Aleisha’s Gentle Birth Story

“Gimana rasanya mau lahiran? Deg-degan nggak?” tanya seorang sahabat.
Saya langsung mikir. Perasaan, kok, biasa-biasa saja, ya :D Malah saya sebal karena disuruh cuti cepat. HPL (Hari Perkiraan Lahir) dari dokter 14 Juni 2012. Dan tanggal 4 sudah disuruh cuti dari kantor.

“Bapak (bos saya) nggak mau ditegur Depnaker. Dulu di Sukabumi pernah gitu. Lagian … enak kali cuti. Di kantor bikin stres,” ujar teman yang sedang hamil juga. Beda tiga minggu. Harusnya duluan saya. Tapi, lha, dalah … malah dia melahirkan lebih dulu karena ketubannya habis. Dan saya sampai tanggal 14 masih adem ayem. Relaksasi, ajak ngomong bayi, plus makan duren sampai habis dua glundungan pun saya jabanin. Boro-boro mulas. Perut makin peyang-peyang karena gerakannya makin aktif. Berarti, kan, belum masuk panggul.

15 Juni 2012 – 40w1d
Pukul 09.30, saya meluncur ke rumah Mbak Yuli (bidan saya) naik motor. Wuih, masih perkasa saja. Jadwalnya, sih, mau relaksasi bareng. Tapi sampai di sana, pasien yang satu lagi belum datang. Akhirnya saya relaksasi sendiri bareng Mbak Yuli. Memusatkan pikiran ke sulung dan mengajaknya masuk panggul. Iringan musiknya gemericik air. Jadi berkhayal ingin lahiran di alam terbuka yang ada air terjunnya. Airnya jernih. Udaranya segar. Dikelilingi kupu-kupu dan burung kolibri mungil nan cantik. Aduh romantisnya. Lho, kok, romantis? Hehehe ….
Kali ini relaksasinya cukup lama. Dimulai pukul sepuluh dan berakhir usai salat Jumat. Wuih … damai benar kalau sudah mengajak bicara si sulung. Berasa banget gerakannya turun ke panggul. Usai relaksasi, Mbak Yuli periksa posisi sulung.
“Sudah masuk panggul. Tapi masih bisa goyang.”

16 Juni 2012 – 01.00 dini hari
Aduh, kok, mules, ya. Ingin BAB. Langsung, deh, ke kamar mandi. Anehnya habis BAB kok mulesnya nggak hilang. Kontraksi bukan, ya ? Saya ragu. Yo wis, tidur lagi. Setengah jam kemudian, mau BAB lagi. Masih mulas juga.
“Kak … Ka ….” saya menggoyang-goyang suami.
“Apa?” jawabnya sambil merem.
“Mulas,” lapor saya.
“Mulas kenapa?” Masih belum melek.
“Nggak tahu. Mau BAB mulu.”
“Ya, sudah tidur lagi saja.”
Dan suaranya tak terdengar lagi. Aaarrrggghhh … gue gigit juga punya suami begini. Hah! Kesel! Tidur lagilah. Pas pukul tiga, saya coba usap miss V dengan tisu. What? Ada darah! Tapi saya tetap tenang.
“Kak, berdarah,” kata saya pelan.
“Hah? Berdarah? Ayo ke bidan!”
Huuu … baru, deh, melek. Sekali melek, panik.
“Nantilah. Tidur dulu,” Saya menarik selimut.
“Benar nggak apa-apa?”
“Nggak,” jawab saya cuek. Eh, kok suami malah ikutan tidur lagi *tepok jidat. Rasanya bukan cuma mau gigit. Tapi mencabik-cabik.

16 Juni, 06.30

“Diperiksa yuk, Mbak,” kata Mbak Yuli. Waduh diperiksa pas lagi sendiri. Suami pulang jemput Mama. Dan saya agak parno dengan VT alias pemeriksaan dalam.

“Wah, udah pembukaan tiga. Kepala juga sudah kepegang. Mudah-mudahan jam sepuluh bisa lahir,” kata Mbak Yuli usai pemeriksaan.

Hah? Jam sepuluh? Semoga bisa.

12.00

Pembukaan lima. Ternyata perkiraan Mbak Yuli meleset. Saya kembali duduk di pelving rock. Mbak Yuli memberikan endorphin massage. Ketika kontraksi menghebat, saya diminta bergoyang dengan lebih cepat dan kencang. Pembukaan lima masih bisa becanda dong, ah. Senyum masih lebar.

15.30

“Sudah pembukaan lengkap, nih,” kata Mbak Yuli. “Tinggal tunggu kebelet BAB, ya.”

