Can I Afford to be a Stay-at-Home-Mother?

Saat menjelang akhir tahun, seperti banyak orang, saya menyusun resolusi untuk dicapai di tahun yang baru. Daftar yang saya miliki tidak begitu panjang, tapi ada beberapa hal yang kerap tercantum pada daftar itu selama beberapa tahun belakangan. Salah satu resolusi yang berulang itu adalah untuk menjadi stay-at-home mother, atau disingkat SAHM.

 

Alasan saya terus bekerja setelah menjadi ibu, selain agar memiliki sarana aktualisasi diri, juga untuk meraih target-target finansial kami sebagai keluarga. Sebutlah target dana-dana yang sifatnya ‘wajib’ seperti dana pendidikan anak, dana pensiun, dan dana darurat, hingga target dana yang sifatnya ‘tersier’ seperti liburan atau nonton konser. Tentunya, dengan bekerja, saya memiliki privilege untuk berkontribusi pada target-target ini. Tapi, keinginan untuk menjadi SAHM terus-menerus menggedor dinding nurani saya, dan setelah 3 tahun menunggu, insya Allah tahun ini saya bisa mewujudkannya.

Hal pertama yang saya pikirkan sebelum resmi “banting setir” adalah mengukur kesiapan dari segi finansial. Seperti judul artikel ini, saya bertanya pada diri sendiri, “Can I afford to be a SAHM?”

“Kran” penghasilan yang tadinya mengucur dari dua titik, akan berkurang satu, dan basically, we will be living on single-income.

Penantian saya selama 3 tahun untuk mewujudkan resolusi sebagai SAHM, memberikan saya waktu untuk menyusun persiapan dari segi finansial maupun mental. Kali ini, saya ingin berbagi persiapan yang saya lakukan dari segi finansial (sisi mentalnya hopefully segera menyusul, hehe), semoga bisa memberikan insight pada Mommies yang memiliki resolusi serupa :)

Hal-hal yang saya lakukan untuk mengukur kesiapan dari segi finansial, di antaranya:

1. Mencatat budget bulanan.

Kegiatan ini sebenarnya sudah menjadi ‘makanan’ saya sejak mulai berumah-tangga. Tapi sekarang, pencatatan budget yang saya lakukan difokuskan untuk mencari pos pengeluaran mana saja yang bisa dikurangi, atau bila perlu, dihilangkan.

Dari sini, kita juga dapat mengetahui seberapa besar ‘biaya’ yang kita keluarkan jika terus bekerja, dan seberapa banyak yang bisa dihemat dengan menjadi SAHM.

Saya juga berusaha mengisi budget-tracking dengan sejujur mungkin. Karena sebelumnya, kegiatan budgeting ini seringkali manis di awal (bulan) saja. Begitu sampai pada tahap review di akhir bulan, saya tutup muka melihat realisasi pengeluaran :)) Kejujuran dalam mengisi budget-tracking ini diharapkan bisa menghasilkan gambaran cashflow keuangan keluarga dalam versi paling baru dan realistis.

2. Menyusun cashflow tahunan dan mereview kesehatan keuangan keluarga.

Selain menyusun cashflow bulanan, cashflow tahunan juga sangat penting untuk dilakukan untuk mendapat gambaran lengkap mengenai kondisi keuangan kita. Dari cashflow tahunan, kita dapat mengetahui seberapa besar dana yang bisa kita alokasikan untuk berinvestasi, setelah dikurangi pengeluaran yang sifatnya tahunan. Me-list down pengeluaran tahunan tidak sulit kok, karena sifatnya yang rutin, seperti pembayaran pajak, premi asuransi, belanja keperluan hari raya, dan lain-lain.

Sementara rasio kesehatan keuangan keluarga yang dapat dihitung di antaranya rasio likuiditas, hutang, dan investasi. Dari situ, akan didapatkan gambaran riil mengenai kondisi keuangan kita. Tentunya ada batasan seberapa besar angka yang harus dicapai agar kondisi kita tergolong “sehat.”

Saya sendiri mencoba menentukan batasan minimum rasio yang perlu dicapai untuk mengukur kesiapan dari segi finansial. Tapi saya tidak menjadikannya tolak ukur, melainkan hanya sebagaibooster motivasi. Karena urgency untuk “banting setir” menjadi SAHM tidak dapat dibandingkan lurus dengan ‘angka,’ dalam hal ini nominal uang yang kita miliki, ‘kan?

3. Mencari cara mendapatkan penghasilan tambahan.

Yang enak dari hal ini, dengan lepasnya status saya sebagai pekerja, seakan-akan saya mendapat privilege untuk melakukan hal yang saya sukai. Melakukan hal yang kita sukai saja sudah menjadi obat jiwa, tentunyamendapatkan penghasilan tambahan dari hal itu menjadi ‘bonus’ yang sangat menyenangkan.

