Tentang Cincin Kawin

Setelah menikah, banyak sekali orang yang menanyakan keberadaan cincin kawin di tangan saya maupun suami. “Mana cincinnya? Kok nggak dipakai?” Begitu kira-kira bunyinya, apalagi waktu itu saya masih bekerja di sebuah majalah gaya hidup di Jakarta, stereotype yang ada kan jika sudah menikah, ya, pakai cincin kawin.

Lalu kemana cincin kawin saya? Ada, dipakai setelah akad nikah untuk kebutuhan dokumentasi dan memenuhi permintaan keluarga besar. Kata mereka “Aneh banget sih, masa’ nggak pakai cincin kawin?” Jadi daripada menambah tingkat stress CPW, lebih baik di-iya-kan saja. Sekarang si cincin disimpan bersama perhiasan lainnya di tempat yang aman :)

IMG_3581Pose standar setelah beres akad nikah *LOL*

Soal cincin kawin ini sudah menjadi kesepakatan saya dan Rino. Saya tidak suka melihat laki-laki memakai perhiasan, cukup jam tangan saja. Kemudian saya mencari referensi soal cincin kawin dalam aturan agama yang saya anut. Ternyata saya tidak menemukan satu ayatpun yang mengatur soal cincin kawin, saya hanya menemukan aturan soal mas kawin yang isinya bukan tentang cincin kawin melainkan mahar untuk mempelai wanita (correct me if I’m wrong, please). Lagipula di agama kamipun, laki-laki dilarang memakai perhiasan emas kuning. Jadi boleh ya kalau putih? Saya tidak tahu, jadi saya tidak mau gambling dan Rino pun sepakat soal tidak memakai cincin setelah menikah. Jadi akhirnya kami memutuskan, cincin kawin ini dimasukkan sebagai mas kawin beserta seperangkat alat shalat, dan kemudian memang disimpan oleh saya si pemilik mas kawin.

Aneh nggak, sih, sudah menikah tapi tidak memakai cincin? Saya sama Rino rasanya biasa saja. Namun memang ketika honeymoon, resepsionis hotel sibuk ngeliatin atas bawah. Ketika mau cek pra kehamilan, admission rumah sakit pun melihat aneh ke jari manis saya yang polos. Ketika bertemu beberapa teman lama, pertanyaan “Kok nggak pakai cincin, sih?” juga sempat terlontar. Saya biasa saja, sih, tidak ada rasa kesal atau apapun, menjawab pun cukup dengan “Ada, disimpan saja, takut hilang!” Dan jawaban ini cukup memuaskan hati karena rata-rata yang bertanya cukup kenal dengan pribadi saya yang selebor soal printilan.

Sesekali, saya suka memakai cincin tersebut sebagai asesoris, kok! Biasanya saya pakai ketika menghadiri acara resmi. Tapi, ya, itu tadi, hanya saya sendiri saja yang pakai, tangan suami sih, tetap polos. Tentang si cincin, biarlah kami merasa terikat tanpa perlu tanda pengikat di jari manis. Tidak perlu merasa repot menjawab hal-hal yang dianggap tidak biasa, toh yang menjalani pernikahan itu si suami dan si istri. Orang lain hanya melihat dari ‘luar jendela’. ;)


10 Comments - Write a Comment

  1. Suami gue, Rudy, hanya pake cincin pas hari pernikahan saja. Sesudah itu ya disimpan baik-baik, karena memang dia gak mau pake perhiasan, kecuali jam tangan :) Gue sih pake sampe akhirnya hamil dan cincinnya sempit, gue lepas. Sesudah itu karena ngurus bayi, malah takut pake perhiasan, takut nyakitin bayi gitu. Jadi ya gak pernah pake lagi sampe sekarang, malah pake cincin yang lain aja yang emang gue mau pake.

    So far sih kalo gue rasanya gak pernah dicurigai karena gak pake cincin kawin :) Apa emang guenya gak sensitif juga kali :D

  2. hahaha… baru lepas cincin kawin nih :p gara-gara trauma waktu melahirkan jarinya bengkak ampe diselotip sama suster krn mau operasi gak bisa dilepas *mau operasi sempet malu malu* haha..
    sekarang dilepas karena gejala bengkak si jari sepertinya akan muncul lagi..

    pernah ada yang nanya : “cincinnya mana?” — langsung dipelototin—-

  3. Cincin kawin gue dijadiin kalung. Awalnya karena suami yang suka buka pake taro di mana2, karena takut ketinggalan, dijadiin satu lah sama kalung-anak-gunungnya. Terus gue hamil, lama-lama ga muat lah si cincin, akhirnya sama suami dibikinin kalung yang serupa dengannya. Sampe sekarang, males balikin ke tangan lagi, ya suw, jadi kalung aja :)

Post Comment