The Dramatic Changes in My Life

Tadinya saya mau menggunakan judul Pengorbanan Sebagai Ibu. Tapi kalau pakai kata pengorbanan, kok, sepertinya lebay, ya. Menjadi ibu, bagaimanapun, adalah keputusan saya. Dan tidak pas rasanya jika saya menyebut pengorbanan, karena seperti tidak ikhlas menjalani peran baru ini. Perubahan pasti terjadi saat menjalani status ibu. Sedikit atau banyak, besar atau kecil, sejauh ini, saya tidak menyesali status saya saat ini.

Melihat kembali kehidupan saya, ternyata banyak sekali hal yang berubah (kalau tak mau dibilang dikorbankan), seperti:

- Social life

Saya adalah ‘makhluk sosial’ kategori ulung. Haha. Bukan anak gaul, ya, tapi hobi saya adalah nongkrong dengan siapa saja, kapan saja, di mana saja. Waktu lajang, sepulangnya dari kantor, saya nggak pernah langsung pulang. ‘Jadwal’ selalu padat. Ngopi dengan si A, karaoke dengan si B, arisan dengan teman SMA, biliar dengan D, reuni dengan teman kuliah, kencan dengan C, dst dsb.
Ketika sudah punya anak? Bye-bye!

Waktu Langit masih bayi, saya harus kejar-kejaran dengan stok ASI perah. Jadi wajib langsung pulang. Hanya 1-2 kali saya ‘mampir’ bersosialisasi dengan teman-teman. Semakin Langit besar, kebutuhannya tak lagi sekedar fisik, tapi saya secara emosi. Apalagi ia sudah bisa protes esok paginya kalau saya pulang malam di mana ia sudah tidur.

Sekarang, kehidupan sosial saya jauh berkurang. Untungnya, nggak sama sekali hilang. Entah harus berterimakasih pada teknologi atau mengutuknya, karena kehidupan sosial bisa diwakili lewat teknologi, entah itu chatting atau jejaring sosial. Untuk kopdar alias kopi darat atau ngumpul temu muka, biasanya saya harus menyesuaikan waktu sebisa-bisanya, contoh besoknya harus hari libur (supaya pagi hari nggak terburu-buru Langit berangkat sekolah dan saya kerja, yang menyebabkan waktu kami bersama hanya sedikit) atau jika kopdar memungkinkan bawa anak, maka akan dilakukan di akhir pekan.

- Ke bioskop

Percaya nggak, saya baru masuk bioskop lagi setelah Langit berusia di atas 1 tahun? Itu pun karena berkaitan dengan pekerjaan saya yang saat itu di sebuah jaringan bioskop terbesar di Indonesia.

Sebelumnya, saya banci bioskop! Setiap film baru, bagus atau tidak, saya pasti nonton!

Waktu Langit masih bayi, sempat tergoda untuk membawanya ke bioskop, toh, ada beberapa teman yang membawa bayinya juga, pikir saya. Tapi setelah dipikir-pikir, nonton film di bioskop saat itu menjadi ‘kenikmatan’ yang bisa ditunda. Untuk nonton midnight, ah, rasanya belum cukup tega ‘membebankan’ tugas lebih ke orangtua saya atau ke pengasuhnya. Dan terbukti, I survived! :D (Dapat salam dari tumpukan dvd yang semakin menggunung semenjak punya anak)

- On career

Sejak awal, karir saya adalah di dunia televisi. Berat sekali kerja di bidang ini, waktu kerja lebih panjang dan butuh fisik yang kuat. Tapi saya sangat mencintai pekerjaan di televisi!

Setelah Langit lahir (dan kebetulan televisi tempat saya terakhir bekerja dibubarkan dengan terhormat ketika Langit berusia 1 tahun), saya tak lagi bekerja di bidang ini. Pertimbangan menyandang status ibu semata kah? Bisa jadi, salah satunya.

Sempat saya diundang wawancara kerja di beberapa stasiun televisi swasta Indonesia (yang terakhir malah sudah menentukan kapan tanggal yang menjadi hari pertama saya masuk kerja!), tapi ujungnya selalu ada pertimbangan, “Haruskah saya mengulang cerita long hours of working, sementara saat ini saya punya ‘tanggungan’ lain yang butuh saya di sampingnya?”

Berat? Sudah pasti. Bekerja di televisi merupakan salah satu cara mencurahkan adrenalin sekaligus kreativitas saya.

Tapi, Alhamdulillah, beruntung sekali saya masih memiliki pilihan yang tak kalah menariknya, bekerja di belakang layar Mommies Daily. Bagaimana tidak menarik? Dunia saya tentu lekat dengan dunia ibu. Saya tak perlu belajar jauh-jauh untuk menjadi orangtua, di sini saya memiliki semua aksesnya! :)

- Nyalon

Waktu lajang, sesempit apa pun waktunya, saya pasti menyempatkan diri untuk nyalon. Saya nggak keberatan sama sekali harus mengeluarkan uang dan menghabiskan separuh hari saya berada di salon. Catat, padahal saya bukan tipe yang senang bereksperimen seperti kebanyakan perempuan-perempuan yang nyalon, lho. Jadi saya ke salon biasanya hanya untuk creambath, manicure-pedicure, massage, facial, atau sekedar cuci dan blow rambut. Benar-benar standar, kan?

