua sang istri, karena anak mereka yang baru berumur 3 bulan sakit, dan bercerita rupanya mereka cukup lelah untuk hidup nomaden satu minggu sekali pindah dari rumah orangtua ke mertua yang memang jaraknya cukup dekat.

Istri si bos rupanya tersinggung, dan juga sedih nggak bisa tiap hari liat cucu. Alasan yang sangat bisa diterima, tapi kalau dipikir-pikir, seandainya saya di posisi si menantu, pastinya saya lebih memilih untuk tinggal bersama ibu saya daripada sama ibu mertua bukan? Jika memang bisa memilih, lho.

Dari dulu saya juga selalu berpikir kalau seorang ibu di mana-mana memang harusnya tinggal sama anak perempuannya karena ketidakharmonisan ibu mertua dengan menantu perempuannya lebih sering kita dengar daripada ketidakharmonisan antara bapak mertua dengan menantu laki-laki, kan?

Mungkin karena memang wanita itu memiliki kecenderungan lebih personal daripada pria. Wanita lebih punya hasrat dan perasaan yang kuat terhadap orang lain. Sedangkan pria lebih berorientasi kepada pikiran praktis dan kesimpulan yang logis. Kebanyakan wanita menganggap perubahan itu agak menakutkan, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri. Sedangkan pria cenderung lebih mudah untuk menyesuaikan diri.

Saya jadi teringat ibu mertua saya yang dulu memang tinggal satu pagar dengan kakak ipar perempuan. Tapi tidak seperti cerita Aanpinkie soal tinggal sepagar dengan mertua, hubungan kakak ipar dengan mertua bisa dibilang kebalikan. Tapi bukan perang dunia juga, sih, hehe. Sekarang mereka bisa dibilang sudah lebih memahami satu sama lain dan akrab, walau akhirnya solusinya memang tidak tinggal satu pagar.

Dari pengalaman si bos, kakak ipar dan juga saya sendiri, saya masih mengambil kesimpulan bahwa memang (jika ada pilihan) anak perempuan lebih baik tinggal bersama ibunya. Tapi kemudian saya penasaran juga, menurut agama yang saya anut, sebenarnya orangtua itu tanggung jawab anak laki-laki atau anak perempuannya? Lalu dari hasil googling saya membaca hadis ini:

 

”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim).

Dari situ saya menyimpulkan ternyata memang orangtua itu tanggung jawab anak laki-lakinya. Tapi saya percaya pastinya masing-masing punya situasi dan kondisi yang berbeda. Tapi satu yang pasti setiap anak bertanggung jawab terhadap orangtuanya. Begitu penting berbuat baik dan berterima kasih kepada kepada kedua orangtua kita, sampai dibilang “Ridha Tuhan terdapat pada keridhaan orangtua. Dan murka Tuhan terdapat pada kemurkaan orangtua.”

Lalu saya berhenti memikirkan bahwa seorang ibu lebih baik tinggal bersama anak perempuannya. Kalau situasinya mengharuskan kita tinggal bersama ibu mertua, mungkin sebaiknya kita baca dan pahami lagi hadis HR Muslim di atas. Karena bagaimana pun laki-laki yang bijak seharusnya bisa menuntun istrinya untuk menyadari bahwa seorang laki-laki meskipun sudah menikah, tapi masih punya kewajiban untuk mengurus ibunya. Tapi masalah praktik dan kiat, sepertinya saya belum bisa banyak nulis, deh, hahaha. Semuanya serba situasional, ya, karena penjabaran di atas berdasarkan ajaran kepercayaan yang saya anut. Bagaimana menurut Mommies?


11 Comments - Write a Comment

  1. Terlepas dari hubungan saya dengan ibu Mertua yang selalu naik turun, saya selalu beranggapan bahwa saya lah orang ketiga diantara hubungan antara suami dan anak. Sehingga sebisa mungkin saya berusaha untuk mengalah (walaupun kadang ga berhasil hahaha). Hasilnya? Saya berhasil kok hidup selama 6 tahun dalam satu atap (bukan cuma satu pagar ) sama ibu Mertua. Pahit? pastilaahh.. tapi ga selalu kok. Masih ada manisnya..

    1. iya gue mikirnya karena mantu si bos lebih milih tinggal ama ibu nya drpd mertua.. wajar aja ya, kita juga pasti lbh milih ama ibu kita sendiri. Jadi tertanamlah keyakinan (di gue) bahwa ibu itu (jika ada pilihan) lebih baik tinggal dgn anak perempuannya. Tp gue penasaran nis, sbnrnya dari segi agama itu yang bener gimana.. Klo dari Hadis diatas tyt anak laki2 ya.. hehe..

  2. Bagus banget, Ti, tulisannya. Tapi berhubung gue sama kakak gue cewe, jadi ya sudah pasti insyaallah sama salah satu dari kami. Sementara suami gue 5 bersaudara laki-laki semua, jadi otomatis ya sama salah satu dari mereka. Haha… alhamdulillah adil :D

  3. Waktu awal nikah, mama saya sudah pesen ikutin suami kemanapun dia pergi/tinggal. Kebetulan suami anak bontot dan kita diminta tinggal dulu dirumah orang tuanya ya sudah saya ikhlas tinggal disini. Alhamdulillah hubungan saya sama mertua juga baik2 aja selama 3 tahun ini. Kadang kangen dan kasian sama mama saya, tapi karena kita beda kota jadinya ya ga bisa menclak-menclok kyk yg ortu dan mertuannya tinggal sekota.

    Keinginan untuk segera tinggal dirumah sendiri dan bebas dan intervensi pihak luar insya allah segera terlaksana. Yang penting bwt saya, mau tinggal bareng ato pisah sama ortu atau mertua yg penting kita jangan sampai berat sebelah, meski kadang ga sejalan sama mertua tapi perlakukan sama seperti kita sayang ke orang tua.

Post Comment