What I’ve Learned From My Parents

Orangtua saya bisa dibilang cukup otoriter. Dari kecil saya diajarkan untuk harus nurut pada segala nasihat dan perkataan mereka tanpa adanya alasan kenapa. Kalau saya mencoba bertanya kenapa, mereka hanya bilang, “Kalau kata mama/papa nggak boleh, ya, gak boleh.”  Alhasil komunikasi saya dengan orang tua jadi tidak bagus karena cenderung berjalan satu arah. Hal ini memang sempat sedikit “membaik” ketika saya beranjak dewasa dan menikah. Namun akhir-akhir ini kelihatannya “kambuh” lagi karena saya meminta mereka mengasuh Sachiko saat saya kerja.

gambar dari sini

Saya, sih, tidak sepenuhnya menyalahkan mereka, toh, mereka pasti bertindak seperti itu karena memang mereka lebih punya pengalaman dari saya. Hanya saja, ada beberapa hal yang coba saya komunikasikan kepada mereka  (terutama mengenai pola asuh) namun selalu ditolak mentah-mentah. Yang lebih “jleb” lagi ketika mereka bertindak “diam-diam” di belakang saya. Berkat ilmu yang saya dapat dari milis, forum dan berbagai website serta artikel parenting, saya dan suami memutuskan untuk memberikan ASI kepada Sachi. Saya tentu langsung mengomunikasikan hal ini sejak saya masih hamil. Saya kira mereka akan mendukung penuh dan mendengarkan berbagai “ilmu” yang telah saya dapatkan.

Ternyata kenyataannya … Sachi pernah diam-diam diberikan sufor oleh orangtua saya. Jangan ditanya gimana perasaaan saya pas tahu hal itu.  Sakit hati, sih, pasti. Marah apalagi. Tapi di sisi lain mereka mungkin memberikan sufor karena kurangnya edukasi tentang ASI. Saya coba bicarakan baik-baik dengan mama, eh, beliau malah defensif dan berkata nggak pernah dikasih sufor. Padahal semalam saya baru menemukan botol Sachi di bak cuci piring dengan sedikit sisa sufor di dalamnya. Saya juga sudah coba mengomunikasikan hal tersebut kepada orangtua saya, tapi saya merasa mereka masih menganggap saya anak bau kencur yang gak tahu apa-apa.

Dari kejadian tersebut saya akhirnya belajar untuk mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, terutama untuk Sachi nanti! Sudah bukan zamannya lagi orangtua hanya melarang sesuatu karena mama atau papa tidak memperbolehkannya. Apalagi jaman sekarang anak-anak cenderung lebih kritis, jadi sebagai orangtua mau nggak mau memang kita harus siap alasan mengapa mereka tidak diperbolehkan main game lama-lama atau mengapa mereka tidak boleh sering makan junkfood. Repot? Repot yang menyenangkan pastinya! Namun paling tidak saya sudah berusaha mengajarkan Sachi cara berkomunikasi yang baik sejak dini. Ya, kan?


5 Comments - Write a Comment

  1. HUaaa, mbak AMiii, sama banget dengan mama ku yg otoriter dan keras. Skrg cuma bisa berdoa smoga watak mama yg seperti itu tidak bertransmisi ke kita. AMIN! karna menurut saya, keberhasilan anak adalah ketika ia tidak mengulangi kesalahan orang tuanya. KIta pasti bisa :)

  2. Betul banget nih, kita harus bisa berkomunikasi dengan baik sama anak. Toh anak juga nggak ngerti kalau mamanya bilang nggak boleh ini, nggak boleh itu. Anak bukan peramal yang mengerti semua perkataan orang tua, jadi peran orang tua wajib dong untuk menjelaskan. Misalnya nggak boleh jajan sembarangan, jangan pulang malam, dll, dijelasin kenapa alasannya nggak boleh. Kan kasihan anak kalau di sekolah sampai diejek “Pasti nggak boleh sama mama ya” saking seringnya anak bilang apa-apa dilarang mamanya. Kalau orang tua menjelaskan kan anak juga jadi ngerti dan dia juga bisa bilang sama teman-temannya alasan yang logis.

Post Comment