4. Melakukan trial‘ hidup dengan satu income beberapa bulan sebelum “banting setir”.

Selain untuk membiasakan diri supaya tidak terlalu ‘kaget’ nantinya, hal ini juga membantu kami menyusun prioritas pengeluaran. Misalnya dengan berusaha memenuhi dana darurat, meski belum bisa memenuhi pos ini seluruhnya, paling tidak mengurangi nominal kewajiban.

Melalui ‘trial‘ ini, saya menyadari bahwa dengan mengurangi pengeluaran, we can contribute by saving money. Misalnya dengan mengurangi cicilan bulanan, atau dengan cara sederhana, seperti berkebun sayur-mayur (bagi yang hobi), membuat sendiri mainan anak, memanfaatkan promo kartu kredit, dan banyak lagi.

5. Saya pernah membaca pengalaman seorang ibu yang “banting setir” menjadi SAHM, bahwa sebelum resign, dia membuat rekening persiapan. Rekening itu bertujuan membiayai kebutuhan yang sifatnya personal atau ‘tersier.’ Saya meniru cara ini, dengan menyisihkan dana untuk mengisi rumah. Mommies lain mungkin ada yang ingin menyisihkan untuk ikut seminar parenting, dana bangun rumah, traveling, dan lain sebagainya.

Sekarang giliran para Mommies yang ingin “banting setir” seperti saya untuk menjawab, can you afford to be a SAHM? And what are your preparations? :D


14 Comments - Write a Comment

  1. nenglita

    Wow, betul banget, ya, Ris, semuanya memang harus diperhitungkan. Terutama masalah keuangan, yang pastinya dari 2 sumber penghasilan jadi 1 sumber. Keputusan jadi SAHM memang ga bisa semata-mata emosionil atau keinginan pribadi, tapi ada hitung-hitungan di atas kertas yang harus kita perhatikan juga.

    Thanks for sharing, Ris, ini membuka mata para ibu2 lain yang mungkin berkeinginan jadi SAHM juga :)

  2. wahahahaha gilaaakkkk, gue beneran terjun bebas berarti ya waktu resign x)) itu semua yang ditulis gak ada yang gue kerjain :p Tapi gue punya tabungan darurat pribadi sih which is itu udah diiisi sejak jaman pertama kali kerja dulu, semua duit ngeMC masuk situ gak boleh dikutik kecuali beneran butuh (atau emang banget pengen belanja)

    Semua yang ditulis itu penting loh, gue resign nih pas hamil 10 minggu karena harus bed rest total 2 bulan. Mungkin itu juga yang bikin gue gak pake siap-siap begitu :)) Ada sih masa belajar bikin cash flow dll itu pas lagi bed rest tadi, tapi terus suami bilang :kamu jaga aja dulu kandungannya, gak usah mikirin ini. Trust me!” ya udiiin, eike santai aja hihihi. Sejak tinggal dirumah sendiri, udah ada hitung2annya, dan karena sudah biasa dengan aliran dana satu keran (walaupun saya juga punya andil kasih cipratan dikit2 ke tabungan) alhamdulillah, beberapa pos dana yang penting tetap bisa mengalir lancar :D

  3. Saya sudah jadi SAHM selama 1, 5 tahun, sejak hamil anak kedua, melahirkan, menyusui eksklusif, MPASI hingga kini masih menyusuinya di usia hampir 14 bulan. Bulan depan justru akan kembali bekerja :D

    Alasan saya untuk kembali bekerja bukan karena alasan finansial, justru saya berani jadi SAHM selama 1,5 thn karena memang tidak ada kebutuhan untuk double income, jadi saya ingin menebus kesalahan wkt sibuk kerja dulu hingga anak pertama gagal ASI eksklusif dan sering ditinggal lembur.

    Saya berniat kembali bekerja selain karena selain tawarannya bagus, lokasi kantor cukup dekat dengan rumah dan pekerjaannya memang sudah biasa saya lakukan, juga karena saya merasa selama menjadi SAHM saya menjadi agak pemalas :D – karena walopun sudah jadi SAHM saya tetap punya nanny dan ART, dan kegiatan sehari2 saya paling2 jadi supir anak2 saya dan ya mengurus keperluan mereka di rumah (tandem ama nanny). Memang banyak keuntungan, anak2 jadi dekat dgn saya, tapi saya ingin kasi contoh pd anak2 saya bahwa perempuan itu harus “berdaya”, dalam arti, dia punya aktivitas sendiri dan bisa menghasilkan. Sayangnya saya gak creative enough / belum PD untuk jadi entrepreneur / mumpreneur, kalopun ngerjain proyek2 ya gak ngoyo gitu, jadi kalo ada yang nawarin baru pikir2 mau ambil / engga baru dikerjain di rumah, selebihnya saya masih bisa tuh santai2, tidur siang ato nonton DVD, internetan. Jadi saya niat bekerja lagi untuk stimulasi otak motorik saya sekaligus kasi contoh utk anak2 tentang kerja keras :D

