Belajar Dari Si ‘Mbak’

Sungguh, tidak ada aturan baku tentang bagaimana sebaiknya mengasuh dan membesarkan seorang anak. Saya sendiri tidak belajar dari siapapun, selain intuisi dan feeling saya sebagai seorang Ibu, dan ajaran-ajaran spontan yang diberikan oleh Ibu saya. Setelah ditemani neneknya selama kurang lebih 6 bulan, lalu tiba saatnya Tara (usianya saat ini 8 bulan) harus beradaptasi dengan orang lain, Asisten Rumah Tangga. Ini adalah kali pertama saya menggunakan jasa ART. Tara sudah mulai mendapatkan bantuan asuhan dari ART sejak usianya 6 bulan. Awalnya ia menolak setiap kali digendong atau diajak bermain, tapi lama -lama hatinya pun luluh.

Saya pribadi, merasa terbantu dengan kehadiran ART, at least saya nggak perlu curi-curi waktu untuk sekedar menikmati mandi berlama-lama sambil luluran :D Tapi belakangan, saya baru sadar bahwa kadang, muncul rasa iri dalam hati saya karena kehadiran si  mbak dalam beberapa hal. Apakah Mommies merasakan hal yang sama?

Lalu apa yang harus saya lakukan saat:

1. Si Mbak adalah orang yang pertama tahu kebisaan baru si kecil

Saya sempat sedih saat si mbak adalah orang yang pertama tahu bahwa Tara sudah bisa menggoyangkan tangannya saat mengikuti irama musik. Yang saya lakukan saat itu adalah:

* Bertepuk tangan dihadapan Tara dan mengatakan bahwa ia hebat

* Mengatakan “Wah, kalo gitu nanti kita belajar tepuk tangan sama Mami ya, Nak” – entah bagaimana, saya merasa Tara akan tahu bahwa saya juga ingin mengajarinya “sesuatu”.

* Berpikiran positif, bahwa siapapun yang mengajari atau mengetahui kebisaan baru, yang paling penting adalah bahwa Tara sudah melewati masa tumbuh kembang yang baik.

2. Si Mbak membawa Tara bermain berdua didalam kamarnya

Saya adalah orang pertama yang akan selalu mengajak Tara keluar kamar untuk bermain di ruang tv bersama yang lain. Walaupun hal ini masih sering dilakukan, saya selalu membatasi waktu bagi si mbak untuk melakukan hal yang sama. Bukan apa-apa, saya hanya ingin Tara meluangkan waktu berdua di kamar lebih banyak dengan saya, supaya bisa membangun keintiman di antara kami.

3. Makan bareng Si Mbak, porsi makan ludes!

Sedangkan saat makan bersama saya, kadang makanannya masih bersisa. Bete dong:( Nah, untuk yang satu ini saya sengaja ambil ilmu dari Si Mbak. Saya perhatikan caranya memberi makan, dan apa yang membuat Tara bosan selama jam makan. Intinya memang, SABAR:))

4. Si Mbak bisa membuat Tara tertawa terbahak – bahak

Sama seperti saat bisa membantu menghabiskan porsi makan Tara, saya juga memerhatikan apa yang dilakukan Si Mbak sampai akhirnya Tara bisa tertawa seheboh itu. Yang mau nggak mau, membuat saya harus berpikir kreatif saat mengajaknya bermain. Mengeluarkan suara-suara lucu, membacakannya cerita, atau bermain boneka.

5. Digendong Si Mbak, kok, malah nggak nangis?

Terus terang, saya bukan tipe Ibu yang “pintar” berakrobat dengan jarik kesayangan, berganti-ganti posisi, dan si kecil akan nyaman dalam pelukan. Saya butuh waktu untuk melakukannya, dan saat Si Mbak berhasil membuat Tara tenang sesaat setelah menangis saat digendong, saya iri setengah mati. Yang saya lakukan saat itu adalah: bertanya tanpa malu-malu cara menggendong yang disukai Tara dan memintanya mengajari saya. Malu, sih, kesannya kok sebagai Ibu, nggendong saja nggak bisa. Tapi demi membuat Tara nyaman dalam gendongan saya, apa yang nggak mungkin dilakukan? Alhamdulilah, sekarang saya sudah cukup lihai soal “gendong – pergendongan” :))

6. Si Mbak memberikan masukan tentang apa yang harus saya lakukan saat Tara sakit

Karena Si Mbak sudah beberapa kali berpengalaman mengasuh anak, kadang-kadang ia muncul dengan ide-ide penyembuhan penyakit anak (penyakit ringan, terutama demam) yang pernah ia terapkan untuk anak-anak lain.

Yang saya lakukan saat itu adalah: Memberikan penjelasan bahwa Tara sudah ditangani oleh Dokter Anak yang tepat, yang bisa saya hubungi setiap saat, dan akan memberi info tentang apa yang harus saya lakukan saat Tara sakit. Plus, meyakinkannya bahwa jika Tara sakit, sebaiknya tidak memberikan obat-obatan selain anjuran dari saya. Yang ini, saya lakukan dengan tegas dan tidak bertele – tele, dan membuat si mbak mengerti bahwa segala hal yang berhubungan dengan kesehatan haruslah sesuai anjuran DSA-nya.

Ya, kebiasaan masing-masing ART akan berbeda. Tapi saya yakin, intuisi kita sebagai Ibu akan mengurangi kecemasan dan rasa iri yang kadang masih muncul. Pokoknya, sebisa mungkin saya akan langsung meng-handle Tara sesaat setelah pulang kerja. Biarkan si mbak menyelesaikan pekerjaan lain, dan saya bisa membangun wilayah keintiman saya sendiri lewat cara-cara kami berkomunikasi.

Yang kadang suka iri sama si mbak, mana suaranya? :D

You’ll find the way, Mommies!

 


7 Comments - Write a Comment

  1. Saya ngacung… tapi itu sudah berlalu. Mungkin agak lebay karena pada akhirnya saya memutuskan untuk resign karena merasa “ga kenal” anak sendiri. Ya hampir sama dengan yang mbak Indy tulis diatas, semua2nya jadi si pengasuh yang tahu soal anak saya, trus saya kebagian sisanya? Bahkan waktu itu Tangguh malah manggil “ibu” bukan “bunda”, yg artinya ya si ibu pengasuhnya bukan saya.

    Tapi alhamdulillah setelah saya full SAHM dan pegang Tangguh sendiri tanpa bantuan pengasuh ato ART, makin lama saya makin kenal anak saya sndiri dan alhamdulillah saya sendiri yang ngajarin dia ngoceh2, nyanyi2, berdoa, kebiasaan makan dan mandi, dan syukurlah anak saya nurut sama bundanya sendiri ketimbang orang lain. Mungkin saya sedikit lebay posesif tapi saya puas..

Post Comment