Pertemuan pertama saya dengan salon setelah punya anak adalah waktu Langit berusia 6 bulan. Sudah selesai ASI eksklusif, jadi saya bisa bernafas lega dan sedikit melonggarkan waktu pulang, karena nggak dikejar-kejar oleh stok ASIP yang menipis.

Hingga saat ini, jadwal kunjungan saya ke salon jauh berkurang jika dibandingkan dengan zaman lajang dulu. Penyebabnya selain masalah waktu, juga sayang uangnya! Haha.

- On music concert

Saya suka musik. Suka sekali. Kalau zaman muda dulu mungkin banyak yang suka clubbing, ya? Well, saya nggak suka. Saya lebih memilih mendengarkan live music di kafe atau nyatronin konser jika memang artisnya saya suka.

Konser pertama yang saya sambangi setelah punya anak adalah Suede, band asal Inggris, di tahun 2011. Bayangkan, 3 tahun, lho, saya absen dari hal yang saya suka. Berapa banyak Java Jazz, Jak Jazz, Java Rockin’ Land, dst dsb yang saya lewati?

Saya bisa menanti selama itu karena, menurut saya, saya hanya boleh meninggalkan Langit jika memang band-nya sangat berharga. Kebetulan, Suede adalah band kesukaan saya sejak SMP. Walaupun sudah pernah menonton saat mereka datang pertama tahun 2004 lalu, tapi saya tetap harus nonton, karena ini bisa jadi adalah terakhir kali mereka ke Indonesia :D

Dan untunglah saya bisa sabar duduk manis selama 3 tahun, karena setahun belakangan ini, band/ artis favorit saya berturut-turut datang ke Indonesia!

Nah, itu 5 hal yang lekat dengan kehidupan saya yang saya ‘korbankan’, bukan berarti saya hilangkan, ya. Tapi seiring berjalan waktu, kita pasti bisa memilah mana yang lantas menjadi prioritas. Apakah ibu yang bela-belain nonton midnight salah? Nggak, dong! Life is a matter of choices. Dan saya yakin, setiap ibu (dengan pertimbangannya sendiri) pasti akan memilih yang terbaik.

Bagaimana dengan Mommies? Adakah hal-hal yang bisa digolongkan sebagai ‘pengorbanan’ garis miring perubahan dari kehidupannya?

 


10 Comments - Write a Comment

  1. Aduh idem banget itu yang maen bilyar sama nonton konser!! hahaha.. bilyar sih udah pasti udah ga pernah lagi, tp untungnya nonton konser masih bisa di bela2in tapi yang bener2 artis faforit deh kaya NKOTBSB kmrn.. tapi sbg pengurang rasa bersalah besok paginya langsung ajak anak berenang hahaha..

    Aku juga mikir memang sih beberapa hal harus dikorbankan sejak jadi Ibu.. tapi hal yang didapatkan kerasa jauh lebih berharga :)

  2. Yes, perubahan planning career (dan balik lagi ke bangku sekolah) besar-besaran. Yang dulu gw workaholic, senang banget berlembur ria di kantor, dinas apapun (ke pelosok) diterima dengan senang hati, sekarang jadi harus berpikir dua kali. Jadwal “melemburkan diri” dikurangi, dinas pun kalau bisa cari tiket pulang lebih cepat (meski rugi di gw), atau rencana sekolah menunggu anak sudah lepas ASI. Sekarang lagi berpikir apakah harus mutasi ke kantor yg di Serang, supaya meminimalisir perjalanan dari BSD ke Thamrin, meski mungkin akan merubah career path agak banyak… itu semua ya demi Zia dan Maghali :).

  3. tiket blur…mana ini tiket blur, gak biasanya nih…hari gini belum pegang tiket, (jadi nonton gak ni kita tgl 15 mei….hehehe) nasib ya emak2 mo jogging sore lagi aja belum kesampean…ada ajaa..lg gk ada ART lahh…bntr lagi treaknya “anak gue lagi UAS” (itu gue ya..),Lagi mikir saat blur konser nanti..apakah saya sudah punya ART lg apa belom ya…., trus suami lg dinas luar kota gk ya….ya gitu deh emak2 klo mo aktualisasi diri banyak yang mesti dipertimbangkan.

  4. dan saya baru saja pecah telorrr setelah hampir 3 tahun ga mlipir samsek ke bioskop. dan baru weekend kemaren akhirnyahhhhh… fiuhhh… nonton sambil deg-deg an and feel guilty tuh ga enak lho… tapi akhirnya ngajakin Zaff 2y8o ntn juga di akhir weekend film The Croods… #alhamdulillah berkurang rasa bersalahnya.. qiqiqiqiqiqi

Post Comment