    Idealnya sih bisa berhenti kerja lalu berbisnis ato bekerja dari rumah ya, mudah2an someday terlaksana, sekarang saya jadi orang gajian dulu lagi deh alias corporate slave :D

  4. Alasan saya jadi SAHM sejak 7 bulan lalu justru ingiin memangkas pengeluaran dan mengobati rasa bersalah saya yg rasanya jauh sama anak. Dulu masuk jam 8 pagi dan sampe rumah jam 9 malam, kadang weekend pun harus standby tiap 2 minggu sekali. Gaji sebagian besar habis untuk bayar pembantu, pengasuh, ongkos, dan jajan diluar karena ga sempet masak. Then now, semuanya kepangkas karena ga punya ART lagi, semua dikerjain sendiri dan ternyata jatah dari suami justru cukup bahkan masih bisa dialokasikan ke tabungan.

    Meski kadang kangen kerja lagi, tapi saya lebih kangen maen2 sama Tangguh dirumah meski kadang memang suka bosen juga dirumah. Untuk rejeki sih, saya percaya Tuhan akan membukakan pintu rejeki lain mungkin lewat saya dirumah atau mungkin lewat rejeki suami saya yang makin bertambah. Alhamdulillahnya saya termasuk org yang ga “gatelan” belanja :p

  5. Lita: Ini didasari oleh karakter khas anak sulung Lit, yang apa-apa perlu mikir panjang mempertimbangkan bibit-bebet-bobot, hahaha. Dan ya, tujuan penulisan artikel ini emang untuk membantu para ibu yang bercita-cita sama supaya nggak ‘kaget’ ketika sudah hidup single-income :)

    Nopai: Bener banget, saat mereview cashflow, baru keliatan kalau ada yang namanya “the cost of working.”

    Sazqueen: Hahaha, ‘terjun payung’ ya judulnya. A ‘metal’ mom indeed!

    Intan: Amin, didoakan supaya bisa terwujud di waktu yang paling tepat menurut Tuhan, ya. *hugs*

    Day: Hi! Aku suka banget ‘mantengin’ tulisan kamu di thread School’s Cool, lho! #oot seneng deh, jadi dapat banyak masukan pertimbangan dalam memilih sekolah anak :D
    Ah, thanks for sharing your story. Bermanfaat banget untuk memberi insight bagi para SAHM-wannabes kayak aku.

    Ameryani: Wah mirip banget ceritanya kaya aku. ‘Ongkos’ bekerja kalau dipangkas ternyata malah bikin cashflow jadi surplus, hehe. Kalau urusan bosen, inevitable ya kayanya, namanya juga rutinitas, pasti ada sisi monotonnya. Ohya, dari thread “Once a Working Mom, Now a SAHM,” aku dapat banyak masukan supaya gak mati gaya di rumah. Udah pernah mampir belum ke situ? Thanks for sharing yaa :)

  6. gue RT nopai dah.
    iya bener vanshe & ameryani, coba hitung2an aja dulu apa bener butuh 2 sumber kalau ember2 yg perlu pas jadi WM jadi bisa diilangin pas jadi SAHM.
    pernah itung2an kasar, minimal bisa 2-3juta masuk ember untuk pos2 asisten2 dan biaya yang perlu keluar karena ditinggal/dalam kondisi kerja.

  7. Nambahin ya… Banyak yang bilang si rejeki udah diatur ama Tuhan dan ketika nikah tu rejeki berdua. dari beberapa kejadian temen si, pas resign karir suami langsung melejit dan akhirnya dapet penghasilan yang sama/lebih.
    kalo aku ya jujur aja kalo di rumah emang jadi males ngapa-ngapain. kadang aku berpikir karena udah capek di jalan (bukan di kantor ya).
    kalau udah resign si yang jelas bakal nekunin kegiatan yang disuka. creating things. ntah digitally kaya web/graphic design atau real kaya bikin baju atau tas. Aku bakal nyediain satu spot buat berkarya, jadi diisi laptop, crafting tools, sewing machine. biar ga mati gaya di rumah.

    1. naminanad, aduh kisah temen kamu inspiring banget. semoga bisa kejadian juga sama aku yaa *usap muka* :D
      dan aku juga sekarang mencoba ngisi waktu dengan melakukan hal yang emang pengen aku lakuin karena suka dan ingin pelajari. kudos to you! semoga bisa terwujud keinginan berkarya di rumah suatu hari nanti *hugs*

Post Comment