Liburan, Hadiah Untuk Keluarga

Melepas stres dan membuang kepenatan bukan satu-satunya hal yang didapat dari liburan bersama keluarga. Buat saya, itu merupakan salah satu momen paling penting sepanjang tahun karena disaat itulah saya benar-benar bisa menghabiskan 24 jam bersama keluarga yang sangat saya cintai.

Mommies juga pasti tahu, dong, kalau liburan itu mempunyai pengaruh yang baik untuk kedekatan keluarga bahkan bisa mengurangi kadar stress baik untuk diri sendiri dan anak. Saya juga pernah membaca, ada sebuah penelitian yang dirilis oleh Applied Research in Quality of Life yang mengatakan bahwa hanya dengan merencanakan liburan saja seseorang sudah bisa melepaskan ketegangan.

Setelah melakukan liburan, tingkat kebahagiaan bahkan mampu bertahan hingga delapan minggu ke depan. Aaah, pantas saja setelah liburan perasaan jadi senang terus, ya?

Selain bisa melepaskan ketegangan dan membuat rasa bahagia, buat saya liburan merupakan salah satu bentuk hadiah. ‘Paket’ yang pantas saya dapatkan setelah begitu banyak energi dan waktu yang keluar untuk menyelesaikan pekerjaan baik di kantor ataupun di rumah.

Dalam hal ini, suami pun memiliki pemikiran yang sama. Sedangkan untuk Bumi, anak saya, rasanya liburan sangat pantas ia dapatkan karena  bisa menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya tanpa ada yang mengganggu.

Untuk itu kami pun akhirnya sama-sama ingin menjadikan liburan tahunan menjadi agenda rutin dalam keluarga. Tahun lalu, kami sepakat memilih Bali menjadi lokasi pertama dalam menjalankan liburan tahunan. Hasilnya? Waaah… senangnya bukan main.

Menjadikan liburan keluarga sebuah agenda tahunan memang sangat menyenangkan, tapi itu menuntut kita memiliki persiapan secara matang. Selain soal hal-hal yang berkaitan dengan si kecil, yang pasti harus dipikirkan adalah soal dana. Mau nggak mau, pos pengeluaran tahunan keluarga akan bertambah. Dan soal jumlahnya, pasti tidak kecil.

Soal liburan sebagai hadiah, untuk orang tua dan anak juga dibenarkan oleh Farah Dini Novita BA (Hons), RFA senior advisor dari Fin-Ally Consulting. Dia mengatakan bahwa merencanakan liburan tidak ubahnya sebagai hadiah untuk diri sendiri setelah bekerja keras.

“Setelah itu semua tentunya kita butuh refreshing dengan liburan. Harapannya setelah liburan pikiran dan fisik akan lebih fresh dan bisa lebih produktif dalam bekerja,” ujarnya beberapa waktu lalu pada sebuah kesempatan.

Dini juga menegaskan bahwa liburan memang perlu persiapan dana khusus. Dana liburan ini termasuk pengeluaran tahunan yang bisa disisihkan secara bulanan dari penghasilan yang ada atau dari bonus tahunan yang didapat. Jangan sampai menggunakan dana yang  bersifat krusial dan tidak bisa diganggu gugat seperti dana pendidikan, dana rumah tangga atau dana lainnya.

“Supaya dana liburan nggak meleset, tujuan  liburan harus ditentukan terlebih dahulu sehingga budget bisa tepat. mau liburan dalam jangka pendek, menengah atau jangka panjang. Soalnya ada yang lebih memilih liburan dengan lokasi yang tidak terlalu jauh selama beberapa tahun sehingga pengeluaran tidak terlalu banyak, tapi target 5 tahun ke depan bisa jalan-jalan ke Eropa,” jelas Dini lagi.

Tahun lalu, kami sudah mencoba memulai menjadikan liburan keluarga sebagai agenda rutin. Banyak cerita yang kami dapatkan dari perjalanan ke Pulau Dewata.

Setibanya di sana, saya dan suami sempat was-was kalau liburan akan kacau karena saat itu badan Bumi panas. Untungnya, setelah cukup istirahat di hotel, makan, dan minum obat penurun panas, Bumi jadi segar lagi.

Saya, sih, menduga saat itu Bumi mengalami ‘jetlag’, karena ini merupakan pengalaman pertamanya naik pesawat. Apalagi waktu itu kami berangkat menggunakan flight awal yang mengharuskan kami pergi selepas salat subuh.

Pergi liburan ke luar kota membawa anak seusia Bumi, yang masih balita memang mengharuskan saya punya persiapan sangat matang. Meski sudah menjadi hal yang paling standar, liburan ke Bali tahun lalu membuktikan betapa keharusan membawa obat-obatan si cilik punya pengaruh yang sangat besar terhadap keseluruhan jalannya liburan.

Liburan membutuhkan perencanaan jauh-jauh hari. Salah satu keuntungan yang bisa didapat, kita bisa mendapatkan tiket murah kalau mempersiapkannya sudah jauh-jauh hari. Hal lain yang harus diperhatikan adalah fakta bawa anak kita tidak bisa memenuhi semua ‘ekspektasi’ saat berlibur.

Kita tidak bisa berharap si kecil selalu memiliki semangat besar mendatangi berbagai tujuan wisata. Anak-anak, terutama yang masih balita memiliki keterbatasan dalam kekuatan fisik. Jadi, jangan paksakan jadwal kunjungan padat ke beberapa objek wisata pada si kecil.

Setidaknya, hal ini yang saya petik saat itu. Meskipun tidak semua lokasi yang kami rencanakan bisa dikunjungi, setidaknya saya sudah cukup puas karena Bumi bisa melihat beragam burung di Bali Bird Park dan bisa menyentuh secara langsung kura-kura berukuran besar di Pulau Penyu.

Untuk ke depannya, target liburan berikutnya yang lokal dulu saja. Tahun ini saya dan keluarga ingin sekali mengunjungi Lombok. Bermain air merupakan salah satu kegemaran Bumi. Dan rasanya, pantai menjadi lokasi yang tepat untuk mengajaknya berlibur. Ada yang sudah memiliki rencana liburan dalam waktu dekat?

 


4 Comments - Write a Comment

  1. Setuju.. Suami juga bilang gitu. He deserved a vacation as a gift for himself after working long hours. And for the family (me and the kids) after coping with his long and tight schedule. Enaknya kalau di rencanakan dari jauh hari adalah bisa arrange jadwal cuti dari jauh hari. Nyicil beli voucher hotel juga. Lumayan jadinya gak kerasa berat banget. Next holiday will be 8 months from now.. Pas wedding anniversary+bday mamaknya. Can’t wait. :))

Post Comment