Kapan Mulai Ajari Anak Membaca?

by: - Thursday, November 22nd, 2012 at 8:00 am

In: Behavior & Development Kindergarten (4 years - 6 years) 19 responses

0 share

Saya selalu percaya kalau belajar membaca itu tidak perlu diburu-buru, kalau masa peka anak sudah tiba, pasti akan mudah belajar membaca. Okay, that was a lie. Waktu Aira kecil, saya pernah membaca di satu buku yang mengaitkan soal golden age anak dengan belajar membaca, yang disimpulkan dengan kalimat: jadi … cepat, sebelum anak Anda berusia 5 tahun, ajari ia baca segera!

Jadi saya, si ibu pemula yang over-eager, langsung belanja berbagai buku belajar membaca untuk anak balita, dan mulai ngajarin Aira yang waktu itu umur 4 tahun untuk belajar membaca. Gimana hasilnya? Total failure. Aira gak tertarik sama sekali, harus dibujuk setengah dipaksa. Saya yang memang dasarnya nggak sabaran jadi kesal, ujungnya marah. Jadi beberapa sesi belajar membaca yang kami lakukan biasanya diakhiri dengan tangisan. Jadi saya berhenti. Saya ingat zaman saya kecil belajar membaca sama Mama saya, saya bawaannya stres, jadi bukannya bisa, malah tambah salah yang dibaca. Rasanya gak enak, jadi pasti Aira juga ngerasa gak enak.

Untungnya saya memang orang yang selalu merasa gak perlu untuk ngikutin anak les baca. Aira pun akhirnya nggak belajar membaca sepanjang TK A itu. Hanya saja saya memang selalu membelikan buku cerita dan membacakan untuk Aira. Saya lebih sering membelikan Aira buku cerita dibanding mainan. Jalan-jalan ke toko buku selalu jadi salah satu rekreasi kami. Saya ‘pelit’ membelikan mainan (bukannya gak dibelikan sama sekali, lho), tapi nggak begitu soal buku. Waktu itu saya nggak mencari tahu lebih banyak soal mengajari anak membaca, saya hanya keukeuh soal gak ikut les baca di kala teman-teman di sekolahnya diikutkan les membaca oleh orangtuanya.

Nah, di kelas TK B akhir di sekolah Aira mulai diberi pengenalan membaca, untuk persiapan masuk SD, pertimbangannya sekolah nggak bisa tutup mata soal banyaknya SD yang menuntut anak sudah bisa membaca ketika masuk SD. Dibanding teman-temannya, apalagi yang ikut les membaca, Aira memang termasuk yang ketinggalan soal bisa membaca. Tapi saya yakin anak pasti bisa membaca, kok, jadi saya gak terlalu khawatir. Di kelas tiap anak punya daftar buku yang sudah dibaca, dipasang di dinding. Yang sudah lancar membaca pasti panjang daftar buku di daftarnya. Punya Aira sampai mendekati akhir tahun ajaran masih pendek, hanya beberapa judul buku. Ya, sudahlah, ya, memang masih belajar, kok, anaknya.

Lalu, entah mulai kapan, Aira bisa membaca. Anak ini memang autopilot. Di SD Aira gak mengalami kesulitan sama sekali. Nilainya bagus. Saya gak perlu men-drill atau dikte soal-soal ketika ia mau ulangan, Aira baca sendiri bahan-bahannya di buku. Tidak ada pressure ketika belajar, tambah tinggi tingkat kelasnya, tambah baik nilai Aira. Aira suka membaca, ini yang memudahkan dia dalam belajar. Dia nggak keberatan atau kesulitan ketika membaca buku cetak atau catatan, atau mengerjakan tugas.

Ya, anak saya ini, yang ketinggalan belajar membacanya dibanding anak lain, suka membaca. Suka sekali. Mulai dari buku cerita anak-anak yang tipis, diikuti dengan novel-novel fairy bahasa Inggris yang juga tipis dan mudah bahasanya, terus tambah tebal, dan terus tambah kompleks kosakata serta ceritanya. Dan Aira itu rapid reader, dia bisa membaca dengan cepat, paham isi bacaannya. Dari buku-buku bahasa Inggris ini juga Aira jadi mudah sekali belajar bahasa Inggris.

Sekarang ini Aira nggak nyaman membaca buku terjemahan. Maksudnya, jika penulis buku itu memang orang Indonesia, maka buku bahasa Indonesia, ya, nggak apa-apa, tapi jika aslinya bahasa Inggris, dia lebih senang membaca versi aslinya dibanding terjemahan. Harry Potter paling tebal dalam bahasa Inggris bisa selesai dibaca dalam 3-4 hari. Kalau lihat tebalnya buku bacaan Aira rasanya sudah pusing duluan. Ensiklopedia anak-anak dan umum juga dia baca, begitu juga buku-buku National Geographic. Beli buku di Periplus, belum sampai rumah sudah habis dibaca setengahnya. Untungnya dia suka membaca ulang buku-bukunya. Untuk mensiasati, perpustakaan jadi alternatif yang tepat untuk memenuhi reading-appetite Aira. Sementara saya dan si ayah bahagia luar biasa melihat si Little Ace dengan buku-bukunya.

