Surat Untuk Calon Ayah

Dear (soon-to-be) Dads,

Setiap laki-laki memiliki ayah. Setidaknya, itu persamaan yang kita miliki.

Menurut saya (dan mungkin kebanyakan lelaki lain,) relasi antara seorang ayah dengan anak laki¬lakinya, merupakan hubungan tertata, konstruktif, formatif. Pragmatis, di tingkat yang paling alami. Most of the time, sangat praktis. Nggak ribet.

Bonding kuat secara emosional dengan ibu tentu tidak bisa dibantah. Tapi, seorang anak lelaki selalu meniru si ayah. Mengadaptasinya, dan kelak membandingkan dirinya dengan sosok ayahnya.

Uniknya lagi, seorang ayah, peduli atau pun tidak, selalu mengajarkan anak laki¬lakinya tentang cara menjadi seorang laki¬laki. Even, if by his total absence

***

Sejauh yang bisa saya ingat, ketika kecil, saya ingat cara ayah saya menonton pertandingan tinju (yang memang kesukaannya.) Saya ingat betul, sorot matanya yang serius menyimak, dengan kaki terangkat di atas kursi.

Ia mengabaikan panggilan ibu saya, ia setengah hati melayani panggilan saya. Alih¬alih mendengarkan saya, ia mengambil dan memangku saya, lalu berujar, “Lihat itu, jadi orang harus kuat.” Oh, so that’s what a man does

Latar belakang keluarga saya dari Palembang, Sumatera Selatan. Kami punya ritual tahunan, yaitu mudik saat menjelang lebaran, naik mobil second hand andalannya. “Naik pesawat itu mahal,” katanya.

Ayah menjadi pengemudi selama 18¬20 jam. Sesekali ia menghentikan kendaraan di beberapa titik untuk istirahat; mengajak kami melihat¬lihat desa sekitar, atau sekadar makan durian. Ia membuat perjalanan jauh dan melelahkan jadi menyenangkan. Oh, so that’s what a man does

Ayah saya pegawai negeri, ia bekerja di TVRI, dan pekerja keras. Seringkali ia harus mengawasi syuting di luar kota, mengikuti pendidikan di kota lain; bahkan, saat tidak keluar kota, ayah banyak bekerja hingga larut malam, bahkan pagi hari berikutnya.

Saat di rumah, ia sibuk mengurus akuarium, dan selalu membereskan rak buku. Walaupun (menurut ibu), rak itu sudah rapi. Oh, so that’s what a man does…

Menginjak remaja, rumah seperti jadi kandang drama. Ayah seperti sulit setuju dengan banyak hal. Beberapa kali kami bertengkar. Ia menggebrak meja dan membentak; saya memasang mata tajam mengarah pada ayah, menantangnya, tidak takut.

Tiga hari kemudian, ia duduk di sebelah saya, mendampingi saya belajar mengemudi mobil. Bergaya tenang, menyandarkan diri, dan mengepulkan asap rokoknya ke luar jendela. “Awas, jangan terlalu tengah,” ujarnya santai. Lalu, ia mengajak saya bicara soal perempuan. Oh, so that’s what a man does…

Saat saya menyelesaikan pendidikan tinggi, ia berdiri tegak, lalu tersenyum. Interaksi pertama adalah menepuk pundak saya, lalu melemparkan pelukan yang mantap dan tegas. “Ini belum apa¬apa, jangan cepat puas,” tandasnya.

Ia tidak terlihat terharu, apalagi meneteskan air mata seperti ibu. Oh, so that’s what a man does…

***

Kepingan cerita itu, membuat saya berpikir: seberapa sulit menjadi dirinya? Menjadi seorang ayah. Saya tidak berhasil menemukan jawabannya, hingga kini saya berusia 29 tahun; seorang suami, dan ayah dari dua orang anak perempuan.

*gambar dari sini

Dan menurut saya, very early fatherhood is not that difficult. It just isn’t. It’s unfamiliar, indeed. Lupakan semua to-do-list di buku¬buku parenting, keriuhan informasi menjadi orang tua yang baik di media sosial (internet), hingga dikte dari keluarga dan kerabat; menurut saya, menjadi ayah baru tidak terlalu sulit, bahkan tanpa itu semua.

