Bersahabat Dengan Lawan Jenis, Yay or Nay?

Adakah Mommies di sini yang bersahabat dengan lawan jenis?

Banyak sekali survei yang membuktikan bahwa persahabatan murni antara lawan jenis tidak mungkin terjadi. Tak hanya sekedar survei, banyak sekali kisah mengenai ini diangkat menjadi film atau novel. Salah satu yang saya ingat adalah My Best Friends Wedding yang dibintangi oleh Julia Roberts. Film ini pun diwarnai dengan kegalauan Julianne Potter saat mengetahui sahabat lelakinya akan menikah. Benarkah persahabatan antara lawan jenis tak mungkin terjadi?

Saya mulai dengan kisah saya, ya. Saya nge-geng dengan 8 lelaki sejak SMA. Dan persahabatan kami, tidak berhenti saat kami lulus SMA. Bahkan berlanjut sampai saat ini, kami sudah menikah dan punya anak. Sahabat lelaki saya, tidak hanya mereka. Ada beberapa pria lagi yang akhirnya menjadi teman baik saya, ada yang masih single ada juga yang sudah menikah dan punya anak. Kalau kata Joey di Dawson’s Creek, “I’m the girl guys are friends with, not the girl guys date”, haha .… (entah harus bangga atau miris karena berarti saya kurang menarik, hihihi)

Menurut Linda Sapadin, psikolog asal Amerika, “The belief that men and women can’t be friends comes from another era in which women were at home and men were in the worplace and the only way they could get together was for romance,”. Kalau saat ini, kan, perempuan melakukan rutinitas kehidupan yang serupa dengan laki-laki. Bekerja, olahraga, ke mal, dan lain sebagainya. Hal ini memungkinkan antara laki-laki dan perempuan memiliki interest yang sama, sehingga kemungkinan mereka terlibat satu sama lain hanya karena percintaan semakin kecil.

Sebelum menikah, suami sudah mengetahui hal ini. Ia juga sudah memahami bahwa saya tak mungkin memutuskan persahabatan dengan para pria hanya karena saya sudah menjadi istri orang atau menjadi ibu. Kendati demikian, tetap ada batasan yang saya perhatikan terkait dengan posisi saya sebagai istri.

  • Memilah curhat

Saya dan sahabat pria, terkadang suka lupa bahwa kami berbeda jenis kelamin, haha. Apa saja kami ceritakan. Ya, apa saja. Tapi sejak menikah, ada hal-hal yang sebaiknya disimpan menjadi urusan rumah tangga kami. Misalnya, kekurangan suami, it’s a BIG no-no. Ingat, pria, kan, makhluk yang egonya tinggi, jangan sampai hal ini justru akan menjadi sumber masalah ke depannya antara Mommies dan suami.

  • Dahulukan suami

Di awal pernikahan, saya sering ‘lupa’ bahwa saya sudah jadi istri orang, dan ada hal-hal yang seharusnya suami tahu lebih dulu. Contoh sederhana, mobil mogok, saya  malah bertanya ke grup BBM, apakah ada yang dekat dengan lokasi saya daripada ke suami.

Punya masalah? Apa itu di kantor atau dengan teman, sebaiknya curhat pada suami lebih dulu. Walaupun memang kesannya remeh, ya, tapi menurut saya, ini merupakan penghargaan sederhana untuk suami.

  • Jangan membandingkan

Apa pun itu. Perilaku sahabat pria ke istrinya, pekerjaan sahabat pria, dan seterusnya dan seterusnya. Dari membandingkan, bisa timbul ke iri. Dari iri bisa timbul keinginan. Nah, dari keinginan ini, nih, yang bahaya. Manusia kan tidak ada yang sempurna.

  • Libatkan keluarga

Kenalkan suami dengan sahabat-sahabat pria. Saya melakukan ini sejak sebelum menikah. Walaupun suami tidak lantas menjadi dekat dengan mereka, tapi setidaknya ia mengenal dan tahu posisi saya di mata para sahabat (yaitu cewek ganteng, haha). Hal ini pun berlaku pada istri para sahabat, mereka bahkan menjadi sahabat baru saya! Sambil menulis artikel ini, saya pun iseng bertanya pada salah satu istri sahabat mengenai persahabatan saya dengan suaminya (untuk meyakinkan bahwa mereka memang baik-baik saja, haha), “Kalo sama elo sih, gue nggak apa-apa, kan gue juga udah kenal sama elo dan suami, kita juga dekat, kan”, jawabnya *lega deh*.

