It’s (Not) Hard to Say Good Bye

Salah satu hal yang amat saya syukuri (dan saya banggakan!) tentang Sophie adalah sikapnya yang amat manis setiap kali saya berangkat ke Surabaya. Sejak awal pisahan sampai sekarang ini, lebih dari setahun lamanya, Sophie tidak pernah menangis heboh, marah-marah, atau apapun pelampiasan rasa kecewa lainnya. Sophie konsisten dengan selalu menyodorkan tangan untuk salam, pasang pipi untuk dicium lalu dadah-dadah ke arah saya. Sophie juga tidak pernah rewel ketika harus berpisah dengan suami untuk beberapa hari. Memang, sih, biasanya suami berangkat ketika Sophie sedang tidur. Ketika bangun, Sophie biasanya menanyakan di mana Papanya, tapi tidak pernah nangis-nangis mencarinya.

Sikap yang manis ketika harus berpisah ini bukanlah sesuatu yang instan. Sejak kami sepakat bahwa saya di Surabaya dan Sophie di Purwokerto, kami mulai menyiapkan Sophie untuk perpisahan tersebut. Kami merasa perlu untuk menyiapkan Sophie karena bagaimanapun juga berpisah dengan anak itu sudah berat, yang pastinya akan tambah berat ketika si anak menangis tidak mengikhlaskan kepergian mamanya.

Saya dan suami percaya bahwa apa yang dirasakan dan dilakukan orang tua akan memengaruhi anak. Dan itulah yang kami lakukan selama ini. Saya yakin bahwa Sophie berada dalam pengasuhan yang baik, di lingkungan yang aman, beraktivitas seru bersama teman-temannya dan tercukupi semua yang dibutuhkannya. Suami yakin bisa mengasuh Sophie (dengan bantuan TPA) dan memenuhi semua kebutuhan mereka berdua saat saya di Surabaya. Intinya, kami berdua berusaha untuk yakin dan ikhlas dengan apa yang kami jalani. Dan keikhlasan itu yang dirasakan Sophie, yang kemudian dimanifestasikannya dalam sikap yang manis saat perpisahan itu tiba.

Selanjutnya, kami menerjemahkan keikhlasan itu sebagai keceriaan. Saya harus terlihat ceria. Saya berusaha untuk meniadakan drama-drama negatif setiap kali menjelang keberangkatan saya. Satu-satunya drama yang saya mainkan adalah drama bahagia. Banyak senyum, pasang wajah ceria. Pokoknya saya harus (terlihat) happy ketika berangkat, walaupun hati saya pengennya, ya, di rumah saja kruntelan bertiga.

Lalu, kami percaya bahwa yang namanya kasih sayang, perhatian, apa pun diksinya, itu adalah sesuatu yang rechargeable. Oh, maafkan bahasa ngawur saya. Yang ingin saya sampaikan adalah, kami berusaha untuk total dalam urusan sayang-sayangan sama Sophie ketika ada kesempatan bersama. Bermain setotal mungkin ketika bersamanya. Kami berusaha untuk mengondisikan agar Sophie tahu bahwa dia disayang, amat sangat disayangi, oleh orangtuanya. Saya pernah membaca dulu, entah di mana saya sudah lupa, bahwa anak yang kuat konsep dirinya akan tumbuh menjadi anak PD yang secure dengan dirinya sendiri, meskipun tidak sedang didampingi orang tuanya. Nah, kami berusaha (dan berdoa) agar Sophie jadi anak PD seperti itu.

Komunikasi jelas penting, ya. Walaupun Sophie masih belum paham konsep hari, saya selalu mengatakan dengan jelas (dan diulang-ulang layaknya kaset rusak) kapan saya akan berangkat ke Surabaya dan kapan saya akan pulang nanti. Nah, di sini kesungguh-sungguhan adalah modal utama saya untuk mendapatkan kepercayaan Sophie. Jangan sampai berbohonglah singkatnya. Kalau saya sudah bilang akan pulang Sabtu pagi, ya, sebisa mungkin saya akan pulang pada hari itu. Bila memang ada halangan, ya,  harus dikomunikasikan dengan baik. Saya percaya bahwa anak-anak itu pintar. Mereka bisa menangkap kesungguhan kita.

