Belajar Menghargai Pilihan Anak

Pernah melihat anak perempuan memakai selendang sebagai penutup kepala dan berjalan ala Princess di mal? Mungkin itu anak saya, Maika!

“Duhhh … anak gue cuman mau pake baju Thomas-nya! Tiap abis selesai dicuci, kering, langsung dipakai lagi! Sudah belel pun gak boleh dibuang, selalu dicari”

“Anak saya hanya mau memakai piyama saat diajak pergi ke luar”

“Sudah 2 minggu, nih, anak gue gak mau ngelepas baju Cinderela-nya, padahal sudah bau dan dekil!”

Kalimat-kalimat di atas sudah sering saya dengar bahkan sebelum saya punya anak. Waktu belum punya anak, saya yakin sekali kalau anak saya tidak akan seperti itu. Sesudah punya anak, saya masih yakin Maika pasti bisa diarahkan dalam hal berpakaian.

Keyakinan saya terbukti benar! Masalah gaya berpakaian, Maika dan saya sudah bisa melakukan kompromi. Tapiiiii … ternyata Maika punya gaya berpakaian yang di luar dugaan saya, dia suka memakai selendang sebagai penutup kepala. Untuk yang satu ini, Maika tidak mau kompromi dengan saya.

Sejak kecil, rambut Maika memang tipis, sampai sekarang usia 4 tahun, panjang rambutnya pun hanya menyentuh pundak walau saya membiarkan rambutnya panjang. Sedangkan sejak usia 2 tahun, Maika terobsesi dengan Princess yang identik dengan rambut panjang. Dan entah bagaimana awalnya, Maika menemukan ide bahwa selendang panjang adalah pengganti rambut panjang Princess. Sejauh yang saya ingat, kebiasaan memakai selendang sebagai penutup kepala ini sudah lebih dari setahun. Memang tidak setiap hari dan setiap akan pergi, tapi cukup sering.

Awalnya, saya berusaha supaya Maika hanya memakai selendang sebagai penutup kepala ini di rumah saja. Saya biarkan Maika berkreasi dengan berbagai selendang, pakaian, sarung tangan, sandal Princess, mahkota, dan pelengkap Princess lainnya. Tapi ternyata Maika merasa penampilan dia sebagai Princess dengan ‘rambut panjang’ itu perlu dilihat orang lebih banyak :) Tentu pertama kalinya akan keluar rumah dan Maika mau mengenakan ‘rambut panjang’-nya, saya mulai memakai berbagai macam jurus untuk mencegah Maika memakai selendang. Mulai dari pujian bahwa Maika cantik seperti Princess Snow White yang berambut pendek, bujukan dengan es krim atau main di playground, sampai ancaman tidak jadi pergi. Semua ini kemudian hanya berakhir dengan tangisan Maika dan saya yang jadi bad mood :(

Saya sudah cukup mengerti bahwa anak harus dibiarkan berkreasi. Saya membiarkan Maika mewarnai bunga dengan warna hijau dan daun dengan warna pink. Saya mengangguk setuju saat Maika menggambar 2 bulatan dan Maika yakin kalau itu adalah gambar rumah. Saya tertawa saat Maika mencampur nasi, kecap manis, air teh, saus tomat, sayur bayam, diaduk lalu dimakan dengan lahap. Tapi, kenapa saya tidak bisa menerima Maika berimajinasi rambutnya panjang dengan memakai selendang di tempat umum?

Setelah merenungkan pertanyaan tersebut, ternyata seringkali saya masih takut dengan penilaian orang lain! Bagaimana kalau saya dianggap Mama aneh karena membiarkan anaknya berpenampilan aneh? Padahal kalau dipikir-pikir, ‘aneh’ itu adanya di pikiran saya. Maika justru berjalan dengan bangga dan bahagia :)

Ya, akhirnya kini saya bisa menghargai hasil karya ‘rambut panjang’ Maika. Terima kasih Maika karena ngotot memakai ‘rambut panjang’ ke mal dan mengajarkan Mama untuk belajar menghargai kreativitas Maika. Sekarang Mama tersenyum bangga saat melihat orang lain tersenyum melihat Maika berjalan ala Princess dengan ‘rambut panjang’ :)

Menjadi orang tua memang proses belajar yang tiada henti, dan seringkali yang sulit itu justru belajar mengalahkan ego kita sendiri!

Foto-foto di bawah ini sebagian dari hasil kreasi Maika:

 


29 Comments - Write a Comment

Post Comment