Steril: Psikologis dan Agama

Dicolek Jeng Ingga @umnad di artikel ini jadi ikutan cengar-cengir ingat masa-masa galau *halah* memutuskan steril. Kami sama-sama sudah beranak empat, tapi bedanya Ingga empat kali caesar, sementara saya ‘baru’ tiga kali. Saya sebenarnya masih penasaran mau coba VBA2C alias vaginal birth after 2 caesarean/persalinan normal setelah dua kali caesar. Tapiiii, susaaahh sekali mencari dokter yang mau membantu karena risikonya memang lebih tinggi daripada VBAC. Selain itu, karena ini bakal jadi anak ke-4, kami memutuskan untuk menjadikannya bungsu saja :D. Cuma karena saya memang punya riwayat keluarga yang berisiko tinggi bila terpapar alat kontrasepsi hormonal, jadinya pilihan tinggal steril.Sama seperti Ingga, orang-orang terdekat juga bernafas lega dan bersorak gembira *lebay* waktu saya akhirnya memutuskan menjalani tubektomi. Akhirnya, yaa … ada juga yang bisa menghentikan never ending question tentang anak! :D Tapi sebelum keputusan saya final, banyak saran -baik yang membangun, bisa jadi refleksi, maupun yang cuma menakuti- yang pada akhirnya masuk dari kanan-kiri. 

Yang paling banyak tentu cerita tentang ibu X yang katanya sudah steril tapi masih kebobolan lagi. Lalu (masih) cerita tentang pasangan yang sudah terlanjur memutuskan steril tapi ternyata terjadi musibah terhadap anak (-anak)nya dan dan cerita tentang perempuan yang menikah lagi tapi terlanjur steril. Semua ini saya bilang ‘cerita’ karena terus terang saya belum pernah mendengar kisahnya langsung dari orang yang mengalami. Kemungkinan-kemungkinan ini cukup membuat saya kepikiran. Tapi kalau diurut-urut, ujungnya, ya, takdir. Ketentuan Tuhan, mau rencana-Nya begitu atau tidak begitu, siapa yang tahu?

Di sisi lain, saya sendiri secara fisik dan psikis sudah drained untuk urusan hamil-melahirkan ini. Kehamilan ke-4 merupakan kehamilan yang paling terasa capek, energi cepat habis, ngos-ngosan, dan beberapa kali nyaris pingsan. Nampak payah, ya? Saya sendiri pun heran. Padahal jaman hamil Devan alias D3 meski tetap mual-muntah, secara umum saya masih gesit. Faktor ‘u’mur mungkin, ya, yang berpengaruh besar. Lagipula sejak dulu saya berjanji pada diri sendiri, setelah usia 35 tahun, tidak akan hamil lagi. Berapa pun anak, menginjak usia 35, tutup pabrik. Nah, kebetulan, deh, anak ke-4 lahir saat usia saya hampir 34 :D.

Walau demikian, saya tetap mengalami masa-masa memantapkan hati dan meyakinkan diri sendiri. Apakah saya siap melepas privilege saya sebagai perempuan? Untunglah suami dan keluarga saya mendukung penuh keputusan saya. Ibu saya bilang bahwa beliau merasa lebih pusing melihat anak saya berentetan ketimbang saya sendiri :D.

Sebetulnya yang paling jadi pemikiran saya adalah persepsi bahwa steril itu haram, karena memutus kemungkinan reproduksi secara permanen. Yah well, alat kontrasepsi secara umum juga ada yang menganggap haram, sih. Tapi alat kontrasepsi, kan, kalau sudah nggak dipakai lagi masih bisa hamil? Saya jadi penasaran mencari tahu seberapa permanen efek dari tubektomi ini.

Sejak hamil D3, dokter kandungan sudah menyarankan saya untuk steril. Mungkin karena dikira sudah tiga kali caesar, ya, yang jadi patokan keamanan kehamilan selanjutnya walau sifatnya subyektif. Saat itu saya sudah menanyakan apakah tubektomi sifatnya permanen. Dari tiga dokter kandungan yang saya datangi waktu itu, dua mengatakan permanen sedangkan satu mengatakan bisa disambung/diperbaiki dengan microsurgeryMicrosurgery adalah operasi dengan menggunakan mikroskop.

Berapa biaya microsurgery? Hanya lebih mahal sedikit dari operasi caesar dan lebih murah dari IVF (in-vitro fertilization)/bayi tabung. Jadi, berarti tidak permanen, dong? Malah dengan biaya sebesar itu sebetulnya masih bisa dibilang terjangkau, kan, andai kata kelak pada suatu saat memang ‘perlu’ untuk hamil lagi?

Dokter kandungan yang bilang permanen juga sempat saya bantah, kan, bisa disambung lagi? Jawabnya, ya, disambung saja memang bisa, tapi tingkat keberhasilan hamil lagi tidak seperti sebelum steril. Ditambah meningkatnya risiko hamil ektopik, yaitu kehamilan yang terjadi di saluran tuba karena salurannya tidak 100% lancar/terbuka pasca tindakan steril.

Hmm … soal kemungkinan kehamilan saya pikir-pikir, kok, bukan alasan kuat, ya. Yang tidak pernah menjalani steril pun belum tentu hamilnya gampang, kan? Soal kehamilan ektopik juga tetap bisa terjadi pada mereka yang tidak pernah menjalani steril. Ya, setidaknya ini tetap meneguhkan bahwa penyambungan kembali dan kemungkinan hamil masih tetap ada. Otomatis gugur pernyataan bahwa steril memutus kemungkinan reproduksi secara permanen, berdasarkan kemajuan ilmu kedokteran sekarang ini.

Dari situ saya mantap menjalani tubektomi. Apalagi saat caesar yang terakhir, dokter mengatakan bahwa jaringan rahim saya dan sekitarnya sudah sangat tipis jadi kalau telat seminggu saja caesar-nya bisa beresiko rupture. Apalagi kalau sampai hamil lagi. Mau tidak percaya kata dokter, ya, memang sudah mekar empat kali, ya :D. Lagipula saya lihat Dendra memang beda sendiri. Berat lahirnya yang paling kecil dari kakak-kakaknya membuat saya berpikir mungkin memang di dalam sudah mentok biar saya juga selamat.

foto dari sini

 

sumber:

 

 


4 Comments - Write a Comment

    1. halo jeng,
      karena kalau sudah menjalani SC, steril bisa sekalian. dan setelah baca sanasini, kemungkinan pembalikan tubektomi lebih besar kemungkinan berhasil ketimbang vasektomi. bukannya mau dibuka lagi, tapi in case bener2 perlu untuk hamil lagi, dan menyanggah persepsi ‘kepermanenan’ steril, tubektomi lebih cocok :)

      lagipula banyak yg berpendapat ‘lebih aman’ pihak perempuan yg disteril ketimbang pihak laki2, karena kalau steril laki2 jadi lebih ‘bebas’. yah, soal itu sih balik ke masing2 kan yaa

Post Comment