Just Do It..

Sebagai seorang istri juga ibu, saya adalah seorang manusia yang punya segala banyak rasa yang penuh dengan sensitivitasnya. Saya termasuk orang yang moody sekali. Sehingga terkadang rasa malas suka hinggap, apalagi jika itu berhubungan dengan segala sesuatu yang tidak disukai oleh saya, butuh waktu untuk dapat menjalaninya.

*Saya sedang tidak mengeluh* hanya ingin sekedar berbagi bagaimana saya mengatasi segala ‘kemalasan’ saya akan sesuatu. Awalnya sulit, tapi makin sering saya melaluinya, saya makin merasakan ‘keajaiban’ ini. Sehingga munculnya ide tulisan ini ‘Just Do It! And everything gonna be done!

*gambar dari sini

Mencuci piring, sejak zaman kecil saya paling tidak suka dengan pekerjaan yang satu ini. Bagi saya ini terlalu kotor. Sehingga dalam pembagian tugas rumah, pekerjaan ini didelegasikan pada adik perempuan saya. Saya memilih untuk mencuci baju keluarga saja. Namun, dalam perjalanan hidup, kita tidak akan terus menerus menghindar dari sesuatu yang tidak kita sukai. Sehingga ketika sudah menjadi istri dan ibu rumah tangga, mau nggak mau, suka nggak suka, senang nggak senang, mual nggak mual, I have to face this situation. Tiap mata melihat piring-piring, gelas-gelas, dsb yang sudah menumpuk, lemas rasanya, menyadari jika saya yang harus melakukan ‘pembersihan’ itu. Ini terjadi setiap hari. Terserah orang mau bilang lebay, but I feel it everyday. I don’t like this job but some has to do it.

Memasak, saya pun tak suka dengan pekerjaan ini *mohon dibedakan dengan tidak bisa dengan tidak suka* tidak bisa masak maka kita bisa belajar, namun jika ini tidak suka masak maka kita harus punya keinginan dari dalam untuk mencoba menyukainya. Dan ini butuh ‘tenaga’ bagi saya untuk mencoba menyukainya pekerjaan ini. Bagi saya, persiapan memasak dan sesudahnya yang sungguh merepotkan untuk saya yang orangnya nggak suka ribet.

Namun, dalam perjalanan ini. Setidaknya dalam 4 tahun ini setelah ‘kemandirian’ keluarga kami. Saya dapat merasakan keajaiban dengan ‘Just Do It’. Ketika malas maka lakukan, ketika tak suka maka sukai. Dan ‘ajaib’ semua terselesaikan begitu saja bagi saya.

Mencuci piring, dimulai dengan menerapkan Gerakan Piring Bersih (GPB), apapun bentuk makanannya saya selalu menekankan pada anak-anak juga suami untuk selalu makan dengan bersih tanpa sisa, meski satu nasi pun. Jika anak-anak belum bisa ataupun tak sanggup melakukannya maka tugas saya untuk membersihkannya *bukan dibuang di tong sampah, yaaa, tapi ke perut saya :D * usahakan apa yang kita makan harus habis tidak dibuang. Dan Alhamdulillah, suami saya sevisi dengan saya, sehingga saya tidak mengalami kesulitan dalam menerapkan GPB ini. Lalu dilanjutkan dengan menyabuni semua peralatan (piring, gelas, sendok, dsb) yang kotor tersebut, dan mengalir begitu saja hingga selesai pekerjaan ini. Dan saya selalu merasakan keajaiban seperti ini tiap hari.

Memasak, dimulai dengan melihat anak-anak saya yang sedang masa pertumbuhannya dan suami. Jika bukan karena mereka dan mengharap ridho-Nya, tentu saya akan selalu menghindari pekerjaan ini. Meski memang masakan-masakan saya cenderung yang simple dan tidak merepotkan saya dan terkesan hanya itu-itu saja tentunya. Alhamdulillah suami dan anak-anak sangat mengerti *percaya diri tingkat tinggi tanpa harus bertanya pada mereka :D *

Begitu juga dengan berbagai pekerjaan rumah lainnya. Selain karena memang tidak ada lagi yang dapat mengerjakannya. Beruntung saya mempunyai suami yang sangat pengertian, sehingga ini semua hanya antara saya dan ego saya saja. Dan semua ‘pertentangan’ ini dapat diselesaikan dengan ‘Just Do It!’.

Alhamdulillah, Terima kasih Allah, untuk segala ‘keajaiban’ yang saya rasakan setiap hari..

Bersyukur, sekarang sudah ada ART yang pulang pergi untuk menyetrika dan mencuci piring :p .

Mungkin saya yang terlalu lebay dalam menghadapi ‘peristiwa’ ini. Saya memang bukan superwife atau supermom seperti yang sering digambarkan orang-orang tentang sosok seorang ibu atau istri. Yang bisa melakukan semua hal dengan baik dan benar. Saya hanya istri juga ibu biasa akhir zaman. Yang jelas dan bagi saya yang terpenting adalah saya selalu berusaha dan menginginkan yang terbaik untuk suami dan anak-anak saya, tentu saja dengan cara saya sendiri :D


7 Comments - Write a Comment

  1. bener banget! ada yang bilang, “kalo direncanakan, lebih banyak nggak jadinya”. semakin sering dipikirin, semakin males kitanya untuk mulai sesuatu ya:D Gue juga jadinya kalo kepikiran mau ngapain, langsung dikerjain aja, keburu malesnya dateng, hihi

Post Comment