Si Peniru Ulung

Sudah enam bulan belakangan ini, Nadira gemar sekali memerintah saya dan Mbaknya. Setiap berbicara, pasti selalu diakhiri dengan kata “ayo!” yang berkesan bossy. Contohnya begini:

“Mbak, tolong ambilin minum Mbak Dira. Ayo, ayo!”

“Ibu, Mbak Dira mau baju yang pink. Ayo, ayo!”

Saya pun bingung. Ini anak meniru siapa, ya? Saya sempat bertanya pada ART, memperhatikan gaya bicaranya, serta gaya bicara para neneknya. Saya juga sempat memperhatikan gaya bicara teman-temannya di sekolah. Tapi kok nggak ada yang seperti itu, ya?

Sampai suatu hari, saya sedang minta Nadira supaya segera bangun dan mandi karena mau ke sekolah. “Ayo, Mbak Dira, sudah siang, nih. Bangun, dong, nanti telat. Ayo, ayo!”

Lantas saya terdiam. Lho, ternyata semua biang keladinya saya sendiri! *insert emoticon wajah memerah*

Hihihi. Benar-benar ,deh, ya. Anak itu adalah peniru ulung, terutama orangtuanya sendiri. Nggak hanya gaya berbicara, intonasi dan pilihan kata, bahkan gaya pun dicontek habis. Termasuk kata “dong”, “deh”, “sih”, atau “kok” yang seringnya digunakan semaunya tanpa paham fungsinya.

Pernah, dalam suatu periode waktu, Nadira selalu berbicara dengan dialek Sunda Betawi. Misalnya, kata “sana” dibilang “sono”. Saya pun langsung menuduh ART saya yang memang berdarah Sunda Banten dan gaya bicaranya Sunda sekali. Selain itu, Mama saya juga kena bagian dituduh karena Mama saya berdarah Sunda Betawi. Eehh … suami saya tiba-tiba nyeletuk, “Lah kamu sendiri, kan, bilang ‘sana’ jadi ‘sono’. Pakai nyalahin orang lagi!”

Pepatah buruk muka cermin dibelah memang benar adanya, ya. Makanya sekarang kalo ada gerak-gerik atau kalimat Nadira yang agak ajaib sedikit, saya kapok menyalahkan orang lain. Saya biasanya introspeksi diri, apakah saya melakukan/mengatakan hal itu atau tidak.

Selain itu, saya juga jadi bersikap ekstra hati-hati. Jika saya mau Nadira jadi anak dengan perilaku baik, ya, harusnya saya juga memberi contoh yang baik pula. Seperti yang selalu didengung-dengungkan Bu Elly Risman dalam setiap seminar yang ia gelar. Kalau mau anak oke, kita sebagai orangtua harus memberi contoh yang oke. Kalau mau anak rajin salat atau ke gereja, ya, kita orangtuanya harus memberi contoh. Kira-kira begitulah.

Alhasil, beberapa kebiasaan buruk saya seperti makan snack ber-MSG biasanya saya lakukan di kantor supaya Nadira nggak mencontoh. Curang, ya? Hehehe… Kemudian, di depannya saya selalu berusaha makan sayur dan buah sekaligus menikmatinya dengan luar biasa bahkan agak lebay. Semua semata-mata supaya Nadira tertarik dan mencontoh apa yang saya lakukan.

Anyway, being parents always creates new and unique experience for everyone, everyday. Setuju nggak, Mommies?


12 Comments - Write a Comment

  1. Haha, Langit juga, nih! Waktu awal-awal bisa ngomong, gara2 sering dengar saya ngomong “ih, rempong amat”, jadi sering ngomong begitu. Kalau sekarang, suka ngomong “terserah ibu, deh”, hihiih, jleb bener, karena saya suka ngomong “terserah Langit, deh” :p

Post Comment