Berhubung usia anak kami berdekatan satu sama lain, kalau kumpul di akhir pekan, kami selalu membawa ‘rombongan sirkus’. Anak-anak bisa bermain bersama dan punya sahabat juga, kan?

*Foto sebelah kanan, saya dengan istri para sahabat

Saya mengambil banyak keuntungan dari bersahabat dengan lawan jenis. Kalau dulu mungkin keuntungannya adalah saya bisa menjadi diri saya sendiri diantara sahabat laki-laki (bercanda kasar, komentar sinis, dsb), tanpa perlu khawatir mereka sakit hati. Sementara para sahabat bisa curhat sepuasnya yang kalau mereka lakukan ke teman pria mungkin bakal diketawain.

Setelah menikah, keuntungan yang saya dapat dari persahabatan lawan jenis salah satunya, saya mendapat sudut pandang para suami dalam melihat sebuah isu demikian juga sebaliknya, sahabat saya bisa mengambil pendapat saya sebagai sudut pandang istri. Walaupun tentu, setiap pernikahan pasti ada cerita dan masalahnya masing-masing, ya.

Bagaimana dari pihak suami? Apakah ia punya sahabat lawan jenis? Tentu ada. Sejauh ini, saya kenal dengan teman-teman perempuannya dan sejauh ini suami juga melakukan hal-hal di atas.

Above all, hal pertama yang harus diingat adalah kepercayaan. Bagaimana kita bisa memercayai suami, jika perilaku kita juga tidak bisa mengundang rasa percaya darinya?

Nah, bagi saya persahabatan lawan jenis sangat mungkin terjadi, kok! Asalkan masing-masing pihak tahu batasannya. Batasannya apa, ya hanya Mommies dan suami yang tahu. Ya, nggak?


25 Comments - Write a Comment

  1. Yang penting percaya sih ini ya :D gue ama suami sama-sama tipe yang berkawan dengan campuran sih hahah, segeng isinya ada cewek, ada cowok, ada yg in between :)) tapi ya seperti yang lo tulis diatas, Lit, kita sebagai perempuan harus inget-inget tuh ya egonya lelaki, kalo enggak wassalam haha

  2. satu lagi nih yang bikin ga enak kadang, kita dan pasangan biasa aja, sahabat cowo kita dan pasangannya juga biasa aja, tapi yang ga biasa aja orang2 lain yang akhirnya bikin jadi ga enak. pernah ga tuh berada di kejadian kayak gitu buibuuu?

  3. Bagusnya klo curhat jgn sampe detil,krn bisa timbul rasa kasihan atau empati berlebihan,biasanya jg qt klo curhat suka memandang lawan bicara qt itu benar (yah berhubung beliau itu tdk masuk dlm drama kehidupan yang terjadi),kacau lagi klo antara keduanya memiliki masalah yang sama dgn pasangan hidup masing 2,yang terjadi keduaanya merasa sbg “korban” yang salah pilih pasangan.Pdhl dalam konteks sebenarnya semua kekurangan pasangan bisa jadi awalnya dari diri qt,sikap yang baik adalah bicara langsung pada pasangan,curhat itu memang melegakan hati tapi tidak memberi solusi,krn jika salah curhat malah bahaya heeee..malah yang ada nambah masalah..klo emang gak bisa diomongin pasangan qt yah cari org ke 3 yang disegani,klo masih gak bisa juga..ke meja hijau langsung =))..intinya curhat tidak menyelesaikan masalah..wkwk

  4. Yay, banget, lita. I have some, meski ga sebanyak elo. Hihihi.. Sayangnya kami jarang kumpul2 krn gw sekarang jauh bener tinggalnya. Tapi mereka memang loyal dan menyenangkan bgt. Tentu saja suami udh kenal dan gw juga kenal sama istri2 mereka.

Post Comment