Perjalanan Dan Pelajaran di Tahun ke-3

November kemarin, saya sudah menjadi ibu selama tiga tahun. Perjalanan yang saya lalui tidak selalu mulus, karena memang, menjadi ibu bukan hal yang mudah dan tanpa tantangan.

Pada tahun pertama, saya memperingati tercapainya “milestone” ini dengan mengadakan ngumpul-ngumpul kecil bersama sahabat-sahabat terdekat. Saya ‘memilih’ mereka yang mengenal saya cukup baik, sehingga mereka tahu betapa girangnya saya saat dapat melalui tahun pertama dengan ‘selamat.’ Tahun kedua, saya berusaha pulang tenggo dari kantor supaya sempat membeli kue di bakery dan merayakan tiup lilin hanya bersama keluarga terdekat. Tidak ada sesuatu yang spesial saat itu. Seingat saya, I was always in a hurry and I felt tired most of the time.

Tahun ini, tepat di hari ulang tahun anak, saya malah harus dirawat di rumah sakit karena gejala tyhpus. Memang, sih, belum ada rencana istimewa yang dibuat (dan karenanya harus dibatalkan), tapi tetap saja saya ‘down‘ karena tidak bisa merayakan hari ulang tahun anak dan tercapainya “milestone” saya, hehehe. Beberapa minggu kemudian, saat sudah sembuh dan sedang menyetir di tengah kemacetan, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk ‘merayakan’ personal milestone ini dengan menuliskan hal-hal apa saja yang telah saya pelajari dari perjalanan tiga tahun ini. Dan ini hal-hal yang terlintas di pikiran saya:

  • Saya tidak bisa ‘libur’ dari belajar.

Tadinya saya pikir, keperluan untuk belajar hal baru hanya ada saat hamil dan setelah melahirkan. Dulu, hal-hal baru itu adalah tentang ASI, RUM, MPASI, atau milestone bulanan anak. Tapi ternyata semakin lama, semakin banyak hal yang harus saya cari tahu dan kuasai. Mulai dari skill pengasuhan anak, perkembangan anak, survei sekolah, teknologi terbaru, bahkan kebutuhan untuk menjawab hal-hal ilmiah maupun ‘absurd’ yang ditanyakan anak. Kemampuan menjadi orangtua ternyata perlu secara konstan diasah dan di-upgrade, karena dunia dengan segala perubahan dan tantangannya berputar dengan sangat cepat. Ada saja hal baru yang perlu saya googling setiap harinya, hehe.

  • Bergaul

Pergaulan dengan para orangtua di kompleks perumahan (dan sekolah, nantinya) itu penting, because my kid just loves making new friends… padahal saya sering kagok making small talks :D

  • Saya baru sadar pentingnya menjadi diri saya lagi.

Jujur, saya sempat mengalami yang namanya kehilangan jati diri, mungkin sejak hamil hingga beberapa bulan belakangan ini. Di forum Mommies Daily, saya pernah membaca hal ini sering terjadi pada ibu yang banting setir atau berubah status dari Working Mom (WM) menjadi Stay at Home Mom. Tapi ternyata, pada saya yang berstatus WM, sampai sekarang pun hal itu terjadi. Apa, sih, wujud kehilangan jati diri itu? Pada saya, itu berupa enggan keluar rumah untuk ‘sekedar’ngumpul atau nonton acara musik, belanja baju dan mainan anak setiap bulan, tapi pakai baju yang itu-itu saja selama bertahun-tahun, saya juga enggan lembur di kantor karena takut kehilangan waktu bersama anak.

Perjalanan selama tiga tahun ini membawa saya kepada kesadaran bahwa dengan keeping in touch with the ‘old’ (atau lebih tepatnya ‘forgotten’me, saya menjadi lebih bahagia. Saya mulai keep up dengan berita terbaru band-band favorit saya, mengupdate library iTunes, membeli tiket konser, dan menekuni kembali hobi saya menggambar dan bikin-bikin barang. Di kantor, saya tidak lagi cemberut kalau harus pulang agak telat, karena meskipun saya tidak mengejar karir, tapi itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai pegawai.

Dari situ, saya jadi belajar untuk menyeimbangkan keinginan dan kebutuhan saya dengan anak. Hikmahnya, tidak ada lagi rasa bersalah yang berlebihan ketika saya sekedar ingin nonton konser atau harus mengikuti training dari kantor selama beberapa hari. Saya juga merasa lebih mengenal diri saya: strengthweakness, apa yang bisa saya tolerate, dan apa hal-hal yang ingin kejar.  Ini menguatkan konsep diri saya tidak hanya sebagai ibu, tapi juga sebagai manusia. Dari sini saya sadar bahwa akan lebih baik jika anak saya dibesarkan oleh orang yang kenal dirinya dibandingkan orang yang “gak jelas maunya apa”, karena dia akan learn by example. Saya berharap bisa menjadi contoh untuknya mengenal diri dengan baik dan nyaman dengan pilihan-pilihannya kelak.

