Berakhir Pekan di Thuwal Beach, Saudi

Awal bermukim di Jeddah, bukan cuma masalah penyesuaian dengan banyaknya hal baru yang memenuhi kepala. Tapi juga kekhawatiran terhadap lingkungan baru bagi anak-anak.

Sewaktu masih di Jakarta, saya tinggal dalam lingkungan perumahan kompleks. Tiap sore anak-anak bebas bermain di luar rumah. Bercanda dengan teman-temannya atau sekedar berlari-lari sambil bermain bola. Naik sepeda ramai-ramai juga sering.

Di Saudi, suasananya berbeda. Kami tinggal dalam lingkungan apartemen. Lingkungan sehari-hari cenderung tertutup. Perempuan tidak terlalu  bebas kemana-mana. Boleh saja, sih, kemana-mana sendirian tanpa suami. Tapi tidak mungkin tiap sore menenteng anak bermain di playground.

Tiap minggu, saya sekeluarga bermain ke pantai atau playground gratisan yang tersebar di berbagai penjuru kota. Dan tiap bulan kami piknik bersama-sama dengan keluarga asal Indonesia lainnya yang bermukim di Jeddah. Semacam acara gathering keluarga.

Tempat yang paling sering dikunjungi adalah pantai. Jeddah terletak di pesisir  barat Saudi, di mana terdapat beberapa pantai cantik di luar kota yang seru buat liburan. Salah satunya Pantai Thuwal yang terletak di kota Thuwal, sekitar 80 km di utara Jeddah. Bisa ditempuh sekitar sejam dengan menyetir santai.

***

Pantai Thuwal cukup berbeda dengan pantai-pantai lainnya. Thuwal memiliki fasilitas umum yang cukup lengkap. Kamar mandinya banyak. Dan ada banyak petugas yang wira-wiri membersihkan lingkungan sekitar pantai. Jadi, selain nyaman, tempatnya juga bersih.

Kali ini, saya yang menjadi ketua panitianya. Saya mengusulkan agar anak-anak diberi kegiatan khusus selain bermain pasir dan berenang. Jadilah kami sepakat untuk mengadakan lomba kecil-kecilan untuk menghibur mereka. Tiap lomba kami siapkan hadiah untuk tiap peserta.

Lomba pertama adalah lomba mencari harta karun. Kami peruntukkan untuk para balita. Dari rumah, beberapa teman saya sudah menyiapkan topi khusus untuk para bajak laut kecil ini. Untuk “harta karun”nya sendiri, kami menyebar bola-bola kecil berwarna-warni yang diselipkan di dalam pasir.

Tiap bajak laut dilengkapi dengan sekop kecil untuk mengambil bola dan kantung plastik yang digantung di leher sebagai wadah “harta karun” tadi. Para balita cukup bersemangat.

Usai mencari harta karun, lomba selanjutnya adalah lomba makan kerupuk. Rata-rata kami sudah bermukim di sini lebih dari 2 tahun. Jadi, anak-anak belum tentu tahu soal kebiasaan anak kecil sebaya mereka di Indonesia. Lomba makan kerupuk kami pilih untuk  memperkenalkan pada anak-anak soal salah satu lomba khas dari tanah air ini.

Pesertanya untuk anak-anak yang lebih tua. Tapi karena banyak peminat, akhirnya siapa pun boleh berpartisipasi. Kerupuk, sih, bukan barang langka di Saudi hehehe. Lomba ini lebih seru lagi. Bapak-bapak sibuk memotret anak-anak. Ibu-ibunya heboh memberi semangat sambil bertepuk tangan.

Menjelang senja, kami membiarkan mereka bermain-main sendiri di bibir pantai. Ada yang sibuk bermain pasir. Yang usianya lebih tua, kami perbolehkan untuk  berenang.  Sisanya sibuk berkelompok. Para batita juga tidak ketinggalan menikmati serunya bergulat di pasir.

Ternyata, tidak perlu khawatir berlebihan . Kalau mau, kita bisa menciptakan kegembiraan buat mereka dalam kondisi apa pun di wilayah mana pun :). Mikirnya enggak usah yang ribet-ribet. Modal majalah bekas buat bikin topi sudah membuat mereka senang dan serasa jadi bajak laut beneran. Tinggal beli sekantong kerupuk, gantung di tali, dan membiarkan mereka bersusah payah menggigit kerupuk tanpa bantuan tangan juga bisa menjadi acara yang heboh. Hehehehe.

Yuk, ikutan main pasir di Pantai Thuwal ;).


One Comment - Write a Comment

Post Comment