Kenapa Nggak Boleh Ulang Tahun?

Di keluarga saya, ulang tahun adalah hal yang penting. Ini, sih, warisan dari eyang kakung, yang menjadikan ulang tahun anggota keluarganya sebagai sarana untuk mempersatukan anak-anaknya yang sibuk. Jadi, kami selalu merayakan ulang tahun. Tidak mewah, hanya makan bersama di restoran atau makan nasi kuning di rumah. Tapi, pasti ada kue, tiup lilin, dan kado.

Setelah menikah, suami memperdalam ilmu agama dan “bertemu” dengan hadis yang melarang segala kegiatan yang tidak dicontohkan Nabi, termasuk ulang tahun (sebenarnya panjang daftarnya, nih!). Maka, kami (saya dan suami) tidak pernah lagi merayakan ulang tahun atau mengucapkan selamat (kepada siapa pun). Setelah punya anak, suami juga ingin agar anak-anaknya tidak dibiasakan merayakan ulang tahun. Kami pun sepakat, tidak ada acara ulang tahun bagi kami sekeluarga. Kalau diundang pesta ulang tahun, kami masih datang, sih. Walau suami enggan, sebenarnya. :p

Setiap hari ulang tahun anak-anak, kami tidak pernah membuat acara khusus. Biasanya, yang sibuk itu Oma, Opa atau Nyakcik (nenek dalam bahasa Aceh)-nya. Mereka yang ribut, mau makan di mana, mau dibuatkan apa, Aria minta kado apa. Kami, sih, santai saja. Kalau dibuatkan nasi kuning, ya, kami santap dengan senang hati. Makan di restoran juga tetap suami yang traktir, walaupun dengan wanti-wanti “bukan karena ulang tahun!”  Aria (dan belakangan Rory) juga tidak mengerti, kok. Walau demikian, biasanya saya tetap belikan kue saat mereka ulang tahun. Saat Aria dan Rory berusia satu tahun, kue tersebut ceritanya merupakan simbol bahwa mereka sudah bisa makan makanan dewasa. Jadi, saat anak-anak saya ulang tahun, ada dua alternatif kegiatan: makan nasi kuning dan kue di rumah tanpa ada tiup lilin dan lagu selamat ulang tahun, atau makan di restoran.  Soal kado, kami tidak pernah melarang keluarga memberikan kado untuk anak-anak. Kami pun biasanya juga belikan kado. Tapi, ya, bukan kado juga, sih. Cuma pas anak-anak ulang tahun kami secara tidak sadar juga lebih royal membelikan mainan atau barang. Hahaha…

Saat ini, sudah hampir 6 bulan sejak Aria pertama masuk sekolah. Nah, salah satu “masalah” yang sudah saya prediksi sebelumnya adalah akan ada banyak temannya yang merayakan ulang tahun di sekolah. Cepat atau lambat Aria akan tahu apa itu ulang tahun dan akan mengasosiasikannya dengan perayaan dan hadiah. Benar saja, hampir sebulan dua kali ada temannya yang berulang tahun. Tapi Aria memang belum ngeh. Setiap kali dia bawa goodie bag dari temannya di sekolah, dia akan bilang, “Mama, Aria ulang tahun!”. Hehehe. Biasanya, sang papa yang akan menjelaskan bahwa kami sekeluarga tidak merayakan ulang tahun. Nggak tahu, deh, Aria mengerti apa nggak.

November ini, Aria sudah 4 tahun. Saat hari ulang tahunnya, seperti biasa, tidak ada acara khusus. Dan seperti biasa pula, Oma sudah siap dengan nasi kuning di rumah :D Sorenya saat saya pulang kerja dan menjemput anak-anak di rumah Oma, ternyata Oma, Opa dan tante-tante (adik saya ada 3) masing-masing sudah membelikan Aria kado. Walau demikian, Oma dan Tante-tante masih menghormati prinsip kami dan memang tidak mengucapkan, “Selamat ulang tahun”. Hanya mencium Aria dan berkata, “Wah, Aria sekarang sudah 4 tahun umurnya!” We really appreciate their gesture. :’) Kembali ke soal kado, Aria tentu saja senang. Dan, datanglah permintaan yang sudah saya antisipasi: “Mama, Aria mau kado, dong”. Hehehe. Rupanya, tetap belum lengkap, ya, kalau mama dan papa belum kasih kado juga. Ya, deh, Nak.


14 Comments - Write a Comment

  1. @ mama aria kita satu prinsip. Semenjak menikah saya juga gak pernah lagi ngerayain ulang tahun dan berusaha gak ngucapin selamat ulang tahun juga kepada siapapun. Begitu juga untuk anak kami, Abdullah, kami sepakat gak akan merayakan hari ulang tahunnya. Tapi sebagai gantinya kita selalu ngasih rewards atas prestasi, sekecil apapun, yang dibuatnya. Kalo boleh ikutan share saya juga menulis ttg hal ini di blog saya. http://t.co/h0pm5ugV

  2. Sama, aku juga lagi belajar sunah.. dan susah ya nerapin nya karena beda dengan lingkungan sekitar, bahkan dengan orang tua sendiri.. jadi kadang kalo orang tua yg ulang tahun masih suka ngucapin.. tapi kalo ke orang lain udah enggaa ngucapin.. haha ga konsisten nih..

  3. Kaum Ahlussunnah Wal Jamaah memandang tradisi semacam ini dengan sikap proporsional, yaitu dengan pendirian bahwa selama di dalam acara tersebut ada unsur-unsur kebaikan, seperti; menyampaikan tahni’ah/ucapan selamat kepada sesama muslim, mempererat kerukunan antara keluarga dan tetangga, menjadi sarana sedekah dan bersyukur kepada Allah, serta mendo’akan si anak semoga menjadi anak yang shalih dan shalihah. Maka itu semua layak untuk dilaksanakan karena dianggap tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,36923-lang,id-c,ubudiyyah-t,Hukum+Mengucapkan+Selamat+Ulang+Tahun-.phpx

  4. hehe.. kami jg gak merayakan ultah… simply bcoz ultah itu bukan suatu prestasi yg harus dirayakan atau dikasih kado… disyukuri iya.. krn sudah bisa mencapai umur segitu… tp ybs sendiri aja yg mensyukurinya…..
    kalo anak2 berprestasi, baru deh dirayakan, dikasih kado, atau pergi liburan ke tempat yg mereka suka…
    tp tetap saja, ketika hari ulang tahun mereka, biasanya pagi2 pas bangun tidur kami ortunya tetep memberinya selamat plus ciuman hangat.. dan tetep bilang… “happy bday ya kak/dek”..

Post Comment