Ngobrolin Uang Bersama Anak

Pe-eR banget, ya, mengajarkan tentang uang di zaman konsumtif begini *lap keringat*

Sekolah Darris (8 tahun) dan Dellynn (6 tahun) tidak menganjurkan membawa uang jajan. Pihak sekolah sendiri tidak menyediakan kantin, adanya katering yang dibayar setiap bulan bersama SPP. Jadi selain uang yang memang jadi kewajiban siswa seperti SPP serta uang katering tadi, dan sedekah setiap Jumat, anak-anak tidak perlu bawa uang.

Selain di sekolah tidak terbiasa jajan, di rumah juga saya jarang beli yang lewat-lewat di depan rumah. Saya biasa beli camilan saat belanja bulanan. Biskuit, jus, yogurt, jeli, hampir semua tersedia di rumah. Jadi istilah jajan buat anak saya adalah kata benda, bukan kegiatan, apalagi kebiasaan. Pengajaran yang bagus sehingga anak nggak kenal njajan? Nggak juga -_- karena tanpa disadari anak terbiasa makan di mal *keluh*. Saya tertohok saat kami harus mengisi perut di pinggir jalan, dan si sulung komentar, “Nggak, ah, Aku makan di mal saja. Di sini panas.” Oh no way Jose, you’re eating here like the rest of us, or you’re not gonna eat at all.

Rupanya saya lupa mengajarkan bahwa kenyamanan makan di mal itu ada harga yang harus dibayar. Makanan yang sama, misalnya mie ayam, di mal dan di warung beda harganya bisa dua kali lipat atau malah lebih. Udon -keluarga kami sedang keranjingan ini, nih- beli dalam kemasan cuma Rp5.900, sementara makan di mal minimal 30 ribu rupiah. Saya ajarkan juga perbandingan pengeluaran makan di mal dengan gaji mas ojek yang mengantar mereka pulang, atau ART yang bantu-bantu di rumah. Ongkos makan untuk lima porsi, bisa sekitar separuh gaji mereka sebulan. Berarti untuk bisa makan seperti kami, si mas atau si mbak harus kerja dua minggu. Saya terangkan juga, bahwa even pergi ke mal tanpa beli apa-apa pun ada harganya. Setidaknya enam ribu rupiah harus dibayar untuk parkir selama dua jam. Saat anak minta mainan, saya tawar dengan menunggu saat sale sembari dia menabung untuk memenuhi keinginannya itu.

Karena tidak ada uang jajan, ‘sumber pendapatan’ anak-anak adalah uang angpau saat lebaran dan (kadang) saat ulang tahun. Uang ini biasanya terpakai saat anak minta sesuatu di luar anggaran kami, terutama mainan; dan saat anak harus membayar ‘denda’. Ya, kami menerapkan ‘denda’ sebagai kompensasi dari ‘kesalahan’ anak yang merugikan pihak lain. Misal salah satu lelet saat persiapan berangkat sekolah sehingga mengakibatkan yang lain terlambat, maka si lelet harus bayar denda pada ‘korban’.

Untuk mainan dan keinginan lain seperti main di playground, kami selalu ingatkan apakah layak antara barang atau pengalaman yang didapat dengan uang yang ‘hilang’. Tapi, ya, namanya anak-anak dengan jangka pikiran yang masih pendek, lebih sering impulsif. Kita yang tua aja masih sering impulsif, ya.

Kebetulan Darris suka menggambar dan sering diminta menggambarkan sesuatu untuk teman-temannya. Saya nyeletuk,”Kenapa kamu nggak jualan gambar saja? Lumayan, kan, dapat uang.” Celetukan saya ternyata ditanggapi. Dia buat semacam tim, 2 tukang gambar dan 3 marketer, hahaha. Dari penjelasan singkat mengenai pemasukannya, saya lihat dia mulai paham soal “modal”. Sayangnya saya telat mengenalkan konsep ini ke Dellynn saat ia lagi gemar bikin gelang manik-manik. Sudah keburu dijual murah dan hasilnya habis untuk jajan *hadeh*.

Selain menabung dan menyisihkan untuk modal, saya juga mention tentang sedekah. Tidak cuma dari sudut ‘membantu orang tidak mampu’, tapi juga dari sudut manfaat spiritual. Kebetulan dagangan D1 sedang macet sekarang :D katanya, “Gambarnya sudah nggak laku, begitu-begitu saja kata teman.” Saya bilang,”Kamu harus bisa gambar lebih keren, dong, lebih bagus. Coba kamu lihat LEGO, kalau bentuknya sama-sama saja, pasti kamu nggak akan pengen, kan?” Darris setuju dengan pendapat saya. Saya tambahkan saja, ”Nah, kamu juga jangan lupa sedekah. Sedekah itu ngembaliin sebagian rezeki ke Allah. Nanti Allah akan memberikan lebih banyak, misalnya kasih ide gambar yang berbeda supaya nanti jadi laku lagi.”

Saya suka ikut nonton kanal kartun yang ditonton anak-anak. Ada klip kartun yang menarik perhatian saya di Cartoon Network, sejalan banget dengan harapan saya supaya anak nggak cuma tahu cara menghabiskan uang tapi dari kecil tahu cara mencari sekaligus mengaturnya. Nama klipnya “Cha-ching”, dan topiknya macam-macam. Ada tentang enterpreneurship, tentang menabung, dan sedekah. Bahkan tentang invisible money, yaitu uang semu seperti kartu kredit dan hutang juga ada. Sampai ke cara lepas dari hutang kartu kredit pun juga ada contohnya. So simple, yet kita yang orang dewasa saja suka susah praktiknya, ya.

Sayangnya tampilnya di kanal TV itu, kok, random banget. Jadi penasaran, kan, tema-tema video klip lainnya seperti apa. Akhirnya saya googling, deh, “Cha-Ching band”. Wah, ternyata malah ada situsnya sendiri dalam bahasa Indonesia dengan fitur-fitur permainan keuangan, aplikasi iPhone (coba ada Androidnya juga, ya :D), dan beberapa video musik yang bisa diunduh. Kalau kita ganti pilihan bahasa ke Inggris, lebih banyak lagi video klip yang bisa diunduh. Bisa juga mampir ke kanal Youtube-nya. Ada total 26 video; 22 video musik dalam bahasa Indonesia dan Inggris juga 4 video tentang program Cha-Ching Money Smart Kids.

 

Jadi lebih mudah, nih, mengajarkan tentang keuangan pada anak. Bisa sambil main game dan nonton :D

 

 

foto dari sini dan dokumen pribadi

 

 

 


Post Comment