Kampung 99 Pepohonan

Pagi itu langit mendung waktu kami menuju Kampung 99 Pepohonan dari komplek rumah bersama beberapa teman tetangga. Kampung yang satu ini jaraknya hanya 20 menit dari rumah kami, jalan masuknya tepat di seberang Mesjid Kubah Emas, tinggal mengikuti papan petunjuk. Sesampainya di sana kami langsung pilih-pilih kegiatan. Selain kegiatan yang berhubungan dengan peternakan dan pertanian, ternyata di sana juga bisa melakukan outbond. Rencana awalnya kami mau ambil paket seharga Rp. 135.000,- per anak, untuk 4 kegiatan yang kita pilih dan paket makan siang lengkap. Tapi ternyata paket ini sebaiknya diambil setelah kita menghubungi terlebih dahulu. Jadinya kami memilih untuk ambil beberapa kegiatan lepasan saja, dan kemudian pesan makan siang.

Kegiatan yang kami pilih adalah memerah susu kambing, menyusui bayi kambing, mencukur domba, menangkap ikan, main futsal di lumpur, dan membuat cincau. Aidan yang tadinya ingin naik sampan terpaksa gagal karena 2 hari yang lalu tanggul di sana jebol akibat hujan besar, sehingga sungai kecil yang biasanya dipakai untuk naik sampan airnya jadi surut sekali. Main futsal di lumpur juga dibatalkan karena kami datang dadakan, sementara perlu waktu cukup lama untuk menyiapkan lumpurnya. Kegiatan ini diganti dengan aktivitas ice breaking sambil main permainan bola yang disebut ‘Dragon Ball’ di lapangan, dipimpin oleh guide kami hari itu, Ibu Santi. Walaupun aturan permainan awalnya sulit diingat anak-anak, tapi setelah mereka paham jadinya seru sekali. Anak-anak main sampai nambah beberapa ‘ronde’ dari yang direncanakan.

Setelah selesai bermain, kami mulai berjalan menyusuri Kampung 99 Pepohonan menuju kandang kambing tempat kebanyakan kegiatan kami akan dilakukan. Sepanjang jalan Ibu Santi yang juga tinggal di sana menjelaskan tentang asal mula dibuatnya Kampung 99 Pepohonan, bercerita kalau ada 24 kepala keluarga yang tinggal di sana dan semua bersaudara. Mereka hidup dalam kebersamaan dan dekat dengan alam. Contohnya dengan memilih tinggal di rumah-rumah yang kebanyakan model rumah panggung, yang terbuat dari kayu. Kemudian setiap rumah punya tugas masing-masing, misalnya 1 rumah yang kami lewati bertugas mencuci pakaian, berarti semua pakaian dari 24 keluarga di cuci di rumah tersebut. Satu rumah lainnya tugas memasak. Ini berarti mereka tidak perlu menggunakan 24 mesin cuci, misalnya, tetapi cukup 2 sampai 3 mesin cuci saja. Begitu juga dengan penggunaan kompor dan tabung gas, dan hal-hal lainnya.

Di kandang sapi dan kandang kambing kami bisa melihat-lihat berbagai jenis sapi dan kambing. Anak-anak senang sekali memberi makan kambing atau domba yang ada disana, sampai-sampai mereka lupa dengan wangi kandang kambing yang aduhai sekali. Setelah pak petugas datang membawa kambing yang akan diperah susunya, anak-anak bergantian mencuci tangan dan melumurinya dengan margarin, agar si kambing tidak kesakitan waktu diperah. Lalu mereka mengantre dengan rapih, mendengarkan instruksi pak petugas, katanya yang penting tidak boleh takut, kalau kita takut si kambing akan jadi gugup juga. Acara memerah susu berjalan lancar, semua mencoba. Mereka juga boleh mencicipi susu hasil perahannya, kata mereka sih rasanya biasa saja, seperti susu di rumah.

Nah, kemudian kerusuhan dimulai ketika 3 botol susu sudah disiapkan dan pak petugas menggiring 3 anak kambing keluar dari kandang. Berhubung ini kambing, mereka tidak duduk manis macam bayi manusia waktu minum susu. Mereka lari-lari dan loncat loncat mengejar susu. Terakhir pak petugas mengeluarkan seekor domba yang akan dicukur bulunya. Kalau di Indonesia, berbeda dengan domba di New Zealand misalnya yang bulunya dicukur rapi untuk kemudian bisa dijualan dalam bentuk lembaran, domba dicukur biasa dengan gunting. Tujuannya hanya supaya mereka tidak kepanasan, dan mereka makin gemuk, kalau gak salah. Kegiatan ini akhirnya hanya dilakukan kakak-kakak yang sudah besar, karena agak sulit.

Hujan sempat turun cukup deras setelah kami meninggalkan kandang kambing. Setelah hujan reda, baru kami menuju kolam tempat akan menangkap ikan. Anara tidak mau masuk sama sekali, katanya dia lebih suka kolam yang airnya putih. Aidan juga tidak lama-lama, karena takut digigit ikan hiu. Hahahahahaha. Sementara anak yang lainya  puas main basah-basahan di sini. Hanya saja mereka tidak dapat ikan, kolam sedang minim ikan rupanya. Maka mereka pun segera mandi karena sudah kelaparan, kecuali kakak-kakak yang sudah besar. Rupanya kesabaran membuahkan hasil, mereka sempat memandikan kerbau sementara kolam kemudian di-refill ikannya jadi banyak sekali, mereka dapat 20 ekor ikan yang kemudian dibawa pulang.

Kemudian setelah makan siang kami melakukan kegiatan terakhir, membuat cincau. Cincau yang dibuat adalah cincau hijau yang bisa langsung diminum. Cincau ini dihasilkan dari daun cincau, memang kandungan agarnya tidak terlalu kuat seperti rumput laut, tetapi mengandung banyak klorofil, dan banyak manfaatnya. Pertama, daun cincau dirobek-robek kecil, dibuang tulang daunnya. Kemudian ditambahkan air dan diremas-remas sampai keluar ‘agar’-nya yang licin dan kehijauan. Terus diremas sampai berbusa. Lalu disaring agar terpisah dari daunnya, bentuknya menyerupai slime hijau tua. Kemudian ditambahkan perasan jeruk nipis, gula cair, dan es. Kami semua mencicipi, dan rasanya segar sekali.

Hari sudah semakin sore dan sudah waktunya kami pulang, kembali ke ‘kota’ dengan membawa ikan mas, cincau hasil buatan sendiri, beberapa liter susu sapi, dan berkantung-kantung kecil yogurt rasa buah-buahan. Terima kasih, Kampung 99 Pepohonan, semoga ilmu dan pengalaman yang didapat hari ini bisa membuat anak-anak makin dekat dan bersahabat dengan alam. :)

Kampung 99 Pepohonan

Jl. KH. Muhasan II

Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo

Depok 16515

021-99955610, 021-77883623

http://www.kampung99pepohonan.com/

 


Post Comment