Kebanyakan, lebih sulit untuk istri kita, dan (juga) si bayi. Hal ini yang kita harus pahami. Pasca persalinan, ibu-bayi-ayah akan menjadi satu unit, namun ibu dan bayi itu spesial. Relasi mereka akan berkembang hebat dengan cara yang misterius. Ada chemistry, kasih sayang, dan koneksi istimewa tak terjelaskan.

Tapi, setiap unit memiliki sub unit, dan tugas kita adalah memberikan dukungan penuh pada bagian sub unit. Apa yang ibu dan bayi akan lalui: is both difficult and unfamiliar. Our job is to not make it difficult. Bagaimana?

Unfamiliarity requires tasks. The tasks require skills. And the skills are simple. Contohnya: mengganti popok bayi. Bisa jadi terasa aneh, tapi tidak sulit (and the shit of a newborn doesn’t stink is a blessing.)

Menggendong bayi mungkin terasa canggung atau mengkhawatirkan, tapi (tetap) tidak sulit. Ukuran paling mudah, jika kita merasa nyaman memegangnya, maka ia pun merasakan hal yang sama.

Memangku dan memberikan bayi ASI dengan cup feeder pun bisa terasa janggal, mungkin juga menguras kesabaran kita. Tapi tidak sulit. Intip caranya di YouTube. Durasinya kurang dari satu menit.

Menyendawakannya (burping) pun tidak lebih sulit dari mengalahkan tim tangguh di Pro Evolution Soccer. Gendong bayi dengan posisi tertelungkup, dan tepuk punggungnya perlahan. That’s it.

Semua itu sederhana. Simple things, yang terasa sulit karena kadang bayi menangis. Not all of the time though, but some of the time (and some of the time it will be crying for a looong time.) Tak perlu panik, apalagi sebal. Karena, hanya itu caranya berkomunikasi.

Memandikan bayi usia dini pun tidak rumit. Insting akan membawa kita secara alami, untuk melakukannya dengan baik. Seperti kita mencuci mobil kesayangan, vespa, atau ayah saya saat menguras akuarium. Akurat, pun lembut penuh perasaan.

Kita bisa melakukan kesalahan dari hal-hal simple tadi, dan itu biasa. Hakuna matata! A Swahili phrase that can be translated literally as: There are no worries.

Pada saatnya, si bayi akan menatap kita, menyadari sosok kita, menggenggam erat telunjuk kita dengan tangan kecilnya, hingga mengajak kita tertawa. The gravity of being a father, as natural as it gets, is accelerating. The baby becomes more familiar.

Well, very early fatherhood is a kind of greatness

But it isn’t heroism.

Mungkin, kita tidak harus belajar sebanyak yang kita pikirkan. Tidak perlu melakukan sebanyak yang kita duga. Namun, lebih menyenangkan dari yang pernah kita bayangkan. Rasanya lebih ke arah absurd, dan hanya bisa diatasi secara bertahap, tanpa peduli dengan kurangnya pengalaman kita.

Early fatherhood is aided by skills, which you will master;

Instinct, which you come equipped with;

Love, which you will be engulfed by.

And the newborn baby requires just a little of all of that, and you

will provide.

Ayah kita melakukannya dulu, dan itu satu hal… So, take it easy and have fun.

Mengutip lirik lagu Three Little Birds (Bob Marley):

“Singin’, don’t worry about a thing,

’cause every little thing gonna be all right.“

You doing beyond great so far, by taking your wife to New Parent Academy. Keep on rockin’!

Salam untuk istri,

@bangaip

Co-Founder of @ID_AyahASI

*tulisan ini dibuat sebagai kenang-kenangan peserta batch 1 – New Parent Academy @NParentAcademy


3 Comments - Write a Comment

  1. Love-love-love this ‘letter’ so much!
    Jadi ngerti cara pandang seorang lelaki dalam menjalani perannya sebagai ayah. Thanks for sharing, a very inspiring one. Semoga para ayah dan calon ayah bisa menjalani perannya dengan baik tanpa membandingkan dirinya dengan siapapun. Coz they are the best with their own way :)

Post Comment