Soulmate Itu Diciptakan, Bukan Ditemukan…

Selama ini banyak sekali yang menganggap bahwa soulmate atau belahan jiwa itu bisa ditemukan dengan sendirinya. Seseorang yang memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pasangan kita, yang bisa membuat hidup lebih sempurna.

Mungkin anggapan ini lahir setelah istilah soulmate didengungkan Plato dalam tulisannya, The Symposium. Ia mengisahkan tentang asal-muasal soulmate di mana pada awalnya manusia diciptakan dengan empat tangan, empat kaki, dan satu kepala yang memiliki dua wajah.

Dengan fisik seperti ini, manusia memiliki kekuatan dua kali lipat. Sayangnya, Dewa Zeus kemudian membelah tubuh manusia menjadi dua dan mengutuk selama hidup agar keduanya saling mencari. Sejak itu, istilah soulmate pun terus ada hingga sekarang.

Ujung-ujungnya,  sebagian besar pasangan yang telah terikat dalam sebuah pernikahan, atau bahkan mereka yang masih dalam tahap pacaran banyak yang menganggap telah menemukan belahan jiwanya. Tapi, apa benar seperti itu?

Secara pribadi, sejak zamannya mengenal cinta monyet, masih mengenakan seragam putih abu-abu, saya pun termasuk orang mudah memberi label soulmate pada pacar atau bahkan cowok yang saya taksir.

“Umh, rasanya dia itu soulmate saya. Banyak kesamaan yang kami miliki …,” begitu pikir saya.

Tapi lama kelamaan, pandangan saya mulai berubah. Apalagi setelah menikah. Kok, rasanya anggapan tersebut kurang tepat, ya? Hal ini semakin saya yakini setelah mengikuti gelaran ‘Gala Seminar indonesia 2013, Diamonds of Love’ 5 Januari yang dilangsungkan di gedung BBPT, Thamrin, Jakarta.

Dalam seminar yang menghadirkan pembicara utama Indra Noveldy ini, banyak pelajaran dan pemahaman baru yang berhasil membuka mata dan pikiran saya akan apa itu soulmate.

No Pain, No Gain

Indra Noveldy mengungkapkan, bahwa sebenarnya soulmate itu tidak ditemukan, melainkan diciptakan. Semua tidak terlepas dari usaha  keras dan perjuangan diri sendiri untuk menciptakan belahan jiwa masing-masing. Maka dalam sebuah pernikahan, proses menciptakan soulmate berlangsung terus menerus. Tidak bisa berhenti sampai pada suatu titik.

Prosesnya pasti tidak mudah. Di dalamnya ada rasa sakit, pahit ataupun getir  yang harus diterima. Tapi itu memang perjalanan yang harus  dilalui. “Sayangnya, saat ini banyak sekali pasangan yang lari dari itu semua. Padahal, jika semua bisa dilewati, akan happy ending di akhir cerita,” lanjut Indra Noveldy.

Konsultan pernikahaan ini pun menganalogikan bahwa sekarang banyak pasangan yang telah menikah, menjalankan komitmennya ibarat lomba lari sprint. Proses untuk menuju akhir tidak terlampau panjang.

Padahal faktanya, menikah itu seperti lari maraton. Butuh perjuangan berat untuk sampai garis di finish. Saat start kita akan merasa penuh semangat dan penuh dengan kemeriahan, namun setelah sampai di kilometer ke-5 kita akan merasakan napas yang mulai terasengal-sengal. Sementara pada jarak kilometer ke-10 bukan tidak mungkin kita hanya berlari dan berjuang sendirian, dengan hanya ditemani sinar matahari dan debu knalpot saja. Bahkan, bukan tidak mungkin ada keinginan untuk berhenti di tengah jalan. Menyerah.

“Nah, untuk melewatinya kita punya, nggak, semangat juang yang besar?” tanyanya.

Soalnya, semangat juang yang dimiliki bisa kian terkikis, lho. Coba, deh, perhatikan, setelah menikah beberapa tahun, tentu rasanya sudah banyak kondisi yang berbeda, ya?