“Kok ketubannya nggak pecah, Mbak?” tanya saya heran.

“Nanti bareng sama bayinya,” jawab Mbak Yuli.

Oke, baiklah. Berarti menunggu kebelet BAB. Ya, sudah saya tiduran saja. Ah, tapi enggak enak. Ganti posisi duduk. Nggak nyaman. Turun dari kasur. Jongkok. Cuma bertahan sebentar. Tengkurap saja, deh. Hehehe … yang terakhir bohong.

16.00

“Belajar mengejan dulu, yuk. Siapa tahu nanti butuh bantuan mengejan,” ajak Mbak Yuli. “Kalau kontraksi datang, tarik napas. Lalu arahkan ke perut.”

Hmmm …. Bila membaca pengalaman mereka yang water birth, kebanyakan lahir tanpa mengejan. Tapi mungkin kasur birth harus pakai mengejan kali, ya. Baiklah. Mari belajar mengejan.

“Kepala bayinya siap keluar. Tapi sepertinya perlu dibantu ibunya sedikit.”

Dan mengejanlah saya. “Eeeggggg….”

Haduh! Susah, ya, ternyata. Saya tetap melanjutkan mengejan. Lama-kelamaan saya tidak kuat mengejan karena mengantuk. Juederrr … mau lahiran masih sempat-sempatnya ngantuk? Pelor banget, ya *ihik*.

“Ya sudah. Nyemplung air saja, ya.” Mbak Yuli langsung menyiapkan kolam dan air hangat.

Saya agak sedikit khawatir dengan water birth. Pernah saya bilang kan kalau suami kurang setuju. Kalau saya masuk ke air tanpa ridho suami, waduh takut kenapa-kenapa. Saya pun meminta persetujuannya.

“Boleh nggak masuk air?”

“Boleh. Tapi nanti kalau kepala sudah keluar, naik, ya?” jawab si doi.

What? Kepala sudah keluar disuruh naik? Ngawur opo ngawur? Langsung terbayang kepala bayi kontal-kantil mentas dari air. Terus memangnya bisa jalan ada kepala di selangkangan. Kasih izin, kok, setengah-setengah. Yo wis, nggak usah masuk air. Daripada nanti si sulung mbrojot di lantai pas naik ke kasur. Saya panggil Mbak Yuli. Mencoba kasur birth lagi. Sayangnya, saya masih tidak kuat mengejan. Setiap kontraksi hilang, rasanya ingin tidur. Dasar pelor!

18.10

Tiba-tiba adzan Maghrib berkumandang. Saya minta suami untuk salat. Begitu suami salat, saya merasakan sensasi yang begitu kuat. Hasrat seperti nahan BAB, tapi nggak kuat nahan lagi. Saya langsung mendorongnya. Nggak peduli yang keluar BAB atau si sulung. Ternyata …

“Kepala! Kepala!”

Mbak Yuli meminta Mama mendudukkan saya. Saat bagian belakang tubuh menyentuh dasar kolam, tubuh sulung meluncur dengan indahnya. Ketuban masih utuh membungkus tubuh mungilnya. Sesaat kemudian, ketuban pecah oleh gerakan sulung entah menendang atau meninju. Sulung ditangkap Mbak Yuli dan diberikan kepada saya untuk IMD.

Ah, ternyata sulung memilih 27 Rajab sebagai tanggal lahirnya. Bila dilihat dari penanggalan Islam. Tepat ketika Isra’ Mi’raj. Dan dia lahir saat ayahnya salat karena nggak mau ditungguin. Sulung, kan, maunya water birth, Yanda. Gara-gara nggak boleh, lama, kan, lahirnya *hehehe just kidding. Sulung lahir pas ayahnya salat biar didoakan jadi anak solehah. Amiin.

Saya baru tahu kenapa harus mengejan. Posisi rahim saya agak retro. Sehingga sulung membutuhkan banyak waktu untuk bermanuver agar bisa keluar. Proses manuver itulah yang membuat saya mendapatkan dua jahitan bonus satu. Seperti belanja di swalayan, ya, beli dua gratis satu. Hehe. Dan dijahit lebih sakit dari pada melahirkan.

Bila mengingat kelahiran sulung, rasa syukur saya semakin bertambah. Alhamdulillah … Allah memberikan kesempatan untuk melahirkan dengan gentle. Tanpa induksi, tanpa episiotomi, dan tanpa intervensi medis yang tidak perlu. Bahkan sulung diberi kesempatan menjadi bayi istimewa karena lahir dengan selaput ketuban yang masih utuh atau istilahnya bayi bungkus (bayi sarung).

 

 

 


25 Comments - Write a Comment

Post Comment