Naik Kereta Api Tut…Tut…Tut…

Sebentar lagi libur akhir tahun. Yayyy…!! Pada mau kemana, ibu-ibu? :D Liburan gini jadi bikin saya inget pas pertama kalinya ngajak Anggit untuk berlibur.

Salah satu yang diperhatikan Anggit ketika masih berumur sekitar 1 tahun kalau diajak jalan-jalan dengan mobil adalah pintu kereta api. Matanya begitu berbinar ketika melihat pintu kereta api itu bisa naik turun sendiri tanpa ada yang menggerakkan, lalu suara sirene yang mengiringinya (dia mengira suara itu berasal dari pintu kereta apinya). Belum lagi ada suara wanita yang bercerita tentang bahayanya menembus pintu kereta api yang sedang tertutup. Her eyes were sparkling and she asked me a few questions dengan cadel dan saya harus memerhatikannya betul-betul supaya mengerti apa maksudnya. Hahaha…

Dari situ lalu ada timbul keinginan saya untuk mengajaknya berkenalan dengan hal yang lebih spektakuler. Yaitu, naik kereta api.

Yes … akhirnya kesempatan itu datang juga. Saat itu dia berusia 14 bulan, dan kebetulan saya sedang ada misi untuk menjajaki kemungkinan membuka bisnis di Surabaya. Jadi, ketimbang menggunakan pesawat terbang, saya merencanakan naik kereta api saja, sekalian mengajak Anggit dan juga Eyang, biar ada yang ngebantuin kalau memang diperlukan. Jadi let’s have the adventure begin!

Namanya juga traveling sama anak balita umur 14 bulan, dan baru pertama kalinya naik kereta api, itu yang namanya barang bawaan, alamaaaaaaaakk … buanyaknya! Hahahahaha … sampai berkoper-koper. Saya harus membayar jasa beberapa orang porter sekaligus! Dan tau nggak, sih, dari sekian banyak koper, kopernya Anggit itu 60%-nya sendiri! Hahahaha.  Hadehhh.

Anggit on a horsie

Sayang pas lagi di dalam kereta, tak sempat kefoto :D

Singkat cerita, akhirnya kami sudah stand by juga di dalam gerbong. Saya, sih, sudah siapin segala keperluan Anggit di tas yang memang gampang diambil. Ada susu, bantal kesayangannya, boneka, obat-obatan, buku-buku, makanan, camilan … semuanya! Saya tinggal merogoh tas yang ada di bawah kursi, dan semuanya siap digunakan.

Dan saya sangat sangat bersyukur, bahwa Anggit bukan termasuk anak yang suka mabuk. Jadi di dalam kereta pun dia asyik menikmati kereta yang bergoyang-goyang. Dia ceria banget selama perjalanan. Sibuk bertanya tentang hal-hal yang dilihatnya di luar jendela. Ikut sibuk mondar mandir sama pramugari pramugara yang meladeni para penumpang. Dan akhirnya, satu gerbong jadi pada kenal semua. Hahahaha…

Nggak lupa juga dia menyanyikan lagu-lagu kesayangannya, termasuk Naik Kereta Api. “Naik Kereta Api… tut tut tuuuuuuuut…”

Ketika dia ngantuk pun tanpa rewel dia langsung duduk di kursinya yang saya rebahkan, dan langsung tertidur dengan pulasnya. Hilang sudah semua kekhawatiran saya pas mau berangkat tadi. Saya takut kalau dia nggak nyaman karena kereta yang goncangannya terlalu keras, atau suaranya yang terlalu berisik atau apalah. Tapi ternyata, dia sangat menikmati perjalanannya.

Sesampainya di Surabaya, Anggit turun dari kereta dengan happy, lalu sambil berjalan menyusur lorong kereta, dia memandangi kereta dengan sayang.

“Sampai besok, ya, kereta. Dadaaaahhh…,” katanya.


4 Comments - Write a Comment

Post Comment