Kadang terselip perasaan kalau kita sering diabaikan. Pasangan jadi sibuk sendiri dengan dunianya. Seakan-akan pasangan berhenti berjuang untuk kita, istrinya. Ibarat naik gunung yang perlu banyak bekal untuk bisa bertahan, penikahan pun demikian.

Kenali Diri Sendiri

Sebagai wanita, siapa, sih, yang tidak ingin diperlakukan dengan baik? Selalu dinomorsatukan? Selalu diperjuangankan oleh pasangannya? Saya pun berharap bisa diperlakukan seperti ini. SELALU.

Kalau zaman pacaran kita kerap kali merasa diperlakukan bak Ratu, saat menikah hampir pasti kondisinya pasti akan berbeda. Sampai pada akhirnya akan timbul pertanyaan, “Apa, ya, setelah menikah, saya tidak lagi layak untuk diperjuangankan?”

Ternyata, menurut Indra, perubahan sikap suami kita setelah menikah ini bisa bermuara pada diri kita pribadi (para istri). Bukan disebabkan karena pasangan tak cinta lagi. Tanpa sadar, kita sendiri yang bersikap bahwa sudah tidak layak diperjuangkan. Nah lho?

Kalau dipikir-pikir benar juga, kok. Pria yang pada dasarnya tipe manusia pemburu, tentu akan mencari berbagai hal yang menarik dan belum mereka dapatkan, termasuk perempuan. Nah, jika saat pacaran kita selalu berusaha tampil cantik dan maksimal untuk tetap terlihat menarik, hal ini pun sebaiknya tetap berlanjut saat sudah menikah.

Menikah dalam kurun waktu yang lama, bukan berarti kita sebagai istri lantas cuek dengan penampilan, lho. Menjadikan daster sebagai kostum kebangsan memang boleh, tapi mulai pilah pilih, yuk, model dan warna daster yang lebih menarik!

Karena hal ini juga, Indra Noveldy menyarankan sebelum berusaha keras mengenali sifat dan karakter pasangan, harus dimulai dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu.

Meskipun tekesan mudah, tapi pada kenyataannya mengenali diri sendiri itu juga butuh ilmu. Jangankan untuk paham sifat pasangan, mengetahui dan memahami diri sendiri saja butuh ekstra usaha.

Dengan mengenali diri sendiri, kita jadi lebih mengetahui bagaimana seharusnya bertindak dan berperilaku terhadap pasangan. Yang tidak kalah penting adalah kita berani jujur kepada diri sendiri tanpa perlu melakukan penyangkalan.

O, ya, berkaitan dengan mengenali diri sendiri, percaya nggak, kalau katanya suami istri itu ‘beti’? Alias beda-beda tipis? Hahahaha, kalau saya, sih, setuju banget. Ada beberapa sifat kami yang serupa. Saat melihat pasangan, saya pun jadi seakan sedang bercermin. Oleh karena itulah, penting untuk mengenali diri sendiri sebelum menciptakan soulmate sejati.

Memiliki rumah tangga yang harmonis bahagia, sejahtera, dan langgeng, harmonis jadi impian semua orang. Tapi yang mampu mewujudkannya tidak semua pasangan. Banyak yang tidak berhasil untuk melewati prosesnya, yang butuh banyak perjuangan dan tidak bisa didapat dengan instan.

Yang pasti, saat berbicara mengenai soulmate, rasanya baru akan tepat jika kita sebelumnya telah membuang jauh-jauh apa yang dinamakan egoisme. Menghilangkannya sampai berada pada titik nol.

Saya sendiri sadar bahwa proses menciptakan soulmate dan menjalankan sebuah komitmen membutuhkan semangat juang  yang besar dan itu semua harus dimulai dari diri sendiri. Saya pribadi masih terus berlajar dan akan menikmati prosesnya.

Berharap suatu saat goal yang dituju bersama suami bisa terwujud ….

*thumbnail dari sini