Manfaat Membiarkan Anak Memilih Bajunya Sendiri

Pada zaman dahulu kala … dulu, niih, waktu saya masih single. Hati ini suka berkomentar kejam kalau melihat anak kecil dengan pakaian yang sungguh tidak matching, sedangkan ibunya terlihat keren sekali. Langsung berpikir bahwa ibu itu egois, hanya mementingkan kekerenan dirinya sendiri :D. Fast forward sampai sekarang, justru saya malah jadi kagum kalau ada ibu yang membiarkan anaknya memakai baju tidak matching. Kenapa? Karena saya sebagai ibu juga mengalami masa-masa di mana anak saya ingin memakai atasan polkadot dengan rok kotak-kotak dan legging garis-garis. Atau ketika dia ingin memakai kacamata renang keliling Mal Pondok Indah. Menurut saya, itulah salah satu momen di mana kebesaran jiwa seorang ibu diuji :D.


Outfit kiri, waktu itu sih terasa kurang matching, sekarang setelah dilihat ok-ok saja | Pakai baju polisi ke mall? Kenapa enggak?

 

Kekeuh pakai kaus terbalik

 

Terdengar lebay, ya? Tapi memang benar, kok, sebagai ibu yang sudah sering membelikan baju-baju stylish untuk anaknya, pasti kita ingin anak kita juga tampil gaya. Pada kenyataannya, anak-anak sering kali ingin bergaya menurut pilihannya sendiri. Memaksakan kehendak sekali dua kali mungkin masih bisa berhasil. Tapi, kan, capek juga, ya, kalau setiap ingin bepergian harus berdebat dulu dengan anak. Akhirnya saya sekarang lebih santai, sih, dengan masalah berpakaian ini karena setelah saya pikir-pikir lagi, banyak, lho, manfaatnya untuk si anak dalam proses memilih berpakaian ini. Contohnya:

  • Promoting Independence.

Lumayan, kan, mereka bisa belajar memilih dan memakai bajunya sendiri. Jadi ibunya bisa fokus dandan sebelum berangkat :D.

  • Fostering creative mind

Idenya, kan, suka ada-ada saja, ya. Seperti contoh saya di atas tadi, memakai kacamata renang keliling mal. Tapi, ya, biar saja, dari kecil dibiarkan untuk berpikir out of the box, jadi nggak takut untuk mencoba sesuatu di luar kebiasaan yang ada, selama itu tidak membahayakan dirinya dan lingkungan.

  • Learning to develop their own style.

Jadi kita sebagai ibu bisa belajar preference-nya anak kita gaya seperti apa. Apakah gaya princess atau cenderung tomboi?. Kita pun belajar untuk menghargai apa yang membuat mereka nyaman.

  • Learning to match patterns and colors.

Dalam prosesnya, tentu kita bisa sambil mengarahkan mereka ke jalan yang benar :D. Bahwa kalau rok atau celananya sudah bermotif ramai, sebaiknya pilih yang atasannya berwarna polos.

  • Associating the events and the clothes

Dalam membiarkan anak belajar memilih bajunya sendiri, tentu kita juga harus memberi batasan dan memberi panduan dari awal. Misalnya; kalau menghadiri pesta perkawinan hanya boleh mengambil dari baju yang digantung. Siasati juga dengan mengatur baju mereka sedemikian rupa. Misalnya baju pergi di rak paling atas, baju main di rumah di rak tengah, baju tidur di rak bawah. Jadi anak memilih dalam batasan-batasan yang sudah ditentukan. Ini penting untuk meminimalisir tingkat kefatalan dalam memakai baju :D.

  • Letting them have control over their life.

Yang namanya anak kecil, pastilah hidupnya sudah diatur orangtuanya dari baru bangun tidur sampai tidur lagi. Biarlah urusan memakai baju ini menjadi momen di mana mereka merasa punya kontrol dalam kehidupan mereka. Pastinya ini akan membuat mereka lebih bercaya diri dan merasa kompeten. Asalkan pilihan mereka itu jangan kita cela, ya.

Banyak, kan, Mommies manfaatnya? Ini yang baru terpikirkan oleh saya. Pasti ada banyak lagi manfaat lainnya yang tidak terlintas di kepala saya, deh. Momen yang paling membuat saya sadar bahwa sekarang saya sudah benar-benar santai urusan berpakaian ini adalah ketika kami pergi ke Bandung Oktober lalu. Urusan mengepak baju benar-benar saya serahkan pada mereka. Dan saya tidak mengeceknya lagi sebelum berangkat. Saya hanya kasih tahu bahwa kita akan menginap 1 malam di sana. Hasilnya? Ya overpacking pasti :D. Nggak matching? Jangan ditanya! Tapi pada dasarnya anak kecil itu sudah lucu, jadi pakai baju belang belonteng pun tetap terlihat lucu. Jadi, biarlah, ya … yang penting mereka sudah bertanggungjawab untuk membawa bajunya masing-masing. Ketika kami melihat foto-foto dari perjalanan tersebut? Yang ada hanya happy memory, kok, dan kami tertawa bersama mengingat bahwa yang umur 4 tahun bawa celana dalam sebanyak 8 buah! :D.

Bangga membawa koper yang dipackingnya sendiri

 

Agak nggak matching siih, tapi..ya sutra lah ya :D

Mengingat perkataan Bu Elly pada seminar Supermoms waktu itu, “Memang kenapa, sih, kalau anak kita pakai baju nggak matching? Kepedean lo berkurang 2 ons?” Hanya kita yang bisa mengukur seberapa andal kita menjadi ibu dan itu tidak ditentukan dari bagaimana matching-nya baju si kecil, kan? So, relax Mommies. Let the kids have fun dressing up themselves and laugh together ☺.