Menyusui dan Cacar Air

Saat suami saya terkena cacar air seperti yang telah saya ceritakan di artikel Cacar Air Sekeluarga agak sebal juga, sih, karena dari sekitar dua tahun lalu saya sudah mengajak suami untuk vaksinasi cacar air tapi nggak direspons positif. Kami berdua dari kecil memang belum pernah kena dan belum vaksin. Makanya tiap di sekolah anak ada wabah cacar air yang ada saya jadi was-was. Apalagi saat saya sedang hamil. Alhamdulilah selama hamil saya nggak pernah tertular.

Untuk memastikan bahwa bintik-bintik yang muncul pada suami saya memang cacar air, saya cek mayoclinic.com dan menelepon teman sesama member Mommiesdaily, Faustomania. Faustomania pernah terkena cacar air sekitar setahun sebelumnya. Saat itu dia masih menyusui Faith yang berusia dua bulan. Saya ingat sekali karena waktu itu kami mendiskusikan plus minus terus menyusui atau stop menyusui sementara selama ibu masih cacar.

Pertimbangan-pertimbangan yang waktu itu kami bahas antara lain:

  • Usia bayi
  • Tingkat keparahan pada bayi/anak dibanding dewasa
  • Pemulihan pada bayi
  • Cara penularan dari ibu ke bayi
  • Transfer obat cacar ke ASI
  • Anak yang sudah pernah terkena cacar air sebelum diimunisasi cacar air, tidak perlu imunisasi lagi

Pada dasarnya kemungkinan terbesar penularan terjadi karena adanya lesi pada puting/payudara dekat puting yang dikhawatirkan pecah dalam proses menyusui. Jangankan menyusui, memerah dalam kondisi payudara berlesi juga tidak dianjurkan karena dikhawatirkan ASIP terkontaminasi cairan lesi. Karena waktu itu Faith masih di bawah tiga bulan dikhawatirkan masih masuk dalam golongan berisiko tinggi apabila sampai tertular cacar air, sang ibu memutuskan untuk stop sementara menyusui langsung dan menggunakan simpanan ASIP. Diharapkan dengan memberhentikan proses menyusui, kemungkinan penularan dapat diperkecil. Namun karena memang Faith terbiasa diurus sendiri oleh ibunya, mau tidak mau kontak fisik tetap terjadi. Entah karena tetap ada kontak fisik ini, atau karena usia yang terlalu muda, ditambah gejala cacar pada ibu yang tingkat keparahan di atas rata-rata, akhirnya Faith ikut tertular. Tapi karena masih bayi yang tingkat regenerasi kulitnya masih sangat bagus, walau bintik-bintik cacar memenuhi mukanya saat puncak penyakit, dalam waktu singkat bekasnya sudah hilang dan kembali mulus sementara bekas pada ibunya baru memudar setelah enam bulan.

Soal obat medis, dewasa dan anak sama-sama dapat acyclovir, ada yang bentuk salep ada yang obat minum. Bedanya obat minum untuk anak lebih rendah dosisnya. O, ya, acyclovir merupakan jenis obat yang sekian persennya dapat merembes ke ASI.

Dari pengalaman Faustomania, saya memutuskan yang sebaliknya. Saya jalan terus menyusui Dendra dengan pertimbangan:

  • Usia yang sudah tiga bulan lebih, daya tahan lebih kuat
  • Pemulihan pada bayi/anak yang cepat
  • Pada bayi yang cenderung lebih ringan ketimbang pada dewasa
  • Pemaparan disengaja supaya lebih kebal (dan tidak perlu imunisasi lagi)
  • Terpapar obat cacar air yang saya minum, dengan harapan seandainya tertularpun dapat meringankan gejala
  • Saya tidak punya stok ASIP.

Nah, pada kasus saya, entah karena ASI-nya jalan terus sehingga menjaga daya tahan dan terpapar obat, atau karena gejala cacar pada saya sendiri yang nggak terlalu parah, ya. Dendra Alhamdulilah nggak sampai tertular cacar air, walau ada lesi di sekitar payudara tapi nggak sampai pecah. O, ya, walau saat kita tertular cacar air sebaiknya mengonsumsi obat dalam 72 jam sejak lesi pertama muncul, saya juga sama sekali nggak memberikan obat maupun salep sebagai pencegahan cacar air. Biasanya ini dilakukan untuk jaga-jaga karena lesi pertama sering tidak terdeteksi karena mirip gigitan nyamuk pada awalnya.

Dari dua kasus ini, semoga Mommies yang sedang menyusui tapi tertular cacar air dapat memperoleh bahan pertimbangan apakah sebaiknya berhenti menyusui atau terus lanjut menyusui.

sumber:

http://www.mayoclinic.com/health/chickenpox/DS00053

foto: dok. pribadi dan thumbnail dari sini


One Comment - Write a Comment

Post Comment