  • I have to “walk the talk,” waaay more consistently.

Seperti yang tertuang pada poin di atas, anak-anak learn by example. Mengingat ini ‘memaksa’ saya untuk melakukan hal-hal yang “benar” dibandingkan yang mudah. Seperti mengantre, mematuhi tanda dilarang memutar padahal harus rela melewati macet, memilih makanan yang sehat (karena saya menyuruh anak rajin makan buah dan sayur), lebih memilih membaca dibandingkan nonton tv, berhemat (agak malu mengajarkan ini pada anak, karena saya sering ‘khilaf’ emotional shopping), mengendalikan emosi, dan lain-lain. Saya akui, poin ini yang paling menantang dan sulit dipraktikkan secara konsisten.

  • Menikmati saat-saat selama anak masih mau dipeluk, diciumi, dipangku, dan masih bisa digendong seperti bayi :) They’ll grow out of it too fast!

 

 

  • Saya jadi tahu kalau anak suka sekali melihat saya dan suami mesra

Mesra di sini tentunya sebatas yang pantas dilihat orang lain, seperti saling merangkul atau memeluk. Kadang saya menggoda dengan pura-pura asik memeluk ayahnya. Nanti dia akan tertawa dan berlari ke arah kami untuk ikut nimbrung berpelukan.

Saat saya dan suami ‘kelepasan’ berantem di depan anak, dia akan bilang “Mama, papa, diam!” atau sibuk humming lagu kesukaannya, mungkin supaya perdebatan kami tidak dia terdengar. Ini menjadi momentum bagi saya untuk mengajarkan pada anak bahwa we have to argue sometimes, sekaligus menjadi reminder to argue in a good way. Ah, betapa bijaknya kamu, anak kecil.

  • Menerima bahwa anak punya pilihan dan selera yang berbeda dengan saya!

Hal ini menunjukkan independensi dan kepercayaan dirinya yang semakin berkembang, tapi sepertinya sudah naluri orangtua ya ingin anak menjadi salinan dirinya sendiri? :D

  • Bahwa anak, seperti kita, ingin dihargai.

Dengan dipandang matanya saat ia bicara, dengan benar-benar didengarkan, dengan tidak dibilangi “Tuh kaan, mama bilang juga apa!” saat ia kejedot atau kepeleset lalu jatuh, dengan tidak diancam-ancam supaya menuruti kemauan kita (I did this, dan sekarang anak saya sudah bisa menunjukkan kekesalannya kalau diancam-ancam!).

  • Mendokumentasikan tingkah-polah dan momen kebersamaan dengan anak memang penting,

tapi selalu ingat untuk cherish and celebrate those things as they’re happening. Misalnya, saat mengajak anak berwisata, saking sibuknya merekam momen melalui foto atau video, kadang kita sampai ‘lupa’ menikmati apa yang sedang tersaji di depan mata. Sorot gembira di mata anak, senyumnya saat dibawa ke tempat baru, atau bau udara yang kita cium saat itu. Saya belajar untuk tidak terlalu ngotot mengajak anak dan suami berfoto, daripada anak malah jadi bete (sekarang dia suka sebal disuruh berpose :() dan menginterupsi momen yang sedang mengalir. Memang, sih, risikonya foto-foto liburan kami tidak sebanyak biasanya, hehe, tapi kenangan yang terindah tetap terekam di hati, kan.

  • Belajar untuk tetap meladeni ocehan si anak

Walau pun saya masih kesal dia menumpahkan susu di atas karpet. Dan merelakan kekesalan itu terlupakan saat dia membuat saya tertawa dengan mengatakan silly things a 3 year-old would say.

  • Yang terakhir ini penting nggak penting :D

Saya tidak pernah tahu saya bisa menjadi the prettiest woman on the planet… di mata anak :) di saat yang tidak terduga, saya bisa mendengar kata-kata “Mama cantik” terlontar dari mulutnya. Padahal saat itu saya sedang kucel tanpa bedak, hehe.

Bagaimana dengan Mommies? Pasti banyak sekali pelajaran yang sudah didapat, terutama Mommies yang perjalanannya sudah lebih jauh dari saya.

Untuk menutup catatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada teman belajar saya yang tersayang dan istimewa: anak saya. Semoga kita dapat terus belajar bersama :)

 


13 Comments - Write a Comment

  1. Well said banget mom vanshe…bener semua deh yg ditulis di sini:) terutama poin no 1 dan 3 tuh…I also need some times to realize that i feel more happy when i can do my favorite things and when i’m happy i also can enjoy my time with my little boy better:)

Post Comment