Tutup Produksinya

That means I can not be pregnant and giving birth anymore :’(

Keputusan yang sulit, eh, bukan keputusan, sih, keharusan, karena kehamilan dan melahirkan yang keempat ini sudah masuk risiko tinggi bagi saya, jadi mau nggak mau  harus mau untuk ditutup pabriknya a.k.a tubektomi atau sterilisasi. Empat kali caesar dan yang terakhir melahirkan prematur 33 minggu karena plasenta previa (plasentanya menempel di dinding jaringan parut bekas SC sebelumnya, jadi ga bisa berubah letaknya hingga menyebabkan pendarahan)

Untuk mau lebih lebih lanjut tentang tubektomi itu apa dan bagaimana bisa lihat di sini, sini dan sini, ya.

Tentunya keputusan “tutup pabrik” ini membuat ‘tenang’ banyak pihak, terutama ibu saya :D . Pas lagi tegang-tegangnya persiapan operasi, dokter anastesi sempet bilang ,”Wah, Bu, disteril, ya. Nggak apa-apa, Bu, enak, jadi nanti bisa kapan dan di mana saja.” Dooooook, tolong, deh, ya! Hahaha *colek Jeng @kirana21 *

Bagi saya yang suka hamil juga melahirkan :D pasti berat banget. Jadi kalau yang lain mengkhawatirkan akan kondisi dan keselamatan saya, saya pun mengkhawatirkan gimana rasanya nggak boleh hamil lagi :D.

Inginnya, sih, saya bisa hamil dan melahirkan dua kali lagi setelah yang ketiga kemarin. Supaya ganjil saja gitu, punya anak lima. Tapi, ini, kan, inginnya saya, ya.  Malah kalau boleh lebih dari 5 juga mau, cuma sadar diri saja, tiap melahirkan, kan, operasi terus, jadi nggak bisa ngayal tinggi-tinggi juga punya banyak anak. Qodarulloh-nya, ya, seperti ini, jadi dinikmati saja.

Sekarang sudah hampir 6 bulan dari melahirkan dan tubektomi, menstruasi bisa dibilang langsung lancar. Biasanya saya langsung KB IUD, dan baru menstruasi setelah 1 tahun. Tapi sekarang, sudah 4 bulan terakhir ini saya menstruasi tiap bulan.

Selain itu, keharusan tubektomi ini ada baiknya juga. Setidaknya mulai sekarang saya dan suami bisa fokus untuk mendidik anak-anak kami, nggak tergoda buat bikin anak lagi :D so stay focus :p *Nggak ada alasan lagi, nih, atas nama ‘ngidam’ hahaha*

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendapatkan materi tentang tahapan dalam pernikahan dari ustadzah. Isinya kurang lebih seperti ini, 10 tahun pertama adalah bereproduksi, 10 tahun kedua mendidik keluarga-anak-anak, 10 tahun ketiga dan seterusnya untuk bersosialisasi.

Alhamdulillah, kami sudah melalui tahap 10 tahun pertama di 9 tahun pernikahan kami, bereproduksi :p . Siap untuk memasuki tahap selanjutnya, yang tentunya jadi PR banget.

Mudah-mudahan kami dimudahkan dan dilancarkan dalam mendidik mereka, amanah yang sudah diberikan-Nya. Menjadikan mereka anak-anak yang soleh dan solehah juga segala kebaikan ada di dalam diri mereka, dijauhkan dari segala keburukan apa pun bentuknya. Amin.


9 Comments - Write a Comment

  1. Wow! Hebat ya sampai kepengen punya 5 anak atau lebih.

    Kalau saya pernah juga nie bahas soal “tutup pabrik” sama suami saya.
    Saya bilang kalau sudah punya 2 anak cewe dan cowo, kayanya kita tutup pabrik ajah ya. Biar bisa fokus untuk merawat dan mendidik mereka. Suami saya setuju, tapi pas saya request supaya “pabrik suami” saja yang distop, eh suami nda mau kalah, katanya “Biar adil, kita tutup pabrik sama-sama”. Ha3x.

  2. wuahhh….aku juga rencana mo tutup pabrik setelah melahirkan anak ketiga ini. sebenernya masih pengin lagi…tapi klo di pikir lebih jauh, ada gak nya juga. suami gak mau di tutup, kayane dia ngeri dengan prosesnya. klo aku yg ditutup kan pas c-section.

Post Comment