Kemudian, saya suka membicarakan tentang highlight kejadian menyenangkan selama kami tidak bersama. Intinya adalah saya encourage Sophie bahwa dia (dan saya juga) akan menjalani hari-hari yang menyenangkan seminggu ke depan. Jadi ada yang bisa ditunggu-tunggunya. Apa pun bisa saya jadikan highlight, mulai dari mau renang bersama teman-teman sekolahnya, Minggu nanti ke Rumah Budhe di Jogja naik kereta api, membeli baling-baling  dengan Papa, sampai pulang sekolah diantar oleh Bu Yani, guru favoritnya. Saya juga akan bercerita padanya kalau selama di Surabaya saya sekolah, dan saya sekolahnya pintar.

Kebetulan di linimasa twitter saya, Bu @annieperbowo, psikolog  anak, membagi kiat tentang bagaimana seharusnya “meninggalkan” anak, supaya semua pihak merasa nyaman. Saya bagi di sini, ya, siapa tahu ada yang tidak follow beliau:

  1. Pastikan ada pengganti orangtua yang dipercaya bisa handle anak, walaupun tidak mudah, ibu perlu percaya anak di handle orang lain
  2. Katakan “IBU KERJA DULU” (sugesti positif), hindari kata “PERGI”
  3. Katakan “Kalau Ibu PULANG kita MAIN” agar yang diingat anak adalah PULANGnya.
  4. Setelah ibu pamit, JANGAN MENOLEH lagi pada anak. Yang tegar, ya, Bu
  5. Setelah ibu pamit, pengganti ibu ALIHKAN anak dari Ibunya
  6. Setelah ibu pamit,pengganti ibu perlu KREATIF isi waktu anak
  7. Pelajaran positif saling lepaskan ketergantungan, bila tahap ini ibu dan anak lulus, anak akan mandiri saat harus sekolah

Tapi namanya juga anak, ya, Sophie tetap saja menunjukkan bahwa dia kehilangan saya. Biasanya malam pertama pas saya berangkat Sophie tidurnya tidak nyenyak, minum susunya juga lebih banyak dari biasanya. Pagi harinya Sophie juga lebih rewel saat bangun tidur. Tapi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Saya percaya suami bisa menanganinya dengan baik. Amin.


8 Comments - Write a Comment

  1. Gue selalu suka baca artikel Mba Tanti, ngga tau kenapa tapi bahasanya indah;’) Pas banget nih, gue lagi men training si Mba yang akan jagain Tara selama gue kerja (bukan Pergi). Dalam hati masih sering was was dan nggak rela si kecil hanya ditinggal berdua sama si Mba. Tapi begitu gue baca artikel ini, langsung bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu sama Tara, dibandingkan Mba Tanti. Sabar ya, Mba. Semua akan indah pada waktunya *hugs*

  2. Pas banget nih mba kejadiannya sama saya :D saya baru aja nih mulai kerja di cibitung,bekasi sementara suami sama abe (3,5taun), anak saya, masih di bandung karena saya masih penyesuaian dulu. Sedih sih pas dianter pertama kali kesana terus mereka pada pulang tapi abe-nya biasa aja gitu pas mau pergi, dia dadah2 gitu sambil senyum senyum. Malem2 pun dia cuman nanyain aja bunda kemana, terus dijawab kerja nya nginep, udah deh, dia tidur aja gitu. Parahnya lagi, tadi pas saya nelepon, dia santai aja gitu, nanya nya cuman minta oleh2 aja klo bundanya pulang, udah gitu dia maen lagi. Haduuuh *tepokjidat. Inimalah bundanya yang mellow dua hari belom liat anaknya. Anaknya selow aja :(

  3. Hi Mba Tanti…. I’ve been there before. Selama hampir 2 tahun usianya, saya dan anak saya tinggal terpisah. Saya di Jakarta dan Anak saya bersama neneknya di Lembang, Bandung. Saya biasa pulang seminggu sekali..tapi kalau sedang tidak bisa…ya 2 minggu sekali. Dan, iya saya juga melakukan apa yang disarankan… seiap kali harus berpisah saya selalu pasang tampang ceria, dan selalu positif bilang “I’ll see you next friday”…lalu ketika sudah dadah-dadah..saya pantang balik badan lagi, selain biar anaknya ga bingung…saya juga takut saya ga bisa menahan diri untuk tidak menangis :D.
    Well..Alhamdulillah sekarang sih kami sudah berkumpul…tapi perjuangan itu tidak akan pernah terlupakan :). Semangat ya Mbaaa….*hug*

Post Comment