Belenggu Ketika Menjadi Ibu

Sebelum saya menjabat sebagai ibu, saya adalah penyiar di stasiun radio anak muda swasta di Bandung. Karier saya di dunia radio bisa dibilang tidak sebentar, dari 2005 hingga 2011. Ya, 6 tahun di sana. Saya resign karena kepentok si ‘comfort zone’ dan merasa tidak anak muda lagi hahaa. Siaran kemudian menjadi bagian dari hidup. Senang sekali rasanya bisa mengoperasikan mixer dan berbicara di depan mic, plus dapet kesempatan isi VO iklan TV atau malah jalan-jalan keliling Indonesia sebagai MC.

Nah, salah satu job desc penyiar adalah reportase dan Alhamdulillah karena saya punya score TOEFL 565, saya selalu dipercaya untuk berangkat ke Jakarta dan melakukan live interview jika ada musisi asing yang datang untuk konser di Indonesia. Interview pertama saya adalah MUSE!!!! Hahahaha girang banget, nggak, tuh? Seiring dengan waktu, datang ke konser dan melakukan interview ini kemudian menjadi hal yang biasa saja sampai pernah ada rasa jenuh dan malas jika harus ke Jakarta dan melakukan reportase ini. Sudah puluhan konser saya datangi tanpa harus mengeluarkan uang untuk membeli tiket dan dikasih bonus ngobrol langsung sama artisnya.

Hingga akhirnya 17 Oktober 2011.

Saya melahirkan seorang anak perempuan. Dan salah seorang teman saya bilang “Selamet, yeee … siklus pergaulan lo berhenti, nih, mulai dari sekarang, yaa kira-kira sampe 4 tahun ke depan, deh!” JLEB! Tadinya ucapan si teman ini saya anggap angin lalu, menurut saya kalau bisa mengatur waktu kenapa tidak? Lagi pula ada sahabat baik bernama pompa yang bisa membantu saya menyetok ASIP jika sewaktu-waktu Menik harus saya tinggal.

Kenyataannya lain. Saya ternyata kurang rajin dalam hal memompa karena saya pikir, toh anaknya sama saya terus, menyusunya langsung dari sumber. Paling saya mompa kalau ada yang minta bantuan donor ASIP. Ternyata saya juga kurang ‘tega’ untuk meninggalkan Menik jika tidak terlalu terpaksa. Jadi benar kata teman saya, siklus pergaulan saya mulai berubah. Sebisa mungkin Menik ada bersama saya kemana pun, kapan pun. Saya nge-MC pun Menik ada bersama saya dan selalu saya susui langsung jika saya sedang break. Kok gitu amat, Saz? Nggak tahu, ya, mungkin saya terlalu obsesif dan posesif terhadap anak saya, entahlah. Tapi saya memang ingin menikmati kebersamaan bersama anak yang sudah saya lahirkan ini. Nanti kalau tiba saatnya Menik mau kemana-mana sendiri, at least saya sudah lumayan puas kan sama dia. Menurut pengalaman pribadi, sejak umur 2,5 tahun ketika diantar sekolah, saya sudah tidak mau ditemani ibu masuk kelas. Gimana perasaan ibu waktu itu? Sedih katanya, tapi juga bangga. Nah, kebayang nggak kalau nanti Menik juga melakukan hal yang sama? *mewek*

Dan ya, saya pun merelakan konser The Cardigans! Band kesayangan sejak SMP, ibarat kata naik haji kalau misalnya saya nonton, tuh, hahaa. Dulu zamannya kerja di radio, saya berdoa tiap hari supaya The Cardigans datang dan saya bisa ngobrol bareng sama mereka. Eh, datangnya pas saya udah punya anak. Walau suami sudah mengatur sedemikian rupa dengan rencana menginap di hotel dekat venue supaya saya gampang pulang dan bisa cepat bertemu Menik, walau ada tawaran untuk bisa foto bareng sama band favorit ini, namun dorongan untuk tidak pergi ke konser yang sangat besar sehingga akhirnya saya menjual tiket festival yang sudah saya pegang.

Kok kayak terbelenggu gitu?

Ya memang terbelenggu, tapi ini saya anggap sebagai milestone diri saya sendiri. Pencapaian, nih, buat saya yang sangat tidak betah jika harus diam di rumah. Saya belajar untuk berdamai dengan ego sendiri (walau susah banget rasanya!) Bahkan almarhum Bapak saja selalu bilang, “Si Kiki ini kalau nggak pergi sehari pasti mati berdiri.” x)) Haha! Tapi toh belenggunya hanya sampai Menik mau dan bisa melakukan semua hal sendiri. Belenggu ini tidak dapat diulang dan bahkan menurut saya sangat singkat, karena sekarang saja, saya merasa semua terlalu cepat berlalu. Kenapa coba ini anak yang kayaknya baru kemarin merambat di dada saya buat IMD sekarang tiba-tiba udah lari-lari nggak karuan? Jadi selain Menik yang terus bertambah akal dan pikirannya, kami pun sebagai orangtuanya ternyata terus belajar dan berkompromi soal banyak hal.

Rindu siaran? Pasti. Rindu suasana kantoran? Ya. Kangen jalan-jalan di mal tanpa harus mikirin mau makan apa, nih, anak? Atau buru-buru pulang karena sudah waktunya si anak tidur? Banget. Kangen nonton bioskop? Abesss! Kangen gajian tiap tanggal 25? YA PASTILAH! *and the list won’t stop*

Tapi rasanya rasa rindu dan kangen yang itu bisa dicari lagi nanti. Tapi kalau tiba-tiba saya rindu sama masa saya sakit pinggang mengejar Menik lari rasanya tidak bisa diulang, kan, ya? :’)


32 Comments - Write a Comment

  1. udah ga pernah nonton, ajakan jalan ma teman dengan halus ditolak (selain emg urus anak, skg jam 8 malem rasanya dah ngantuukkk hahaha), lama kelamaan tersortir sendiri, jadi lebih banyak temenan ama sesama ibu. Dan sahabat sejati saya yaaa suami!! hihihihi…

Post Comment