Jika dilihat, saya tidak menyamaratakan, ya. Beberapa temannya yang dulu lebih dulu bisa baca atau yang diikutkan les membaca, tidak sampai seperti Aira kesenangannya dalam membaca. Ada satu yang malah tidak senang membaca dan ibunya selalu kesulitan mempersiapkan si anak ketika mau ulangan. Jadi, kesimpulan sementara saya, lebih dini anak bisa membaca nggak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan mereka. Saya merasa membuat keputusan yang tepat untuk gak memaksa Aira belajar membaca. Walaupun memang tidak disengaja, sepertinya stimulus yang diberikan ke Aira melalui buku-buku pada waktu itu cukup tepat.

Memang kemudian setelah saya banyak diskusi dan mendengar dari yang ahli soal perkembangan anak, mengajari anak membaca itu nggak salah, yang penting caranya sesuai, dan masa peka anak sudah muncul. Tentunya si masa peka ini bisa distimulasi agar muncul, lagi-lagi caranya harus sesuai. Jika masa peka sudah muncul, maka belajar membaca bagi anak adalah hal yang mudah karena si anak memang sudah siap. Ini kemudian saya buktikan pada Aidan. Nanti akan saya share di artikel terpisah mengenai Aidan yang ternyata lebih cepat proses belajar membacanya, ya!

Share this story:

Recommended for you:

19 thoughts on “Kapan Mulai Ajari Anak Membaca?

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: lita iqtianti
  3. Pingback: BundaZaki
  4. Pingback: echie eshan
  5. Pingback: Tricia Agustina
  6. Pingback: widhi
  7. Pingback: Yumala Aprilia
  8. Pingback: Sazkia Ghazi
  9. Setuju banget sama sharingnya, Mbak. Sy sudah 5 thn ini ngajar SD kelas 6 yg ikut UN. Kesulitan yg dihadapi murid-murid sy saat ngerjain soal2 bahasa indonesia adlh dlm membaca. Mereka tuh kebanyakan malas baca soal. Apalagi soal yg berbentuk teks atau narasi. Jd soal2 dibaca sepintas aja. Bagaimana mau mencari pokok pikiran, ide, atau gagasan dalam teks/narasi kl bacanya aja hanya sekedarnya. Belum lagi perbendaharaan kata2 yg kurang banyak. Jadi suka kesulitan kalo diminta mencari sinonim, antonim, atau mengartikan suatu kata dalam puisi. Dan itu sudah jadi gejala umum. Nggak heran, kl nilai UN bahasa Indonesia, baik tingkat SD sampai SMU paling kecil dibandingkan pelajaran lain. Saya sering tanya sama anak2 (murid), ternyata memang mereka ngga suka (ngga sering) baca buku. Jadi memang gemar baca buku itu penting banget ditumbuhkan sama anak2 kita

  10. Kalo huruf, sudah mengenalkan sih, tapi memang pure sambil main dan nggak dipaksain. Nah, kemudian, karena memang sama kaya Puan, lebih senang beliin buku, makanya Langit juga lebih akrab sama buku. Akhir-akhir ini Langit punya cita-cita mau jadi detektif, kata bapaknya, kalau mau jadi detektif harus bisa baca, haha. Makanya dia lagi rajin mau belajar baca, hehehe..

  11. Pingback: Puan Dinar
  12. Pingback: isyana n rachmat
  13. Waktu ngeliat kurikulum disini (Switzerland) untuk anak Kindergarten (4-6 tahun) gak ada materi membaca. Mereka fokus pada pengembangan karakter dan kreatifitas sprti dongeng, liat2 buku cerita, nyanyi, nari, mewarnai, buat prakarya, sport, jelajah alam, dll.
    Sebagai orang tua kita memang harus jeli melihat kondisi anak dan menstimulasinya dalam porsi yg sesuai.
    TFS

  14. Pingback: Leli Nurlaili
  15. Ah lega banget baca artikel ini,anak saya hampir 5 tahun belum bisa membaca meskipun sudah hafal sebagian besar alfabet. Anak2 lain di sekolahnya kebanyakan lebih advance dalam hal membaca. Tapi anakku punya keterampillan lebih di bidang lain. Emang harus sabar dan gak maksa ya, bener2 sama kyk pengalamanku, gag sabaran dan panikan hehe nice sharing mom

Leave a Reply